Seni Budaya

Berhala Reputasi dan Mumi Kesusastraan Kita

9views
Oleh Muhammad Subhan
Dalam ilmu pengetahuan maupun sastra, tidak ada dalil bahwa juara lomba otomatis selalu benar. Jika demikian, seluruh jurnal ilmiah, atau kompetisi lainnya, tidak perlu lagi mengadakan ‘peer review’. Cukup minta atau lihat CV penulisnya, dan selesai. Sejarah berpikir manusia justru bergerak karena otoritas terus menerus diuji.(Red)
MENARIK tulisan membaca Doddi Ahmad Fauji di halaman Facebook-nya berjudul “Kesusastraan yang Dikerubungi Semut, Maggot, Jelangkung, bahkan Kompeni”, Jumat (26/6/2026). Panjang, jenaka, penuh analogi, diisi tokoh-tokoh besar dari Aristoteles hingga Hegel. Sayangnya, semakin panjang tulisan itu, semakin tampak bahwa yang diperdebatkan bukan lagi substansi, melainkan orangnya.
Saya mencari-cari di mana sebenarnya bantahan terhadap kritik yang saya ajukan kepada Sunlie Thomas Alexander—dan buat Sunlie, tulisan saya berikutnya sedang saya siapkan. Yang saya temukan dalam tulisan Doddi justru daftar sabuk juara, perbandingan kelas tinju, kisah bromocorah, semut, belatung, jelangkung, hingga kompeni. Semua dihadirkan Doddi, kecuali jawaban atas pokok persoalan.
Bukankah Doddi sendiri mengatakan bahwa peradaban tumbuh melalui benturan gagasan? Jika demikian, mengapa yang membedakan reputasi seseorang dengan reputasi orang lain? Sejak kapan kebenaran argumen ditentukan oleh jumlah yang diberikan?
Dalam ilmu pengetahuan maupun sastra, tidak ada dalil bahwa juara lomba otomatis selalu benar. Jika demikian, seluruh jurnal ilmiah, atau kompetisi lainnya, tidak perlu lagi mengadakan ‘peer review’. Cukup minta atau lihat CV penulisnya, dan selesai. Sejarah berpikir manusia justru bergerak karena otoritas terus menerus diuji.
Ironisnya, tulisan Doddi mengandung kontradiksi. Di satu sisi ia memuji dialektika Hegel, antitesis, dan benturan pemikiran. Di sisi lain, ketika seseorang mengkritik penulis yang ia kagumi—mungkin bahkan dipuja—kritik itu justru didelegitimasi hanya karena dianggap berasal dari “kelas bantam”. Saya kira itu bukan lagi dialektika; sebaliknya Doddi sedang membangun hierarki feodalisme.
Sastra tidak mengenal kasta. Yang diuji bukan siapa yang berbicara, tapi apa yang dikatakannya. Mahasiswa baru hanya dapat menemukan kekeliruan seorang profesor. Pembaca biasa mampu menunjukkan kelemahan sebuah novel peraih penghargaan, dan kritik tidak pernah tunduk pada gelar ataupun deretan trofi yang diraih seseorang.
Menangapi tulisan Doddi, saya tetap memilih berbicara teks, tidak mengagumi seberapa besar sebuah nama, siapa pun itu. Saya mengkritik tulisan, bukan biografi penulisnya, dan berusaha untuk tidak pula mencaci maki orangnya. Dalam berdialektika, benturan gagasan itu biasa saja. Daftar prestasi hanya rekam jejak, bukan sebuah bukti bahwa seseorang selalu benar. Bertungkus lumus saja dengan “kebenaran”, bukan “pembenaran”.
Saya kira justru di sini sastra diuji: apakah ia masih memberi ruang bagi argumen, atau telah berubah menjadi ruang di mana reputasinya dianggap lebih tinggi daripada nalar, seperti yang dipertontonkan Doddi itu.
Kalau memang kebenaran kritik berbanding lurus dengan jumlah trofi, bubarkan saja seluruh ruang diskusi. Kita tidak perlu lagi argumentasi, sebaliknya ruang pameran piagam mendapat penghargaan. Kita tidak perlu pula membaca teks, cukup menimbang beratnya piala di atas timbangan digital. Jika piala seseorang lebih berat, maka secara otomatis seluruh teorinya maksum, tidak boleh disentuh, apalagi dikuliti. Apakah demikian cara kerja masuk akal sehat?
