Jelang Pengukuhan Guru Besar, Prof. Dr. Dini Dewi Heniarti, S.H., M.Hum. Tunjukkan Keteguhan dalam Perjalanan Akademik

Jelang Pengukuhan Guru Besar, Prof. Dr. Dini Dewi Heniarti, S.H., M.Hum. Tunjukkan Keteguhan dalam Perjalanan Akademik
RANGKAIAN profil Guru Besar Universitas Islam Bandung (Unisba) berikut ini adalah sosok Prof. Dr. Dini Dewi Heniarti, S.H., M.Hum. Menghadirkan kisah ketekunan dan keteguhan dalam menapaki jalan panjang akademik hingga mencapai puncak karier sebagai Guru Besar di bidang Hukum Acara Peradilan Khusus.
Di balik capaian tersebut tersimpan perjalanan panjang yang penuh dinamika. Dini Dewi Heniarti resmi menyandang jabatan Guru Besar Fakultas Hukum Unisba setelah terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 44477/M/KPT.KP/2025 pada Desember 2025. Pencapaian ini menjadi penegasan atas dedikasi yang telah ia bangun sejak mulai mengabdi sebagai dosen pada 1991.
Lebih dari sekadar gelar akademik, jabatan tersebut merefleksikan proses panjang yang diwarnai tantangan, pembelajaran, serta konsistensi dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi. Semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan yang mengantarkannya pada posisi tertinggi dalam jenjang akademik.
Karier akademik Dini dimulai sebagai dosen muda di Fakultas Hukum Unisba. Seperti kebanyakan akademisi, ia menapaki jenjang jabatan fungsional secara bertahap. Namun, perjalanan menuju Guru Besar tidak selalu berjalan mulus.
Fase dari Lektor Kepala ke Guru Besar menjadi fase terpanjang dalam kariernya. Ia mengakui bahwa proses tersebut memakan waktu sangat lama. “Perjalanan dari Lektor Kepala ke Guru Besar memakan waktu yang panjang,” ujarnya.
Perubahan regulasi dalam dunia akademik juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satu syarat penting yang harus dipenuhi adalah publikasi di jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus. Bagi Dini, proses ini tidak mudah. Naskah yang ia kirimkan berkali-kali mengalami penolakan. Bahkan, ia menyebut sekitar enam hingga tujuh kali tulisannya ditolak oleh jurnal internasional.
Namun pengalaman tersebut justru menjadi proses pembelajaran. Ia terus memperbaiki naskah, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan mempelajari standar yang diharapkan penerbit jurnal internasional. Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Dalam waktu hampir bersamaan, dua artikel ilmiahnya berhasil terbit di jurnal internasional bereputasi, masing-masing pada kategori Q1 dan Q2. Publikasi tersebut menjadi titik penting yang mengantarkannya mengajukan jabatan Guru Besar.
Menariknya, setelah seluruh persyaratan terpenuhi, proses pengajuan jabatan akademik tersebut justru berlangsung relatif cepat. Dari pengajuan berkas hingga penetapan hanya memerlukan waktu kurang dari tiga bulan.
Di balik perjuangan akademik tersebut, dukungan keluarga menjadi sumber motivasi utama bagi Dini. Ia menyebut suaminya sebagai sosok yang terus mendorongnya untuk menyelesaikan proses menuju Guru Besar. Dorongan tersebut semakin kuat karena sebelumnya ia pernah meraih prestasi sebagai dosen teladan. Pada tahun 2015, Dini meraih Juara I Dosen Teladan tingkat universitas serta Juara II tingkat Jawa Barat dan Banten. Prestasi itu menjadi pengingat bahwa ia memiliki kapasitas untuk mencapai jenjang akademik tertinggi.
Sebagai akademisi, kontribusi ilmiah Dini terutama diwujudkan melalui karya tulis. Ia telah menghasilkan sejumlah buku dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan bidang kepakarannya. Setidaknya terdapat lima buku yang secara khusus membahas bidang keilmuan yang ia tekuni. Selain itu, berbagai artikel ilmiahnya juga dipublikasikan di jurnal akademik. Saat ini, ia juga tengah menyusun buku baru yang membahas tentang peradilan militer (topik yang masih berada dalam lingkup kepakaran hukum peradilan khusus).
