Olahraga

Perjalanan Penuh Liku Seorang Rafiq di Cabor Dayung

19views

Bandung – BANDUNGPOS.ID– Kota Bandung boleh berbangga memiliki atlet dayung sekelas Rafiq Wijdan Yasir.Ya, pria tegap kelahiran Bandung 17 April 2001 ini memlki prestasi tak kaleng-kaleng.

Letda Inf Rafiq Wijdan Yasir, S.Or. — itu nama lengkapnya,  merupakan anak ke 1 dari 4 bersaudara pasangan Asep Ayi dan Iim Rupaidah, M.Pd. Dalam sebuah kesempatan — tepatnya Senin (15/6/2026), Rafiq bercerita ihwal perjalannya di cabang olahraga dayung yang membuatnya jadi lebih dikenal lantaran prestasi yang ditorehkannya. Rafiq masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia dan masuk Unit Kegiatan mahasiswa (UKM) Dayung UPI pada bulan September 2019 lalu.

“Saya masih ingat betul prestasi pertama di cabor dayung diraih pada kejuaraan PON Papua dengan raihan medali Perunggu di nomor M1X atau Men’s Single Scull,” ujar pria dengan tinggi badan 179 cm dan berat 72 kg ini.

Disinggung tertang persiapan pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026, Rafiq mengatakan, untuk saat ini persiapan pribadi menjelang Porprov 2026 sudah sangat siap.

“Tetapi karena kami nanti berlomba di Porprov dengan 4 nomor lebih dimana nomor tersebut adalah 1 nomor single dan nomor sisanya adalah beregu, jadi memang masih perlu adaptasi dengan rekan kami di daerah karena sekarang kami pribadi sedang dalam persiapan menuju Asian Games Jepang 2026, tapi kami rasa insyaallah tim dayung kota Bandung sudah sangat siap menghadapi Porprov 2026 nanti,” tutur Rafiq daria.

Soal target di Porprov, Rafiq mengatakan membidik medali emas tentunya hal yang tak bisa ditawar tawar lagi terutama emas di nomor putra.

“Di nomor yang kami akan turunkan dan untuk adik adik saya juga di kota Bandung supaya bisa menampilkan yang terbaik dan meraih medali emas karena nantinya hasil Porprov ini akan menjadi prasyarat atlet di panggil ke pelatda untuk persiapan PON nanti,” ungkap Rafiq.

Soal peta kekuatan cabor dayung di Porprov nanti, Rafiq mengurai ihwal peta kekuatn yang mulai merata.

“Untuk saat ini kami kira semua daerah sama kuatnya tapi memang yang perlu kami waspadai itu daerah KBB dan Kabupaten Bandung. Kami nanti insyaallah akan turun di nomor LM1X, LM2X, M4-, M8+, dan Nomor Rowing Coastal.”kata Rafiq yang di Porprov nanti sepertinya akan mendulang emas untuk kontingen Kota Bandung.

Kejuaraan dunia

Nama Letda Inf Rafiq Wijdan Yasir, S.Or kini tercatat dalam sejarah olahraga Indonesia. Bersama rekannya, Ali Mardiansyah, ia berhasil mempersembahkan medali perak di nomor Lightweight Men’s Double Sculls (LM2x) pada Kejuaraan Dunia Rowing 2025 di Shanghai.

Catatan waktu yang ditorehkannya 6 menit 47,40 detik atau hanya terpaut tipis dari Tiongkok yang meraih emas dengan 6 menit 44,90 detik. Hasil ini menjadi medali pertama Indonesia di level senior Kejuaraan Dunia Rowing, sebuah capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun di balik podium dunia itu, ada kisah sederhana: seorang ibu yang menyalakan langkah awal.

Awalnya, Rafiq bukan atlet dayung. Ia aktif di drumband, bahkan sempat ingin masuk TNI. Sang ibu, yang ingin anaknya tetap kuliah, menyarankan mencoba UKM olahraga di UPI Bandung. Dari banyak pilihan, ibunya mengenalkan dayung, cabang yang sama sekali asing bagi Rafiq.

“Saya pelajari sendiri apa itu dayung, lalu semakin tertarik ketika mendengar kisah senior yang sukses sampai masuk tim nasional,” kenangnya Rafiq.. Dari situlah, sejak 2019, Rafiq mulai serius berlatih.

Perjalanan prestasi Rafiq di cabor dayung tidak instan. Rowing Indonesia sendiri punya tradisi kuat di Asia Tenggara. Pada SEA Games 2023 di Kamboja, tim dayung Indonesia meraih 10 medali emas, sekaligus juara umum cabang rowing.

Di Asian Games 2018 Jakarta, dayung juga menyumbang emas lewat Mutiara Rahma Putri dan Lailatul Jannah di nomor lightweight women’s double sculls.

Prestasi di level Asia inilah yang kemudian membuka jalan ke panggung dunia.

Latihan terstruktur, nutrisi yang dijaga ketat, hingga try out ke berbagai negara Eropa dan Asia, menjadi bekal tim.

Dayung bagi Rafiq bukan lagi olahraga, melainkan disiplin hidup. Ia menyebut satu kata kunci yaitu konsistensi.

Medali perak di Shanghai adalah bukti bahwa konsistensi itu berbuah. Indonesia kini tak lagi hanya jadi peserta, tapi juga pesaing di cabang olahraga yang selama ini dikuasai Eropa dan Tiongkok.

Dayung mungkin belum sepopuler sepak bola atau bulutangkis. Tapi cerita Rafiq menunjukkan, prestasi dunia bisa lahir dari pilihan kecil.

Dari dorongan seorang ibu, dari ruang UKM kampus, hingga akhirnya mengibarkan bendera Merah Putih di pentas kejuaraan dunia.

Dari seorang ibu, lahirlah keberanian seorang anak menapaki jalur yang asing. Dan dari jalur itu, lahirlah sejarah baru, prestasi dunia untuk Indonesia.

Perjalanan Rafiq di cabor dayung memang penuh liku. Namun — sekali lagi, lewat konsistensi, liku nan terjal itu berhasil ia lewati lewat arti sebuah prestasi. (Deden. GP) **

Leave a Response