Namun, karena Doddi menyukai humor dengan gaya khasnya, analoginya sering kali menggelikan sekaligus salah alamat. Menilai kritik sastra dengan ukuran ring tinju adalah kekeliruan fatal dalam cara membaca teks. Dalam tinju, sasarannya adalah fisik lawan. Apakah Doddi hendak mengalihkan kritik sastra dari wilayah pergulatan berpikir menuju arena kekerasan fisik?
Jika mengikuti jalan pikiran Doddi, sejarah sastra harus ditulis ulang. Pramoedya Ananta Toer tidak boleh melontarkan kritik dan penolakan kulturalnya sebelum ia disetujui oleh institusi yang memegang otoritas. Apakah keabsahan ilmu kritik seorang HB Jassin—yang merumuskan cetak biru angkatan sastra kita—ditentukan oleh berapa banyak piala lomba yang ia koleksi di lemari rumahnya? Tentu saja tidak. Otoritas pemikiran mereka lahir dari konsistensi nalar di medan laga sastra, bukan dari legitimasi lembaran piagam. Apakah kini keabsahan berpikir seseorang harus digugurkan hanya karena ia tidak memegang dokumen trofi?
Doddi juga berkisah panjang lebar tentang bromocorah yang ingin menjelaskan, membahas ringkasan pejabat, hingga presiden Konoha. Sebuah lompatan logika yang jauh dan teatrikal, tapi sayangnya kehilangan pijakan. Di tengah dongeng yang melantur itu, ia menyelipkan tuduhan bahwa mereka yang menolak berdebat dengan caranya adalah semut, belatung, dan jelangkung yang mengerubungi bangkai sastra.
Namun, mari kita lihat siapa yang sebenarnya sedang mengerubungi bangkai. Sastra menjadi bangkai justru ketika ia tidak lagi mengkritik teksnya, melainkan dipuja-puja tubuhnya dan menyerang pribadinya. Sastra menjadi busuk ketika para pengikutnya berkemah seperti pemandu sorak (pemandu sorak) yang sibuk menghitung sorak-sorai penonton, bukan memeriksa mutu permainan di lapangan. Ketika Doddi sibuk membentengi Sunlie dengan tameng reputasi, di saat itulah ia sedang mengawetkan sastra menjadi mumi yang tampak megah di luar, tapi (telah) mati di dalam.
Kita tidak sedang kekurangan kritik yang berani, sebaliknya kita sedang kelebihan komentator di media sosial yang gemar membuat barikade feodal baru dalam sastra. Jika mengkritik seorang pemenang lomba dianggap sebagai sebuah kelancangan, maka sesungguhnya yang ditawarkan bukan dialektika Hegelian, melainkan feodalisme akut berbau sastra modern. Doddi rindu benturan antitesis, namun ketika antitesis itu datang mengusik kenyamanan sang juara, ia buru-buru mengeluarkan jurus penyelamatan: “Hei, kamu tidak sekelas!” Lucu sekali.
Tulisan Doddi adalah bentuk kecacatan logis (logical fallacy) yang akut, sebuah argumentum ad hominem yang dibungkus dengan humor minor dan diksi-diksi mentereng. Mengaitkan urusan diftong dengan kapasitas berargumen seseorang adalah puncak dari keputusasaan Doddi mencari dalil. Apa secara keseluruhan pilihan gaya bahasa atau intervensi bahasa ibu dengan validitas sebuah kritik sastra? Di titik ini Doddi tidak lagi menulis kritik, tapi menunjukkan arogansi sosiologis yang dangkal.
Saya tidak peduli apakah saya dianggap berada di kelas bantam, kelas bulu, atau bahkan tidak masuk kelas sama sekali dalam daftar klasifikasi personal Doddi. Ring yang saya masuki bukanlah ring tinju tempat orang saling menjatuhkan reputasi fisik, melainkan ruang teks—tempat di mana kata diuji oleh kata, argumen dibenturkan dengan argumen, bukan nama besar yang didebat dengan nama kecil.
Sastra tidak akan mati karena kekurangan piala. Sastra hanyalah desah jika setiap kritik dibaca sebagai upaya makar terhadap tokoh seseorang.
Jadi, silakan Doddi menyeduh kopinya kembali agar cepat ketakutan—meski idealnya orang sakit memilih meminum kopi agar tak tertidur, di samping belum ingin tidur. Dan, kita yang (masih) terjaga, akan tetap memperlakukan sastra sebagai ruang merdeka: tempat di mana teks dibedah dengan pisau nalar, bukan disembah di atas menara gading. ** (MUHAMMAD SUBHAN jurnalis senior dan penggerak Literasi di Sumatra Barat)

Leave a Response