
PAREPARE, Bandungpos Id.
Kemenangan yang seharusnya manis berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam. Stadion Gelora BJ Habibie seolah runtuh diterjang badai emosi, berubah total dari panggung olahraga menjadi medan pertempuran yang menegangkan nyawa, Minggu (17/5/2026).
Seketika peluit panjang berbunyi, pagar keamanan jebol diterjang gelombang manusia. Ribuan suporter menyerbu masuk ke lapangan dengan amarah yang meledak-ledak, memaksa suasana berubah menjadi kacau balau dalam hitungan detik.
Asap tebal hasil pembakaran flare dan ribuan petasan memenuhi udara, menyelimuti pandangan dengan suasana kelabu yang mencemaskan. Selebrasi singkat para pemain Persib harus terhenti paksa, berubah menjadi kepanikan yang melumpuhkan akal sehat.
Tanpa ampun, massa mengejar target mereka. Para pemain Maung Bandung berlari tunggang langgang menyelamatkan diri, namun kecepatan mereka tak mampu sepenuhnya menghindari serangan. Beberapa di antaranya berhasil dikejar hingga menerima tendangan keras dan serangan fisik.
Kekacauan semakin tak terkendali ketika petasan terus meluncur menghujani area bangku cadangan. Ledakan demi ledakan terdengar bersahutan, menambah suasana semakin mencekam dan penuh bahaya bagi siapa saja yang berada di lokasi.
Suara teguran lantang dari Master of Ceremony lenyap ditelan raungan massa yang tak lagi bisa dibendung. Situasi berada di luar kendali penuh, mencatat sejarah kelam yang mencoreng wajah persepakbolaan nasional dengan aksi anarkis yang memilukan. (Ask/Id)***