Bidang keilmuan yang ia dalami sendiri berkaitan dengan sistem beracara pada peradilan yang memiliki kekhususan tertentu, baik dari aspek hukum materiil maupun hukum acaranya. Sistem tersebut berbeda dengan hukum acara untuk perkara pidana atau perdata umum.
Selama puluhan tahun mengajar, Dini memiliki prinsip sederhana dalam mendidik mahasiswa. Baginya, mahasiswa harus dipandang seperti anak sendiri. Dengan pendekatan tersebut, ia berusaha menciptakan lingkungan belajar yang positif, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menghargai perbedaan kemampuan setiap mahasiswa.
Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, dosen memiliki tanggung jawab moral untuk membantu mereka berkembang sesuai potensi masing-masing.
Bagi Dini, jabatan Guru Besar bukan sekadar simbol prestasi pribadi. Ia memaknai posisi tersebut sebagai tanggung jawab untuk menjadi pemimpin akademik sekaligus sumber solusi bagi masyarakat. Ia meyakini bahwa seorang Guru Besar memiliki otoritas keilmuan yang dapat berkontribusi dalam mendorong kebijakan publik serta memberikan gagasan untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Selain berkontribusi di lingkungan kampus, ia juga menilai Guru Besar harus mampu menghadirkan keilmuannya di ruang publik yang lebih luas. Menurutnya, seorang Guru Besar tidak hanya menjadi “permata” di lingkungan kampus tetapi juga harus mampu memberi pengaruh dan manfaat di luar kampus sebagai representasi institusi.
Menariknya, perjalanan Dini di dunia hukum sebenarnya berawal dari cerita yang tidak biasa. Saat masih calon mahasiswa, ia sebenarnya bercita-cita menjadi dokter. Namun setelah tidak diterima di fakultas kedokteran, ia secara tidak sengaja mendaftar di Fakultas Hukum Unisba pada hari terakhir pendaftaran.
Awalnya Ingin Masuk Kedokteran
Pada awalnya ia sempat merasa salah memilih jurusan. Bahkan selama beberapa semester pertama ia mengaku sempat menyesal. Semua berubah ketika salah seorang dosen mengapresiasi prestasi akademiknya. Nilai-nilai yang baik membuatnya memperoleh beasiswa dan membangkitkan kepercayaan diri bahwa ia mampu menekuni bidang hukum.
Sejak saat itulah ia mulai menekuni dunia akademik secara serius hingga akhirnya memilih jalan sebagai dosen. Kini, setelah lebih dari tiga dekade mengabdi sebagai dosen, Dini berharap capaian ini dapat menjadi inspirasi bagi dosen muda maupun mahasiswa yang ingin meniti karier akademik.
Menurutnya, kunci utama adalah motivasi, konsistensi, dan kemampuan untuk terus belajar. Ia mengibaratkan ilmu pengetahuan sebagai “virus” positif yang harus dimiliki oleh seorang dosen agar dapat menularkannya kepada mahasiswa. “Kalau kita tidak punya virusnya, kita tidak bisa menularkannya,” ujarnya.
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa menjadi Guru Besar bukan semata tentang kecerdasan, melainkan juga ketekunan, keberanian menghadapi kegagalan, serta komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat.
Pengukuhan pada 30 April 2026 menjadi momentum yang menegaskan ketekunan dan keteguhan Prof. Dr. Dini Dewi Heniarti, S.H., M.Hum. dalam menapaki perjalanan akademik. Jabatan Guru Besar dimaknainya sebagai tanggung jawab untuk terus menghadirkan pemikiran hukum yang solutif serta berkontribusi bagi masyarakat.
Perjalanan ini sekaligus menjadi inspirasi bahwa konsistensi, keberanian menghadapi tantangan, dan komitmen untuk terus belajar merupakan kunci dalam mencapai puncak akademik.***


