Dimulai dari Tudingan Pencurian Hingga Dua Nyawa Melayang,Tragedi Pasar Caringin Mengguncang
Dua Nyawa Melayang,

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id – Dua nyawa melayang, satu orang terluka. Sebuah tragedi kembali mencoreng ketenangan Pasar Caringin, Kota Bandung. Persoalan yang diduga berawal dari tudingan pencurian satu karung bawang merah berujung kekerasan bersenjata tajam (Sajam), hingga meminta korban jiwa.
Jauh sebelum tragedi itu terjadi, mediasi sudah disepakati dan akan dilakukan namun keributan berdarah, pecah. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 17.50 WIB, menewaskan Fikri Ramadhan di lokasi kejadian. Korban mengalami luka sabetan Sajam di sekujur tubuhnya.
Korban lainnya bernama Tisna, mengalami luka serius di kepala dan sekujur tubuhnya, meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara Agus Bedu mengalami luka, termasuk putus jari tangan, dan harus mendapatkan penanganan medis.
Ketiga korban tersebut merupakan warga di sekitar pasar, berpropesi sebagai kuli dan sesekali membantu parkiran kendaraan. Saat terjadi tragedi berdarah mereka tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
Bukan Perebutan Parkir, Mediasi Berujung Petaka
Pihak keamanan Pasar Caringin, Seno, menjelaskan bahwa konflik diduga berawal dari tudingan pencurian satu karung bawang merah di kios sayuran Blok H. Persoalan lama itu kembali mencuat lantaran salah satu pihak disebut tidak puas dengan hasil musyawarah.
“Sabtu sore itu sebenarnya sudah sepakat untuk dilakukan mediasi antara pihak yang dituding, pemilik barang, dan pihak yang menuding,” kata Seno di kantornya, Senin (26/10/2026).
Bahkan, lanjutnya, pihak kepolisian, Babinsa Kecamatan Babakan Ciparay, dan petugas keamanan pasar telah mengetahui akan ada rencana mediasi. Namun, keributan justru pecah menjelang waktu salat Magrib.
Seno pun membantah anggapan bahwa insiden tersebut dipicu perebutan lahan parkir. Ia menyebut konflik berkaitan dengan persoalan barang dagangan di antara para pekerja bongkar muat.
“Mereka yang bekerja ada yang bagian siang dan ada yang bagian malam. Korban sebenarnya tidak mengetahui persoalan itu secara utuh,” ujarnya.
Pengelola Akui jadi Tempat Cibiran
Di tengah duka dan sorotan publik, Badan Pengelola Pusat Perdagangan Caringin (BP3C), Aep Syarif Hidayat, mengakui peristiwa berdarah tersebut benar terjadi dan menjadi sorotan.
“Kami di sini digoreng terus, dicibir terus. Termasuk keributan berdarah itu hingga masalah sampah, tanpa henti,” tandas Aep Syarif.
Ditegaskan, pasar, terminal, dan dermaga atau pelabuhan merupakan kawasan dengan aktivitas tinggi yang berpotensi memunculkan konflik. Akan tetapi pandangan itu tidak menjelaskan fakta yang terjadi sebenarnya, apa penyebabnya, seperti peristiwa berdarah di Pasar Caringin ini.
“Begitu tragedi itu meletus, informasi melalui media sosial menyebar yang intinya menggoreng kami,” ucapnya.
Akan tetapi, paparnya lagi, ketika pengelolaan pasar di bawah kendali CEO Agung Suryamal telah memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi bagi masyarakat sekitar. Itu redup dan tak terdengar.
“Padahal warga di sekitar pasar banyak yang dipekerjakan. Ada sebagai pengawas lapangan, juru parkir, dan tenaga pendukung lainnya,” papar Aep.
Untuk itu Aep berharap, dengan adanya kejadian tersebut agar pihak kepolisian menindak tegas tanpa pandang bulu sesuai hukum yang berlaku.
“Semoga kejadian itu tak berulang.Jaga kondisifitas Pasar Caringin agar nyaman,aman,
tertib dan bersih”, harap Aep.
Juga kepada keluarga korban kami turut belasungkawa semoga diberikan ketabahan dan kesabaran.
Pengelolaan Sampah Gunakan Mesin Berteknologi
Pihaknya pun menyoroti terkait pengolahan sampah pasar menggunakan mesin berteknologi, untuk menghasilkan bahan yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk.
Menurutnya, permintaan hasil olahan sampah pasar Caringin dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal ini disebabkan kualitasnya dianggap oleh para pengguna baik.
“Dan kami kewalahan atas permintaan itu hingga harus menghentikan sementara sebagian pasokan kepada petani,” cetusnya.
Tempat Mengadu Nasib dengan Karakter Berbeda
Hal senada disampaikan Kepala Bagian Umum Pasar Induk Caringin, H. Encep Supita. Ia mengatakan bahwa pengelolaan pasar Caringin telah menjadi rujukan bagi sejumlah pasar di kota-kota besar, termasuk Jakarta.
“Pasar Caringin diminta memberikan solusi penanganan dan pengelolaan, mulai dari sampah hingga manajemen. Ini fakta yang tidak bisa dipungkiri,” kata Encep Supita.
Artinya, Caringin telah menjadi pilot projeck pasar yang dinilai berhasil melakukan pengelolaan dengan baik.
“Kalaupun ada gesekan dan terjadi keributan, ya itulah pasar. Karena di sini tempat berkumpulnya ratusan orang untuk mengadu nasib, yang memiliki ego masing masing dengan karakter yang berbeda,” pungkasnya. **( Adem/BNN)





