
“Panggil saja Kuyut,” sebutnya suatu hari. Ia tak mau dipanggil abang atau uda, apalagi bapak. Terlalu formal, katanya sambil tertawa.
DAN sebagai seorang penyair, ia menunjukkan martabat. Sering memakai kaus oblong berwarna hitam, juga celana pendek sebatas lutut, dan kaki beralas terompah hitam. Ia juga sering memakai penutup kepala beanie atau kupluk rajut berbahan elastis tanpa lipatan, yang menutup rambut sepanjang hingga telinga.
Pada puisi-puisi di buku karyanya, dan sesekali menulis cerita pendek di media massa, ia melekatkan nama pena Iyut Fitra. Khalayak sastra di tanah air lebih mengenalkan nama penanya daripada nama aslinya, Zulfitra.
Mulanya saya segan menyapa “Kuyut”, karena saya jauh lebih muda darinya. Sempat saya panggil Abang atau Uda. Tapi lambat diluncurkan, karena semua kawan akrab menyapanya Kuyut, saya pun terbawa akrab pula. Panggilan itu melepaskan ketegangan dalam sebuah percakapan.
Pada tahun-tahun sebelumnya, dalam sejumlah pertemuan sastra di Indonesia, ketika saya hadir di sana, saya sering bertemu Kuyut. Ia tampil membacakan puisi-puisinya sebagai seorang penyair prolifik yang sangat baik. Suaranya lantang menggelegar di atas panggung, menggetarkan bulu kuduk, dan semua penonton hening di kursinya.
“Mulanya Kuyut menulis puisi, kemudian coba-coba baca puisi. Terbawa asyik saja,” katanya saat saya menggali cerita proses kreatifnya pertama kali sebagai penyair, sambil didistribusikan di meja kopi di Komunitas Seni Intro, Payakumbuh.
Ketika saya diamanahi sastrawan Indonesia Taufiq Ismail mengurus Rumah Puisi di Aia Angek, Tanah Datar, sepanjang tahun 2009—2012, beberapa kali Kuyut hadir di sana, baik sebagai sastrawan tamu maupun sempat beberapa kali menjadi instruktur Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) Rumah Puisi. Sanggar itu diikuti pelajar SMA sekitar Rumah Puisi, dan saya ampu setiap Jumat sore. Kuyut melatih siswa menulis dan membaca puisi.
Ketika Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menghelat Temu Penyair Asia Tenggara (TPAT) I pada tahun 2018, saya mengusulkan Iyut Fitra sebagai salah seorang kurator, selain Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta) dan Sulaiman Juned (Padang Panjang). Kurator ketiga menyeleksi ratusan puisi dari penyair Indonesia dan Asia Tenggara untuk dibukukan, dan sebanyak 300 penyair diundang hadir di Padang Panjang.
Dalam percakapan-percakapan di Padang Panjang, banyak gagasan Kuyut agar Padang Panjang punya acara sastra tahunan yang berkelanjutan. Ia mendukung TPAT tidak berhenti di perhelatan I dan II, tetapi dapat menjadi ikon kegiatan sastra.
Tentu saja itu cukup beralasan. Padang Panjang sebagai simpul Sumatera, kota pendidikan, dan memiliki kampus seni, dengan lingkungan alam yang sejuk, memungkinkan berkumpulnya banyak sastrawan untuk menulis dan berkarya di kota ini, bermukim dan berjejaring.
Di Payakumbuh sendiri, Kuyut salah satu penggerak Payakumbuh Poetry Festival (PPF), sebuah festival puisi tahunan bergengsi sejak 2019. PPF menghadirkan penyair lokal, nasional, hingga Asia Tenggara. Saya juga hadir dan menyaksikan penyelenggaraan PPF di Intro, dan festival itu sebuah kegiatan yang menarik untuk merayakan sastra, diskusi, dan mengapresiasinya.
Suatu hari pada tahun 2024, Kuyut menyampaikan keinginannya kepada saya untuk membincangkan buku puisi terbarunya di Ruang Baca Rimba Bulan Padang Panjang. Buku itu berjudul “Dengung Tanah Goyah”.
Tentu saja, Ruang Baca Rimba Bulan yang saya inisiasi dan saya bina mendapat kehormatan jika Kuyut berkenan membawa bukunya untuk dibicarakan. Saya katakan “oke”, dan pada Jumat, 19 Oktober 2024, buku itu dibahas di Rimba Bulan, dengan pemantik diskusi kritikus dan pelajar Dr. Sahrul N., S.Si., M.Si. dan penyair Ubai Dillah Al Anshori, S.Sn., M.Sn. Kuyut juga hadir di acara yang diikuti pelajar, pelajar, guru, dan kalangan umum di Sumatera Barat itu.
“Doakan Kuyut sehat, agar bisa datang lagi ke Rimba Bulan,” ujarnya saat saya membesuknya di kediamannya di Komunitas Seni Intro. Saya mendoakan Kuyut.
Saya datang membesuk bersama kawan-kawan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, dan kemudian datang lagi mendampingi tim Kementerian Kebudayaan RI bersama sastrawan Gus tf Sakai. Kebetulan saat itu kami membawa sepuluh mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti program Belajar Bersama Maestro (BBM) Bidang Sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Museum Sastra Indonesia.
Saya melihat semangat Kuyut untuk pulih. Di rumahnya yang sederhana, ia menyambut, dan tetap ramah sebagai sosok penyair yang saya kenal selama ini.
Empat bulan lalu, di penghujung Desember 2025, Kuyut mengabari saya melalui pesan WhatsApp bahwa buku puisi terbarunya berjudul “Maek” akan diluncurkan dan dibedah di Intro. Buku itu membahas dua pembicara, yakni S. Metron M. (pelaku seni budaya) dan Ilham Yusardi (sastrawan). Moderatornya Roby Satria (penyair).
Saya datang mengundang undangan itu, bersama penyair dan sutradara teater Sulaiman Juned yang juga pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang. Saat buku setebal 62 halaman dan berisi 27 puisi itu dibicarakan di gelanggang Intro, Kuyut dalam kondisi masih sakit memaksakan diri untuk hadir di arena diskusi. Ia berjalan keluar rumah, duduk, dan merebahkan badan di sebuah pondok Intro, sambil melihat dan mendengarkan pembahasan bukunya itu.
“Acara seperti ini yang membuat saya lebih sehat,” katanya kepada saya. Saya mengingat kondisi kesehatannya saat itu.
Hari-hari setelah itu, saya kembali larut dengan berbagai aktivitas literasi yang padat. Satu-dua kabar Kuyut masih saya ikuti, dan sesekali saya melihat postingannya di beranda media sosial, baik mengabarkan puisi maupun cerpen terbarunya yang terbit di koran-koran nasional, ataupun batu akik. Ya, Kuyut pehobi batu akik, sekaligus menjualnya. Saya banyak belajar dari kegigihannya berkarya dan berusaha.
Hingga kabar duka itu datang, setelah dua pekan dirawat di Rumah Sakit M. Djamil Padang, Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, sehari menjelang perayaan Hari Puisi Nasional 2026. Kuyut dipanggil Sang Khalik. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…. Kabar duka itu menyebar dengan cepat di grup WhatsApp dan beranda media sosial.
Selamat jalan, Kuyut. Semoga husnul khatimah. Terima kasih untuk segala percakapan tentang sastra di meja kopi, juga di segala yang menjadi pengingat bahwa kerja-kerja berkesenian adalah abadi.** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis





