Kolom Sosial Politik

Sang Filsuf di Lingkaran Istana

31views

 

Oleh:  Ridhazia

KETIKA Rocky Gerung jadi Wantimpres memicu badai kekecewaan luar biasa dari publik. Sang Filsuf yang selama ini dielu-elukan sebagai “Panglima Akal Sehat” jadi sasaran amuk massa. Ekspresi amarah, sindiran tajam, hingga makian tertuju padanya.

Padahal kehadiran filsuf di lingkaran kekuasaan bukan sesuatu yang anomali, melainkan tradisi panjang yang telah membentuk jalannya peradaban. Bahkan memberikan asa baru di tengah pragmatisme politik.

Teori Plato

Mungkin Rocky Gerung sedang bereksperimen dengan pemikiran Plato dalam mahakaryanya, “Republik” yang berargumen bahwa negara hanya akan adil jika hadir seorang filsuf yang bijaksana.

Tapi apa yang terjadi. Plato saja gagal mempraktikkan teorinya. Malah penguasa muda Dionysius II mengurung sang filsuf. Untung saja ia tidak kehilangan nyawa setelah diizinkan kembali ke Athena.

Berbeda dengan filsuf Aristoteles. Ia menjadi guru pribadi bagi Alexander Agung pada tahun 343 SM atas permintaan Raja Philip II dari Makedonia Kekaisaran Makedonia.

Ia sukses mengubah mind set Alexander. Ketika sang kaisar ekspansi militer ke membawa misi peradaban (civilizing mission) yang kemudian dikenal sebagai era Helenisme.

Lain lagi dengan filsuf Stoik Lucius Annaeus Seneca. Ia dipanggil oleh Agrippina Muda ke istana
untuk menjadi guru bagi Nero yang berusia dua belas tahun. Tapi naas sang filsuf dipaksa bunuh diri oleh Kaisar Nero pada tahun 65 M karena dituduh terlibat dalam konspirasi politik.

Filsuf Era Kekaisaran Islam

Filsuf pada era keemasan kekaisaran Islam juga dekat dengan Istana.
Selain menjadi penasihat politik. Juga menjadi intelektual organik kerajaan.

Al-Kindi yang secara histori pernah berada di lingkaran istana Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (813–833 M),

Kedudukan Al-Kindi diperkuat pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mu’tasim (833–842 M) sebagai tutor pribadi Ahmad, putra dari Khalifah Al-Mu’tasim.

Lain lagi Ibnu Rusyd, filsuf besar dari Al-Andalus malah diangkat menjadi Hakim Agung di Sevilla dan Kordoba, serta dokter utama untuk Khalifah Abu Yaqub Yusuf di Maroko.

Filsuf lain yang pernah berada di lingkaran istana adalah Al-Ghazali. Ia pernah diangkat menjadi pengajar utama dan rektor di Baghdad atas dukungan perdana menteri Nizam al-Mulk dari Kekaisaran Seljuk.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response