
KAB. BANDUNG, Bandungpos. Id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margahayu kembali menyelenggarakan agenda rutin Kajian Muslim Tafsir Al-Qur’an (KAMUS) ke-35. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kekhidmatan ini digelar pada Sabtu (27/6/2026) bertempat di Masjid Nurul Iman, Komplek Ciharum RW 06, Kelurahan Sulaiman, dan diikuti dengan antusias oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kajian strategis ini dipimpin dan disampaikan langsung oleh Ketua MUI Kecamatan Margahayu, Dr. H. Miftahussalam, M.Si. dengan materi mendalam mengenai Tafsir Surat Al-Hujurat ayat 11–12. Dalam paparannya, beliau menguraikan secara komprehensif empat prinsip fundamental yang menjadi landasan etika sosial, yakni larangan saling mengejek, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, serta bergunjing. Nilai-nilai ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan dalam dinamika kehidupan masyarakat modern saat ini.
Materi disampaikan tidak hanya sebatas pemahaman tekstual, melainkan juga dikaitkan secara kontekstual dengan realitas sosial yang ada. Hal ini bertujuan agar pesan-pesan ilahi tersebut dapat menjadi solusi praktis dalam menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia serta mencegah potensi konflik di tengah masyarakat.
Acara ini turut dihadiri oleh unsur Forkopimcam Margahayu, jajaran pengurus MUI, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Kantor Urusan Agama (KUA), serta tokoh agama dan masyarakat. Kehadiran berbagai elemen ini merefleksikan sinergi yang kuat dalam upaya membangun lingkungan yang religius, toleran, dan penuh semangat kebersamaan.
Dalam kesempatan tersebut, H. Miftahussalam menyampaikan bahwa tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan literasi keislaman umat terhadap kandungan Al-Qur’an. Melalui pemahaman yang utuh, diharapkan nilai-nilai luhur tersebut dapat diinternalisasi menjadi pedoman hidup, melahirkan akhlak mulia, serta memperkokoh ukhuwah Islamiyah yang kokoh dan berkelanjutan.
Lebih jauh, MUI Margahayu berharap, kajian ini tidak hanya berhenti pada wacana intelektual, melainkan mampu menggerakkan transformasi perilaku nyata. Kesadaran untuk menjaga lisan, menghindari prasangka, dan menjauhi ghibah diharapkan menjadi karakter yang melekat, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang madani, aman, dan sejahtera.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam mempererat silaturahmi antara ulama, umara, dan masyarakat. Komitmen untuk terus menghadirkan kajian berkualitas ini merupakan bagian dari upaya pembinaan umat menuju generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah dalam setiap aspek kehidupan,” tegasnya.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama sebagai simbol rasa syukur dan harapan agar ilmu yang diperoleh senantiasa menjadi amal jariyah yang terus mengalir keberkahan bagi seluruh pihak. (Ask/Id)***





