Bandara YIA Megah, Kulon Progo Bertahan Melarat
Kulon Progo Hanya jadi jalur pesawat terbang, bukan muara. Kemiskinan Kulon Progo masih tertinggi di DIY.
Kulon Progo Hanya jadi jalur pesawat terbang, bukan muara. Kemiskinan Kulon Progo masih tertinggi di DIY. presentase rakyat miskin di Kulon Progo pada tahun 2024 adalah 15,62%. Bahkan angka ini lebih tinggi dari persentase nasional 9,03%. Sudah hampir 5 tahun YIA diresmikan. Lalu kapan Kulon Progo mentas?
KETIKA— dulu aktif dalam advokasi Tragedi Kecamatan Temon, narasi Kulon Progo jadi kaya raya adalah tandingannya. Bahkan menggunakan nubuat entah dari mana asalnya. Katanya, burung besi akan menguasai langit negeri Nyi Ageng Serang. Membawa kemakmuran. Kalau dibuat modern, namanya aerotropolis.
Apakah ramalan manis itu sudah terwujud? Belum! Apakah akan terwujud? Entahlah, tapi semakin terlihat mustahil.
Realisasi janji di atas kertas tidak juga menunjukkan hasil. Bahkan dengan pembangunan tol hari ini, ancaman ketimpangan malah semakin melebar. Kulon Progo tidak bisa menunggu. Kini dia melarat. Besok? Mungkin desas-desus.
Kulon Progo masih menyedihkan setelah janji aerotropolis
Saya masih geli mendengar janji aerotropolis. Sebuah konsep di mana bandara YIA akan menjadi titik nol pembangunan. Bandara internasional ini tentu mengundang investasi di sekitarnya. Nantinya, masuknya investor akan membangun sebuah kota baru. Tempat ekonomi berbasis bandara akan berkembang pesat.
Bagus sih ketika disuarakan. Apalagi dikemas menjadi konten romantisasi yang bau anyir itu. Tetapi sampai hari ini, aerotropolis belum menunjukkan tajinya.
Mimpi gedung-gedung pencakar langit tempat perputaran ekonomi masif hanya muncul di maket. Lalu muncul mimpi agro-aerotropolis. Memadukan mimpi kota bandara yang maju dan basis agraris Kulon Progo. Makin manis janjinya, makin sulit realisasinya. Yang tersisa hanyalah kemiskinan.
Bahkan angka kemiskinan Kulon Progo masih tertinggi di DIY. presentase rakyat miskin di Kulon Progo pada tahun 2024 adalah 15,62%. Bahkan angka ini lebih tinggi dari persentase nasional 9,03%. Sudah hampir 5 tahun YIA diresmikan. Lalu kapan Kulon Progo mentas?
Hanya jadi jalur, bukan muara
Pasti Anda penasaran: apa yang salah dengan Kulon Progo. Kalau mau jujur, konsep agro-aerotropolis saja sudah salah sejak dalam pikiran. Bagaimana mungkin menggabungkan konsep metropolitan dan masyarakat agraris tanpa “jembatan” yang jelas?
Misal, bagaimana melibatkan petani lokal sebagai suplier hotel mewah tanpa pendampingan, edukasi, dan modal? Akhirnya akan menyerah pada tengkulak pemegang modal. Segala penunjang pertanian modern perlu investasi besar. Bukan hanya menunggu mereka bangkit sendiri ketika Aerotropolis ini nyata.
Ini baru satu contoh saja. Tetapi mari tunda dulu untuk membodoh-bodohkan mimpi siang bolong tadi. Dan fokus pada masalah hari ini.
Masalah utama yang dialami Kulon Progo adalah konsentrasi perputaran ekonomi. Pembangunan YIA, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), sampai tol tidak akan menggerakkan ekonomi. Justru membuat Kulon Progo terjebak sebagai jalur. Hanya dilintasi modal besar yang masih diisap oleh daerah yang terus berkembang: Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.**






