Lima Profesor Doktor Manajemen Unisba Edukasi Pengusaha Kuliner Paris, Perkuat Literasi Keuangan dan Ketahanan Bisnis

UPAYA memperluas kontribusi perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional terus dilakukan Universitas Islam Bandung (Unisba). Melalui Program Studi Doktor Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), lima profesor Unisba memberikan edukasi tentang penyusunan laporan keuangan kepada para pelaku usaha kuliner di Paris, Prancis, dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan secara virtual ini mengangkat tema “International Community Service: Enhancing Financial Reporting Capacity for Sushi Restaurant Owners in Paris to Foster Sustainable and Resilient Small Businesses.” Fokus utamanya adalah meningkatkan kompetensi pengusaha kuliner dalam mengelola dan menyusun laporan keuangan agar mampu membangun usaha yang lebih profesional, berkelanjutan, serta memiliki daya tahan menghadapi perubahan lingkungan bisnis.
Tim pengabdian melibatkan lima dosen homebase Program Studi Doktor Manajemen FEB Unisba, yakni Prof. Dr. Tasya Aspiranti, S.E., M.Si. sebagai Ketua Tim Pengabdian; Prof. Dr. Muhardi, S.E., M.Si.; Prof. Dr. Nunung Nurhayati, Ak., CA., CTT.; Prof. Dr. Sri Suwarsi; dan Prof. Dr. Ima Amaliah, S.E., M.Si.
Sebanyak 21 peserta turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pengusaha kuliner yang beraktivitas di Paris dan mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Unisba. Beberapa pelaku usaha yang mengikuti program ini di antaranya Raj MD, pemilik restoran Sushi MIKO di Paris, serta Fatharani, yang juga merupakan pelaku bisnis.
Laporan Keuangan Jadi Bekal Penting Pengusaha Kuliner
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menghadirkan sesi berbagi pengalaman dan pengetahuan (knowledge sharing) yang dipadukan dengan pelatihan interaktif. Peserta memperoleh materi mengenai teknik dasar penyusunan laporan keuangan, pencatatan transaksi usaha, pengelolaan arus kas, penghitungan pendapatan, serta pengendalian biaya operasional.
Materi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha kuliner yang setiap harinya berhadapan dengan berbagai aktivitas keuangan. Pengeluaran untuk pengadaan bahan baku, pengelolaan stok barang, pembayaran tenaga kerja, hingga kebutuhan operasional lainnya memerlukan pencatatan yang teratur agar kondisi keuangan restoran dapat diketahui secara jelas.
Melalui pembelajaran tersebut, pengusaha diharapkan mampu menyusun gambaran keuangan bisnis secara lebih terstruktur. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menilai kinerja usaha, mengetahui peluang penghematan biaya, serta merancang langkah pengembangan bisnis secara lebih terencana.
Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Tasya Aspiranti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata peran akademisi dalam menghadirkan solusi berbasis keilmuan bagi kebutuhan masyarakat. Pengetahuan manajemen dan akuntansi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas pengelolaan bisnis.
Menurut Tasya, kemampuan menyusun laporan keuangan tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan administratif semata. Bagi usaha kecil, keterampilan tersebut justru menjadi salah satu kebutuhan mendasar untuk mengukur pencapaian bisnis, mengendalikan pengeluaran, serta menentukan keputusan yang tepat di tengah persaingan dan ketidakpastian usaha.
“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional ini, kami ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman akademik yang dapat diaplikasikan secara langsung oleh para pelaku usaha kuliner. Kemampuan menyusun dan memahami laporan keuangan bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan merupakan instrumen penting untuk mengevaluasi kinerja, mengendalikan biaya, mengambil keputusan bisnis, dan menjaga keberlanjutan usaha,” ungkap Tasya Aspiranti.
Ia menambahkan, pengelolaan keuangan yang terencana merupakan salah satu faktor penentu dalam membangun ketahanan bisnis (business resilience). Dengan pengelolaan yang baik, pelaku usaha diharapkan lebih siap menghadapi perubahan pasar maupun berbagai persoalan yang muncul dalam kegiatan operasional.
