Kolom Sosial Politik

“Alergi” Kue Gabus

28views

 

​Oleh: Budi Setiawan

​SAYA  tidak tahu harus tertawa atau mengelus dada saat membaca kabar viral dua aparat yang menciduk penjual es gabus karena dicurigai menjual makanan berbahaya. Di tengah hiruk-pikuk negara mengurusi korupsi triliunan atau judi online yang merajalela, entah bagaimana ceritanya, radar keamanan keduanya justru mendeteksi ancaman nasional pada sepotong tepung hunkwe berwarna merah-kuning-hijau.

​Sejujurnya, saya merasa ada yang salah dengan selera humor—atau mungkin selera jajan—dua aparat kita ini. ​Es gabus bagi generasi saya (dan mungkin Anda) adalah saksi bisu masa kecil yang penuh keringat di lapangan sekolah. Ia adalah kudapan yang sangat demokratis: murah, manis, dan punya tekstur unik yang membal-membal seperti spon cuci piring.

Tapi entah kenapa, bagi kacamata otoritas yang mungkin terlalu sering makan steak atau croissant di kafe ber-AC, eksistensi es gabus ini justru terlihat seperti “sampel laboratorium” yang mencurigakan. ​Saya gagal menangkap logikanya. Jika ada bandar narkoba yang berniat merusak bangsa lewat gerobak dorong, melayani pembeli bocah ingusan, dan membanderol dagangannya seharga dua ribu perak per potong, maka bandar tersebut jelas sedang mengalami krisis manajemen keuangan akut. Mana ada kriminal yang mau repot-repot mengaduk santan dan tepung di atas kompor berjam-jam hanya untuk untung recehan yang bahkan tidak cukup untuk bayar denda tilang?

​Tragedi “kriminalisasi” es gabus ini sebenarnya adalah potret nyata dari apa yang saya sebut sebagai Literacy Gap. Aparat kita seolah-olah mengalami amnesia budaya. Mereka lebih sigap mendeteksi potensi bahaya dari benda asing bertekstur aneh daripada memahami bahwa itu adalah bagian dari khazanah kuliner rakyat.

​Bayangkan jika logika ini diteruskan. Besok-besok, tukang es lilin bisa saja kena pasal kepemilikan senjata tajam karena bentuknya yang runcing dan keras kalau beku. Atau jangan-jangan, tukang klepon akan diinterogasi karena ada letupan cairan manis di dalam mulut yang dianggap sebagai serangan senjata kimia cair? Absurd, bukan?

​Ironinya, di saat kita berteriak-teriak soal “Bangga Buatan Indonesia”, eksekusi di lapangan justru sering kali mencekik kreativitas rakyat kecil. Menangkap penjual es gabus karena ketidaktahuan adalah bentuk kesombongan birokrasi yang paling lucu sekaligus menyedihkan. Ini menunjukkan bahwa mereka yang bertugas menjaga kita, terkadang sudah terlalu jauh jaraknya dari kehidupan asli di gang-gang sempit dan trotoar sekolah.

​Pesan saya sederhana: Bapak-bapak, sesekali tanggalkan seragammu itu, pakailah kaos oblong, lalu pergilah jajan di pinggir jalan. Rasakan sensasi es gabus yang lumer di lidah. Kalau hati Anda mendadak merasakan sensasi damai dan teringat masa kecil, itu tandanya Anda sedang makan jajanan legendaris, bukan sedang mengamankan barang bukti kejahatan.

​Sudahlah…jangan bikin hidup rakyat yang sudah pahit ini makin sulit dengan urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sekali gigit. Gitu aja kok repot!*

* Budi Setiawan adalah pemerhati sosial politik, alumnus FISIP Universitas Padjajaran Bandung.

Leave a Response