Metro Bandung

Perkuat Eksistensi Sepatu Tradisional, Tim Peneliti Rumuskan Model Kesiapan dan Craftsmanship Skills Index

7views

BANDUNG, BandungPos.id —  Untuk menghadapi tantangan modernisasi melalui pendekatan ilmiah yang kolaboratif, Sentra industri alas kaki legendaris Cibaduyut kini menggelar Focus Group Discussion (FGD), Rabu (24/6/2026) lalu.

Mengusung tema “Formulasi Model Kesiapan Smart Industri Kecil Menengah Melalui Craftsmanship Skills Index dan Komitmen Manajerial untuk Penguatan UMKM Sepatu Tradisional”. Ini merupakan bagian dari program Hibah KEMDIKTISAINTEK 2026 SKEMA PENELITIAN DASAR (PENELITIAN DASAR FUNDAMENTAL DAN PENELITIAN KERJA SAMA ANTAR PERGURUAN TINGGI).

Ketua peneliti, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P, membuka kegiatan dengan menegaskan bahwa FGD ini murni ditujukan untuk menyerap ilmu langsung dari para ahli di lapangan, bukan merupakan penilaian atau ujian bagi para pengrajin.

“Bapak/Ibu, kami tidak sedang menguji kemampuan Bapak/Ibu. Kami justru ingin belajar dari pengalaman Bapak/Ibu sebagai pelaku dan empu sepatu. Dokumen ini masih draf, jadi kami mohon dikoreksi berdasarkan pengalaman nyata Bapak/Ibu,” ungkap Dr. Nurhaeni di hadapan para peserta.

Sinergi Tokoh dan Aspirasi Pengrajin: “Jangan Sampai Seperti Dinosaurus”
Acara ini dihadiri oleh pemangku kepentingan kunci yang memberikan pandangan mendalam mengenai masa depan Cibaduyut.

Roni Sukirman (Koordinator Satpel PI Persepatuan Bandung), menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antar berbagai pihak dalam mendukung perkembangan industri alas kaki Cibaduyut.

“Tantangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga pemasaran, harga, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar,” ucapnys.

Melalui program klaster alas kaki, diharapkan kerja sama dapat diperkuat guna meningkatkan daya saing pelaku usaha dari skala mikro hingga besar , di mana dukungan dari praktisi, akademisi, pemerintah, dan pengrajin harus terus berjalan beriringan.

Gun Gun Ruhiyadi (Tokoh Masyarakat & Pengrajin Sepatu, menegaskan bahwa fokus utama pengrajin perlu diarahkan pada penguatan produksi dan keberlangsungan usaha.

“Saya hidup dari sepatu.” TEGASNYA.

Ia berharap, Cibaduyut tetap eksis, khususnya bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang menggantungkan mata pencahariannya di sektor ini , melalui peningkatan kompetensi teknis maupun pengelolaan usaha lewat program pelatihan.

Hal senada diungkapkan  Ikin Sodikin (Perwakilan IKM), bahwa Cibaduyut telah lama dikenal sebagai sentra industri alas kaki yang memiliki sejarah kuat di Indonesia. Namun, tantangan nyata seperti ketergantungan pada bahan baku impor serta meningkatnya persaingan dengan produk luar negeri tidak bisa diabaikan.

“Pengrajin jangan hanya berfokus pada nama besar Cibaduyut, tapi harus terus berinovasi dan menjaga kualitas produk. Jangan sampai Sepatu Cibaduyut itu tinggal nama saja, kaya dinosaurus,” harapnya.

Bedah Materi dan Validasi Kamus Kompetensi

Dalam sesi inti FGD, tim peneliti memaparkan materi komprehensif untuk memvalidasi indikator perilaku (Level 1 s.d Level 5) serta status awal indikator (Tetap [T], Perlu Koreksi [PK], Awal [A]):
1. Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P. memandu materi pengantar dokumen serta memvalidasi tiga kompetensi awal: Kompetensi 1 (Desain dan Konstruksi Pola) , Kompetensi 2 (Seleksi, Penataan, dan Penanganan Material kulit/sintetis) , dan Kompetensi 3 (Konstruksi dan Penjahitan Upper yang merupakan proses tersulit).

2. Dr. Ratna Deli Sari, S.Sos., M.Si. mengupas Kompetensi 4 (Lasting dan Pembentukan Sepatu secara simetris tanpa kerutan) , Kompetensi 5 (Perakitan dan Pemasangan Sol dengan teknik spesialis tradisional seperti stitch-down/rosel dan backstitch/dorné) , Kompetensi 6 (Finishing dan Pengendalian Kualitas dari hulu ke hilir serta penanganan produk cacat) , hingga Kompetensi 7 (Transfer dan Preservasi Pengetahuan Kriya melalui tradisi ngendek kepada pekerja junior).

3. Dr. Peti Savitri, S.T., M.T. memvalidasi Kompetensi 8 (Kesiapan Operasi dan Pemasaran Digital berbasis aplikasi menuju Smart IKM). Beliau juga mengajukan 7 pertanyaan kunci lintas kompetensi untuk mempertajam hasil validasi , memandu pengisian Lembar Keputusan Akhir terkait masuknya kompetensi ke dalam Craftsmanship Skills Index (CSI) , serta memimpin proses penandatanganan pengesahan hasil diskusi.**

Hasil Diskusi dan Rekomendasi Masa Depan

Melalui diskusi yang interaktif, para peserta FGD berhasil merumuskan sejumlah masukan krusial untuk memperkuat ekosistem industri alas kaki, di antaranya:

• Pengrajin membutuhkan pelatihan yang lebih aplikatif dan berkelanjutan (bukan sekadar teoretis) disertai pendampingan langsung dalam kegiatan usaha sehari-hari.
• Dibutuhkan program lanjutan yang nyata untuk membantu meningkatkan kualitas produk, pemasaran, dan daya saing.
• Munculnya harapan besar agar pemerintah dapat menginisiasi Program Subsidi Material/Bahan untuk meringankan biaya produksi pengrajin sepatu handmade.

FGD ini menegaskan kembali betapa pentingnya menjaga keberlanjutan industri alas kaki bukan saja di Cibaduyut tapi juga di Garut dan Bogor Ciomas. Hal ini hanya bisa dicapai melalui peningkatan kompetensi pengrajin yang konsisten, penguatan kolaborasi lintas sektor (pemerintah, akademisi, praktisi, pelaku usaha), serta pendampingan yang berkesinambungan. Seluruh pihak optimis dan menaruh harapan besar agar Eksistensi Sepatu Tradisional tetap menjadi sentra alas kaki yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan terus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat.***

Leave a Response