Fala-Gaku Menyalakan Literasi dari Pelosok Bumi Saruma
Fala-Gaku Menyalakan Literasi dari Pelosok Bumi Saruma


HALMAHERA SELATAN, BANDUNGPOS--Di tengah keterbatasan akses pendidikan dan minimnya fasilitas literasi di wilayah pelosok, Perpustakaan Fala-Gaku hadir sebagai cahaya harapan bagi generasi di Desa Bobo, Kecamatan Mandioli Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Berangkat dari desa yang jauh dari keramaian-pikuk kota, Fala-Gaku menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak boleh hanya berpusat pada perkotaan, tetapi harus dimulai dari desa-desa yang selama ini terpinggirkan.
Mengusung semangat “Menyalakan Literasi dari Pelosok Bumi Saruma”, Fala-Gaku tidak sekedar menjadi tempat penyimpanan buku, melainkan ruang hidup bagi tumbuhnya kesadaran, daya kritis, dan mimpi anak-anak desa. Melalui berbagai kegiatan seperti membaca bersama, pendampingan belajar, diskusi edukatif, hingga penguatan literasi digital, Fala-Gaku berupaya membumikan literasi agar benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pendiri Perpustakaan Fala-Gaku, Asri S. Gosora, menegaskan bahwa gerakan literasi ini lahir dari kegelisahan melihat anak-anak desa yang minim akses membaca.
“Katorang memulai Fala-Gaku dari desa pelosok di Bumi Saruma karena katorang percaya, perubahan besar bangsa ini harus dimulai dari desa. Literasi bukan milik kota, literasi adalah hak semua anak negeri,” ujar Asri.
Anak-anak di Desa Bobo yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses membaca kini mulai akrab dengan buku. Mereka tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga belajar memahami dunia, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta membangun kepercayaan diri untuk bercita-cita lebih tinggi.
Bagi masyarakat, Perpustakaan Fala-Gaku menjadi ruang belajar bersama—tempat bertukar pengetahuan, pengalaman, dan harapan akan masa depan generasi yang lebih baik.
Asri S. Gosora juga menambahkan bahwa Fala-Gaku bukan sekedar program jangka pendek, melainkan gerakan sosial yang tumbuh bersama masyarakat desa.
“Selama masih ada anak-anak di desa yang haus akan pengetahuan, Fala-Gaku akan tetap berdiri dan menghidupkan literasi. Ini bukan tentang katorang, tapi tentang masa depan generasi Bumi Saruma,” tegasnya.
Di Desa Bobo, Fala-Gaku berdiri sebagai simbol perlawanan yang hening terhadap ketimpangan akses pendidikan yang masih dirasakan masyarakat pelosok. Dengan keterbatasan sarana dan dukungan, perpustakaan ini terus bergerak berkat semangat gotong royong, keterlibatan relawan, serta dukungan masyarakat yang percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil.
Ke depan, Perpustakaan Fala-Gaku berkomitmen untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta komunitas pegiat literasi lainnya. Harapannya, api literasi yang dinyalakan dari Desa Bobo, Kecamatan Mandioli Utara, dapat menjalar lebih luas hingga ke seluruh wilayah Halmahera Selatan dan Maluku Utara.
Dari pelosok Bumi Saruma, Fala-Gaku terus menyalakan literasi—karena masa depan bangsa ditentukan oleh sejauh mana pengetahuan dapat diakses oleh seluruh anak negeri, tanpa kecuali.**( pm/BNN)





