Metro Bandung

 OJK Jawa Barat, dan Bank BJB Perkuat Komitmen Inklusi Keuangan bagi Difabel dan Lansia

2views

KOTA BANDUNG, Bandungpos– Empat tahun lalu, isu aksesibilitas layanan keuangan, penggunaan bahasa isyarat di sektor perbankan, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, hingga akses pembiayaan bagi pelaku usaha difabel masih jarang menjadi bagian dari percakapan utama di banyak institusi.

Hari ini, situasinya mulai berubah. Momentum tersebut terlihat dalam kegiatan Tour4DILANS ke Bank BJB yang diselenggarakan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, jajaran Direksi Bank BJB yang dipimpin oleh Direktur Utama Bank BJB, Ayi Subarna, perwakilan Pemerintah Kota Bandung, serta Farhan Helmy, Presiden DILANS Indonesia, bersama relawan komunitas difabel dan lansia.

Sebagai bagian dari kegiatan, DILANS Indonesia menghadirkan simulasi layanan yang melibatkan Ibu Neng Sadiah, seorang lansia pengguna kursi roda, dan Angel, seorang penyandang tuli. Melalui simulasi tersebut, para peserta dapat melihat secara langsung bagaimana warga dengan kebutuhan aksesibilitas yang berbeda berinteraksi dengan layanan perbankan sehari-hari.

Farhan Helmy menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pengalaman nyata warga difabel dan lansia ke dalam proses pengambilan keputusan.

“Sering kali layanan dibangun tanpa mendengar pengalaman langsung penggunanya. Melalui kegiatan seperti ini, kita mencoba mempertemukan komunitas dengan para pengambil keputusan agar kebutuhan aksesibilitas dapat dipahami dan direspons dengan lebih baik,” ujarnya.

Dari kunjungan tersebut terlihat berbagai langkah yang telah dilakukan Bank BJB untuk memperkuat layanan yang lebih inklusif. Mulai dari area parkir khusus difabel, ruang tunggu yang lebih aksesibel, toilet yang ramah difabel, hingga kemampuan berbahasa isyarat yang dimiliki petugas customer service. Ke depan, Bank BJB juga tengah menyiapkan layanan ATM yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.

Dalam diskusi bersama Kepala OJK Jawa Barat dan jajaran Direksi Bank BJB, mengemuka komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi bersama DILANS Indonesia dalam mendorong inklusi keuangan yang lebih luas. Tidak hanya terkait akses layanan perbankan, tetapi juga akses terhadap pembiayaan, pengembangan UMKM produktif milik penyandang disabilitas, peningkatan literasi keuangan, serta perluasan kesempatan kerja yang lebih inklusif di sektor jasa keuangan.

Bank BJB juga menyampaikan komitmennya untuk membuka peluang yang lebih besar bagi penyandang disabilitas untuk dapat bergabung dan berkarier di lingkungan kerja perusahaan.

Bagi DILANS Indonesia, perkembangan ini bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Apa yang terlihat hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun. Sejak berdiri pada tahun 2021, DILANS Indonesia secara konsisten membangun gerakan berbasis komunitas untuk memperjuangkan hak, partisipasi, dan kemandirian penyandang disabilitas serta lansia.

Perjalanan tersebut dilakukan melalui berbagai pendekatan. Mulai dari pelatihan Bahasa Isyarat bagi relawan, aparatur pemerintah, dan sektor jasa keuangan; penyelenggaraan Yoga4DILANS, Tour4DILANS, berbagai kegiatan penguatan komunitas; dialog kebijakan; hingga kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat sipil.

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut adalah kolaborasi bersama OJK Jawa Barat yang mendorong peningkatan kapasitas sektor jasa keuangan dalam memberikan layanan yang lebih inklusif. Setelah sebelumnya melatih relawan dan aparatur pemerintah, DILANS Indonesia bersama OJK Jawa Barat juga memfasilitasi pelatihan Bahasa Isyarat bagi puluhan perwakilan perbankan di Kota Bandung. Langkah ini menunjukkan bahwa inklusi mulai bergerak dari tingkat wacana menuju perubahan praktik pelayanan.

Menurut Farhan Helmy, pengalaman selama empat tahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan sistem tidak selalu lahir dari program besar. Sering kali perubahan justru tumbuh dari hubungan yang dibangun secara konsisten, dialog yang terus dijaga, dan kemauan untuk menghadirkan komunitas sebagai bagian dari solusi.

Dalam beberapa tahun terakhir, DILANS Indonesia juga mulai mendorong berbagai inisiatif yang menghubungkan inklusi sosial dengan pemberdayaan ekonomi dan inovasi pembiayaan. Gagasan seperti #Wakaf4DILANS dan perjalanan menuju Reksadana4DILANS lahir dari keyakinan bahwa penyandang disabilitas dan lansia tidak hanya membutuhkan perlindungan sosial, tetapi juga akses terhadap peluang ekonomi, investasi, dan kemandirian finansial.

Karena itu, kolaborasi dengan OJK Jawa Barat, Bank BJB, dan berbagai pelaku jasa keuangan menjadi bagian penting dari upaya yang lebih besar untuk memastikan bahwa penyandang disabilitas dan lansia tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam aktivitas ekonomi dan keuangan.

Kunjungan ke Bank BJB menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara regulator, dunia usaha, pemerintah daerah, dan komunitas dapat menghasilkan perubahan yang nyata. Apa yang beberapa tahun lalu mungkin dianggap sebagai isu pinggiran, kini mulai masuk ke agenda jasa dan industri keuangan.

Perjalanan tentu masih panjang. Namun hari ini memberikan keyakinan bahwa perubahan dapat diwujudkan ketika komunitas terus hadir, terus membangun dialog, dan terus mengajak berbagai pihak berjalan bersama.
Empat tahun lalu, banyak hal yang diperjuangkan masih dianggap terlalu sulit atau bahkan tidak penting.

Hari ini, regulator, pemerintah daerah, komunitas difabel, komunitas lansia, dan sektor jasa keuangan duduk bersama membicarakan aksesibilitas, bahasa isyarat, kesempatan kerja, pembiayaan UMKM, literasi keuangan, dan masa depan inklusi ekonomi. Itulah tanda bahwa perubahan sedang berlangsung. Karena pada akhirnya, inklusi bukanlah tentang belas kasihan.**(rm/bnn)

Leave a Response