
BOYOLALI, bandungpos.id — Limbah ternak di Desa Pokoh, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, mulai dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif melalui Program Biodigester. Program yang dilaksanakan bersama Gapoktan Dukuh Pokoh tersebut resmi ditutup dan diserahterimakan kepada masyarakat pada Jumat (6/2).
Program ini merupakan hasil kolaborasi Telkom University, PT Telkom Indonesia, pemerintah daerah, dan kelompok tani setempat. Pengembangan biodigester diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal berupa limbah ternak sekaligus menghadirkan sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Teknologi biodigester memungkinkan kotoran sapi diolah menjadi biogas yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga. Dari proses yang sama juga dihasilkan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Pemanfaatan tersebut menjadikan limbah peternakan tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.
Program Biodigester Desa Pokoh juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau melalui penggunaan biogas sebagai energi alternatif serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengelolaan limbah ternak yang berpotensi membantu menekan emisi gas rumah kaca.
Kegiatan penutupan program dihadiri Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Aditya Galuh Praksono, S.T., General Manager Witel Solo PT Telkom Indonesia Nanang Setyo Utomo, serta Asisten II Kabupaten Boyolali Gozali.
Hadir pula Senior Manager SDGs PT Telkom Indonesia Suleksono, Camat Musuk Ningmatuti, Kepala Desa Pokoh, serta akademisi dan peneliti dari Telkom University.
Dorong Desa Lebih Mandiri Energi
Ketua Tim Pelaksana Program, Prof. Dr. Ir. Jangkung Raharjo, M.T., menjelaskan bahwa pembangunan biodigester tidak hanya bertujuan mengurangi dampak limbah ternak terhadap lingkungan.
Lebih dari itu, program dirancang untuk meningkatkan kemandirian energi masyarakat desa dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan yang bersih, terjangkau, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Agar fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal, masyarakat tidak hanya menerima instalasi biodigester. Warga juga memperoleh pelatihan dan pendampingan mengenai cara pengoperasian serta perawatan fasilitas tersebut.
Pembekalan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola instalasi biogas secara mandiri sehingga keberlanjutan program tidak sepenuhnya bergantung pada pihak luar.
Ketua SDGs Center Telkom University, Dr. Runik Machfiroh, menyampaikan bahwa Telkom University berkomitmen mendorong inovasi teknologi tepat guna yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target SDGs.
Program biodigester menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi yang menghubungkan kepentingan lingkungan dengan kebutuhan energi masyarakat. Di sisi lain, PT Telkom Indonesia turut memperkuat dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan dan mitigasi perubahan iklim melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
Serah Terima Fasilitas dan Pengembangan Program
Setelah rangkaian laporan dan penyampaian program, kegiatan dilanjutkan dengan Penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara PT Telkom Indonesia dan Gapoktan Dukuh Pokoh.
Prosesi tersebut menjadi penanda bahwa fasilitas biodigester selanjutnya dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat penerima manfaat.
Agenda berikutnya adalah Penandatanganan Industrial Licensing antara Direktur Bandung Techno Park, Iwan Iwut, dengan Ketua Gapoktan Dukuh Pokoh.
Kegiatan juga ditandai dengan Peletakan Batu Pertama sebagai simbol keberlanjutan dan rencana pengembangan program biodigester pada masa mendatang.
Keberadaan biodigester di Desa Pokoh diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Selain menyediakan sumber energi alternatif, teknologi tersebut dapat membantu mengurangi persoalan limbah peternakan dan menghasilkan pupuk organik untuk mendukung sektor pertanian.
Jika dikelola secara konsisten, pemanfaatan biodigester juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Penghematan biaya energi, pemanfaatan pupuk organik, serta pengelolaan limbah secara produktif dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi desa.
Program tersebut sekaligus membuka peluang bagi Desa Pokoh untuk menjadi salah satu contoh pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat. Model serupa diharapkan dapat dikembangkan dan direplikasi di desa-desa lain di Jawa Tengah yang memiliki potensi peternakan dan kebutuhan energi lokal.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan teknologi tepat guna tidak berhenti sebagai pembangunan fasilitas, tetapi berkembang menjadi sistem yang memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.(ask)***





