Bandung Raya

FEB Unisba Bahas Strategi Pembiayaan Hijau dan Teknologi untuk Ekonomi Rendah Karbon

Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, dari akademisi, regulator, lembaga keuangan, pelaku lingkungan hidup, hingga mahasiswa untuk membahas efektivitas kebijakan pembiayaan hijau serta tantangan dan peluang implementasinya di tingkat daerah.(foto: komhumas unisba)
36views

METRO BANDUNG, bandungpos.id — Pembiayaan hijau atau green finance menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan mengenai masa depan pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung (FEB Unisba) mengangkat isu tersebut dalam forum yang membahas keterkaitan kebijakan pembiayaan, lingkungan, teknologi, dan pembangunan ekonomi daerah.

Pembahasan berlangsung melalui Focus Group Discussion (FGD) “Efektivitas Kebijakan Green Finance dalam Mendorong Pembangunan Berkelanjutan dan Kinerja LULUCF: Peran Inovasi Teknologi dalam Mendukung Ekonomi Daerah Rendah Karbon di Indonesia” di Student Center Unisba, Kamis (1/10/2026).

FGD tersebut mempertemukan akademisi, regulator, lembaga keuangan, pelaku lingkungan hidup, dan mahasiswa. Mereka membahas efektivitas kebijakan green finance, termasuk peluang serta berbagai tantangan yang perlu diperhatikan ketika pembiayaan hijau diterapkan dalam konteks pembangunan daerah.

Wakil Dekan Bidang Alumni, Kerja Sama, dan Kemahasiswaan FEB Unisba, Dr. Rabiatul Adwiyah, S.E., M.Si., membuka kegiatan tersebut.

Rabiatul menekankan bahwa perubahan menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Perguruan tinggi, sektor keuangan, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai lembaga terkait perlu membangun sinergi agar agenda pembangunan berkelanjutan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

“Green finance bukan hanya berbicara mengenai pembiayaan yang ramah lingkungan tetapi juga bagaimana pembiayaan tersebut mampu menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Karena itu, diperlukan kolaborasi dan inovasi agar kebijakan yang dirancang dapat benar-benar memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat,” ujar Rabiatul.

Menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki peran dalam menyediakan kajian berbasis data. Hasil riset dan diskusi akademik dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi yang relevan dengan persoalan pembangunan.

“FEB Unisba berkomitmen untuk terus memperkuat peran akademik melalui riset, diskusi ilmiah, dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Isu green finance dan ekonomi rendah karbon merupakan isu strategis yang membutuhkan pendekatan multidisiplin serta keterlibatan generasi muda,” tambahnya.

Perspektif interdisipliner terlihat dari komposisi narasumber yang dihadirkan. FGD menghadirkan Fauqi Muhtaromun Nazwan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Arieck Priyatna sebagai perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, dan Siti Muarofah dari Bank Indonesia.

Selain itu, hadir Dr. Achmad Kemal Hidayat, S.E., M.Sc. selaku ahli keuangan/akademisi ekonomi serta Prof. Dr. Renea Shinta Aminda, S.E., M.M. sebagai ahli ekonomi/akademisi ekonomi.

Berbagai perspektif tersebut digunakan untuk membahas posisi sektor keuangan dalam mendukung proyek dan aktivitas ekonomi yang memperhatikan aspek lingkungan.

Forum juga mengulas kinerja LULUCF (Land Use, Land-Use Change and Forestry), yang berkaitan dengan pengelolaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan.

LULUCF dan Teknologi dalam Ekonomi Rendah Karbon

LULUCF menjadi salah satu perhatian karena berkaitan dengan agenda pengurangan emisi serta kemampuan ekosistem dalam menyerap karbon. Pengelolaan lahan, perubahan fungsi lahan, dan sektor kehutanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembahasan tersebut.

Di tengah kebutuhan pengelolaan lingkungan yang semakin kompleks, inovasi teknologi turut mendapat perhatian. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemantauan lingkungan, mengelola sumber daya, mengukur emisi, dan menghasilkan data yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan.

Ketersediaan data yang memadai juga dapat membantu proses penyaluran pembiayaan hijau agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan sasaran yang dituju.

FGD tidak hanya membahas peluang green finance, tetapi juga berbagai tantangan penerapannya. Tata kelola, transparansi, kualitas data, literasi keuangan hijau, serta kesiapan daerah dalam mengembangkan kegiatan ekonomi berkelanjutan menjadi sejumlah aspek yang diperbincangkan.

Dialog antara akademisi dan praktisi tersebut diharapkan dapat mempertemukan pendekatan akademik dengan kebutuhan implementasi di lapangan. Dari forum itu, berbagai gagasan dapat dikembangkan melalui riset dan kerja sama lintas sektor.

FEB Unisba berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem kolaboratif yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan ekonomi rendah karbon.

“Harapannya, diskusi hari ini tidak berhenti sebagai forum akademik, tetapi dapat menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui riset, kolaborasi, maupun kebijakan yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah,” pungkas Dr. Rabiatul Adwiyah.

FGD tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman akademisi dan mahasiswa mengenai pembiayaan berkelanjutan. Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran mengenai peran mereka dalam transformasi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.(askur/nmn)***

Leave a Response