Bukan Sekadar Magang, Mahasiswa di PPID Setwan Jabar Belajar Melayani Informasi Publik
Bukan Sekadar Magang,

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id– Program magang di Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal secara langsung lingkungan kerja pemerintahan, termasuk proses pelayanan dan pengelolaan informasi publik.
Sejumlah mahasiswa yang ditempatkan di PPID Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat, yang dalam kegiatan internal menggunakan sebutan “Young Talent PPID”, turut dilibatkan dalam berbagai aktivitas pendukung pelayanan informasi publik. Mulai dari media monitoring, penyusunan agenda kegiatan, dokumentasi dan laporan penerimaan tamu, notulensi, pengelolaan data layanan, hingga membantu proses permohonan informasi.
Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman yang lebih luas dibandingkan pembelajaran di ruang kuliah. Mahasiswa tidak hanya melihat bagaimana sebuah informasi disampaikan kepada masyarakat, tetapi juga memahami bahwa di balik setiap informasi terdapat proses pencatatan, verifikasi, koordinasi, serta tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diberikan akurat dan sesuai ketentuan.
Mengenal Pelayanan Publik dari Dekat
Bagi Marzatus Safirah, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Edukasi, President University, pengalaman magang memberikan gambaran langsung mengenai pelayanan publik dari sisi yang sebelumnya belum banyak ia temui di lingkungan akademik.
Salah satu kegiatan yang cukup sering dilakukannya adalah menerima dan menyambut tamu, mencatat data kunjungan, serta menyusun laporan kegiatan.
“Yang saya pelajari adalah betapa pentingnya bahasa tubuh dan tata bicara kita dalam berkomunikasi dengan masyarakat dan rekan kerja,” ujar Safirah.
Selama magang, Safirah juga memperoleh kesempatan berinteraksi dengan tamu dari berbagai daerah serta melihat secara langsung beberapa kegiatan kedewanan.
“Saya mendapat kesempatan menyambut dan berbincang dengan pejabat-pejabat yang datang dari luar Jawa Barat. Saya juga berkesempatan melihat secara langsung proses rapat komisi dan rapat paripurna di DPRD Provinsi Jawa Barat,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bagaimana pelayanan publik dan proses birokrasi berjalan dari dalam lingkungan pemerintahan.
Keterbukaan Informasi Tidak Berarti Membuka Semuanya
Pengalaman berbeda dirasakan Erika Nuraeni, mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis, International Women University.
Sebelum mengikuti magang, Erika membayangkan PPID lebih banyak berkaitan dengan pekerjaan administratif dan pengarsipan. Setelah terlibat langsung, pandangannya berubah.
“Ternyata alur kerja PPID sangat dinamis dan proaktif. PPID menjadi jembatan antara lembaga dengan publik. Saya juga baru memahami bahwa keterbukaan informasi bukan sekadar membuka semua data tanpa batas, tetapi ada keseimbangan antara hak masyarakat untuk tahu dengan perlindungan terhadap informasi tertentu,” jelas Erika.
Menurutnya, ketelitian menjadi bagian penting dalam pengelolaan informasi karena setiap informasi yang disampaikan kepada publik harus dapat dipertanggungjawabkan.
Selama magang, Erika banyak terlibat dalam rekapitulasi layanan informasi dan media monitoring. Aktivitas tersebut membuatnya melihat perbedaan antara informasi yang berkembang cepat di media sosial dengan informasi resmi lembaga.
“Di media sosial, informasi sering dikemas lebih emosional atau hanya menonjolkan bagian tertentu. Sementara informasi resmi lembaga membutuhkan verifikasi, konteks, dan kelengkapan data sehingga dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Pengalaman tersebut juga mengubah persepsinya mengenai ritme kerja di lingkungan pemerintahan.
“Dulu saya berpikir birokrasi itu serba lambat dan kaku. Setelah melihat dari dekat, ternyata di PPID ritmenya cepat, harus tanggap terhadap respons publik, dan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital,” ujarnya.
Belajar Mendengar Masyarakat
Sementara itu, Tiara Eka Rabbania, mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis, International Women University, mendapatkan pengalaman yang berkesan ketika melihat secara langsung masyarakat menyampaikan aspirasi dan pengaduannya.
Bagi Tiara, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelayanan publik bukan hanya mengenai penyelesaian pekerjaan administratif.
“Saya belajar bahwa setiap orang memiliki permasalahan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Penting bagi kita untuk mendengarkan mereka dengan baik dan tidak langsung menghakimi,” ungkap Tiara.
Menurutnya, pengalaman tersebut menumbuhkan pemahaman bahwa pelayanan juga memerlukan empati, komunikasi, dan kemampuan untuk memahami kebutuhan masyarakat.
“Pelayanan publik bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga bagaimana kita memahami, menghargai, dan merespons kebutuhan masyarakat dengan baik,” tambahnya.
Tiara juga menilai bahwa setiap informasi dan pelayanan yang diberikan oleh lembaga memiliki keterkaitan dengan kepercayaan publik.
Gen Z dan Tantangan Informasi Digital
Kehadiran mahasiswa magang juga memberikan perspektif generasi muda terhadap cara pemerintah menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Mereka melihat bahwa generasi muda terbiasa memperoleh informasi dengan cepat melalui media sosial. Tantangannya adalah bagaimana lembaga pemerintah dapat menyampaikan substansi yang tetap akurat, tetapi dengan bahasa dan visual yang lebih mudah dipahami.
Erika mengusulkan penyajian informasi dalam bentuk “snack content”, yaitu informasi singkat yang dikemas melalui storytelling, visual, dan format interaktif.
Tiara melihat video pendek, infografis, serta konten tanya-jawab di Instagram maupun TikTok dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan informasi publik kepada generasi muda.
Sementara itu, Safirah menilai sosialisasi mengenai mekanisme memperoleh informasi melalui kanal resmi juga perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergantung pada informasi yang belum terverifikasi.
Perspektif tersebut menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran bersama. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman dari lingkungan pemerintahan, tetapi juga membawa cara pandang generasinya terhadap pola konsumsi informasi di ruang digital.
Magang sebagai Ruang Pembelajaran Dua Arah
Kegiatan magang pada PPID Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat menjadi ruang pembelajaran dua arah antara mahasiswa dan lingkungan kerja pemerintahan.
Mahasiswa memperoleh pengalaman mengenai tata kelola informasi, komunikasi, administrasi, pelayanan masyarakat, serta dinamika isu publik. Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa turut menghadirkan perspektif generasi muda terhadap pengembangan komunikasi dan layanan informasi publik.
Melalui pengalaman tersebut, kegiatan magang tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban akademik. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bahwa keterbukaan informasi publik membutuhkan akurasi, ketelitian, koordinasi, empati, dan tanggung jawab.
Bagi PPID Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat, keterlibatan mahasiswa magang diharapkan dapat terus menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama untuk menghadirkan layanan informasi publik yang semakin adaptif, informatif, responsif, dan dekat dengan masyarakat.**( Adem/BNN)





