HiburanSeni Budaya

29views

Aku dan Hidup

Aku pernah ingin berhenti
Ketika pekerjaan belum selesai
Aku pernah ingin terpuruk dan menagis
Ketika berhasil sebenarnya
Tinggal beberapa langkah saja

Aku pernah ingin mengunci diri
Ketika terhimpit perih beban hidup
Aku pernah merasa tak beruntung
Ketika kegagalan datang beruntun
Padahal hidup tak begitu

Sampai satu titik aku tersadar
Aku akan berada dilindas jaman
Jika aku tidak melakukan apa-apa

Bangkit dan berdirilah
Karena kau manusia hebat
Busungkanlah dadamu
Karena kau pasti kuat

(Ferry Curtis 2019)

Oleh Feery Curtis 

Aku dan Hidup: Lagu Ferry Curtis yang Meneguhkan Generasi Muda untuk Tetap Optimis dan Terus Belajar

Bandung — Di sela hiruk-pikuk perubahan zaman, ada karya sederhana yang mampu menghentakkan hati dan menenangkan langkah. “Aku dan Hidup”, lagu karya Ferry Curtis, bukan sekadar rangkaian nada dan kata; ia hadir sebagai narasi personal yang menjadi cermin bagi banyak anak muda yang tengah bergulat dengan kegagalan, kelelahan, dan kecemasan tentang masa depan.

Di bait-bait pertama, pendengar disuguhkan pengakuan jujur: keinginan untuk berhenti ketika pekerjaan belum usai, rasa terpuruk saat keberhasilan tampak nyaris di depan mata, dan tekanan batin saat kegagalan datang bertubi-tubi. Kesederhanaan bahasa itu menyentuh karena terasa familier—suara banyak orang yang kerap menelan bisu karena malu atau takut disalahkan.

Tetapi lagu ini tidak berlama-lama pada keresahan. Menuju penghabisan, muncul momen pencerahan: kesadaran bahwa tanpa tindakan, seseorang akan “dilindas zaman”. Lalu datang ajakan yang lugas—“Bangkit dan berdirilah… Karena engkau pasti kuat”—yang berperan seperti cermin dan pegangan: mengakui luka sekaligus menawarkan langkah.

Suara dari pencipta
Dalam percakapan singkat yang merekonstruksi suasana lahirnya lagu, Ferry Curtis menggambarkan maksudnya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa lagu ini lahir dari pengalaman dan perjalanan hidupnya, pengamatan sehari-hari—melihat teman, siswa, dan pemuda di sekitarnya yang sering merasa sendirian ketika gagal. Ia sengaja memilih bahasa ringkas namun tepat sasaran agar pesan mudah diingat dan dapat menjadi afirmasi cepat di saat genting.

“Saya ingin lagu ini menjadi teman kecil dan pengingat diri,” kata Ferry. “Saat seseorang hampir menyerah, mengulang satu baris seperti ‘Bangkit dan berdirilah’ bisa menjadi dorongan pertama untuk bangun lagi.”
Mengapa lagu sederhana ini relevan sekarang?
Pada era persaingan ketat, tekanan akademik, dan perubahan karier yang cepat, pesan-pesan sederhana seringkali lebih efektif menjangkau hati dibanding argumen panjang. Lagu ini berfungsi pada tiga tingkat:
• Emosional: memberi ruang bagi pendengar untuk merasa; validasi itu penting agar seseorang tak menelan malu sendirian.
• Motivasi: mengubah pengakuan pasif menjadi panggilan bertindak—bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan titik tolak.
• Praktis: membuka pintu diskusi di lingkungan pendidikan dan komunitas tentang strategi belajar, penetapan tujuan, dan keterampilan koping.

Dampak di lapangan
Di beberapa sekolah dan komunitas literasi, lagu-lagu bertema serupa sudah dimanfaatkan untuk membuka diskusi kelas, workshop manajemen stres, dan sesi mentoring. Praktisi pendidikan melaporkan bahwa memulai kegiatan dengan lagu yang menyentuh memudahkan peserta untuk membuka diri, lalu melanjutkannya dengan latihan konkrit—penetapan target mingguan, teknik pembelajaran efektif, atau pembuatan rencana cadangan ketika usaha pertama gagal.
Namun pengaruh emosional itu perlu dipadu praktik nyata. Banyak guru dan fasilitator menekankan bahwa afirmasi tanpa panduan keterampilan hanya memberi semangat sementara. Oleh karena itu, integrasi lagu ke dalam modul pembelajaran sosial-emosional yang berisi langkah-langkah teknis dianggap paling efektif.
Konteks yang lebih luas
Penting pula menyadari batasan pesan individu. Bagi mereka yang menghadapi hambatan struktural—keterbatasan akses pendidikan, peluang kerja, atau dukungan ekonomi—pesan “bangkit” perlu disertai intervensi kebijakan dan program pemberdayaan. Lagu dapat memantik kesadaran dan semangat; besarnya perubahan sosial turut bergantung pada perbaikan sistemik.
Rekomendasi praktis

Agar resonansi lagu ini berbuah nyata, beberapa langkah dapat ditempuh di tingkat sekolah dan kebijakan:
• Masukkan lagu sebagai pemantik dalam modul SEL yang dilanjutkan dengan latihan konkret (time management, goal setting, teknik belajar).
• Latih guru dan fasilitator untuk memfasilitasi diskusi yang sensitif dan berorientasi tindakan setelah sesi mendengarkan.
• Kembangkan program kolaboratif antara musisi literasi, penyuluh karier, dan psikolog untuk menyediakan rantai dukungan: motivasi, keterampilan, dan konseling bila perlu.
• Evaluasi dampak lewat survei dan studi sederhana untuk melihat perubahan sikap dan kebiasaan belajar setelah intervensi.
Akhir kata

Di tengah kebisingan harian, “Aku dan Hidup” mengingatkan kita bahwa kekuatan sering kali tersembunyi dalam kata-kata paling sederhana. Ferry Curtis menyajikan lagu yang mengakui luka, meredakan rasa malu, dan mendorong langkah. Untuk generasi muda yang sering berjalan di batas antara harapan dan kelelahan, lagu ini menjadi pengingat humanis: optimisme tanpa aksi kurang berarti, tetapi aksi yang dimulai dari pengakuan dan semangat kecil bisa menuntun pada perubahan besar. **Penulis Musisi dan penggerak literasi nasional

Editor : Rianto Muradi

 

 

 

 

 

 

Leave a Response