Tasya juga berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kesadaran pengusaha kuliner di Paris mengenai pentingnya pencatatan dan pelaporan keuangan secara konsisten.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat praktis bagi para pengusaha kuliner di Paris, khususnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencatatan dan pelaporan keuangan yang sistematis. Dengan informasi keuangan yang baik, pelaku usaha memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan dan menghadapi berbagai tantangan usaha,” tambahnya.
Literasi Keuangan Mendukung Bisnis yang Berkelanjutan
Selain memberikan keterampilan teknis dalam penyusunan laporan keuangan, kegiatan ini juga memperkenalkan pentingnya hubungan antara manajemen keuangan, keberlanjutan bisnis (business sustainability), dan ketangguhan usaha (business resilience).
Di tengah persaingan industri kuliner, pengusaha perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai kondisi finansial bisnis sebelum menentukan kebijakan pengembangan. Penguasaan informasi keuangan membantu pemilik usaha mengambil keputusan berdasarkan kondisi usaha yang terukur, bukan sekadar perkiraan.
Laporan keuangan yang tersusun dengan baik dapat dimanfaatkan untuk menentukan harga jual, menghitung keuntungan, mengawasi biaya pengeluaran, serta memperkirakan kebutuhan modal kerja. Dengan fungsi tersebut, laporan keuangan menjadi instrumen pengelolaan yang mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan strategis.
Melalui kegiatan ini, para pelaku usaha kuliner di Paris diharapkan semakin memahami bahwa tata kelola keuangan profesional merupakan kebutuhan penting bagi setiap bisnis, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kegiatan PkM internasional ini juga memberikan ruang pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Unisba. Keterlibatan mereka menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan sekaligus memperoleh pengalaman berinteraksi dengan pelaku usaha yang menjalankan bisnis di luar negeri.
Melalui komunikasi dan diskusi bersama pengusaha kuliner di Paris, mahasiswa dapat melihat bagaimana teori dan konsep manajemen, khususnya manajemen keuangan, diterapkan dalam menghadapi persoalan bisnis sehari-hari.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif tambahan bagi mahasiswa dalam memahami praktik pengelolaan usaha di lingkungan internasional. Dengan demikian, proses pembelajaran doktoral tidak hanya berlangsung melalui kajian akademik, tetapi juga melalui keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Partisipasi mahasiswa ini sekaligus memperkuat keterpaduan tiga unsur Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perluas Kolaborasi Internasional melalui Tridarma Perguruan Tinggi
Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Paris menjadi bagian dari langkah Program Studi Doktor Manajemen FEB Unisba dalam memperkuat internasionalisasi Tridarma Perguruan Tinggi.
Pemanfaatan teknologi digital membuka kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk berbagi keahlian serta menjalin hubungan kolaboratif dengan masyarakat internasional. Melalui penyelenggaraan secara virtual, kegiatan akademik dapat menjangkau peserta di berbagai negara tanpa terkendala jarak geografis.
Program ini sekaligus memperlihatkan potensi kontribusi akademisi Indonesia dalam meningkatkan kapasitas masyarakat internasional melalui kompetensi di bidang manajemen dan akuntansi.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, kegiatan tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan tujuan ke-8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth).
Ke depan, pelaksanaan PkM internasional ini diharapkan dapat memperluas jejaring kemitraan Program Studi Doktor Manajemen FEB Unisba dengan berbagai pihak di luar negeri. Pengembangan kapasitas UMKM, penguatan manajemen keuangan, dan keberlanjutan bisnis menjadi bidang yang dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi tersebut.
Mengusung semangat “From Bandung to the World”, Program Studi Doktor Manajemen FEB Unisba berkomitmen memperluas peran akademisi dalam menghasilkan ilmu pengetahuan yang aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas, dan kerja sama lintas negara, perguruan tinggi Indonesia diharapkan dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan masyarakat global serta mendorong tumbuhnya usaha yang lebih tangguh dan berkelanjutan.(askur/nmn)***





