Menuju Pengukuhan Guru Besar, Perjalanan Penuh Dedikasi Prof. Dr. Sri Suwarsi, S.E., M.Si. Capai Jabatan Guru Besar

MELANJUTKAN rangkaian profil Guru Besar Universitas Islam Bandung (Unisba) yang akan dikukuhkan pada 30 April 2026, sosok Prof. Dr. Sri Suwarsi, S.E., M.Si., hadir dengan perjalanan akademik yang tak kalah inspiratif. Ia meraih jabatan Guru Besar dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia setelah menapaki karier lebih dari tiga dekade dengan penuh ketekunan dan dedikasi.
Perjalanan panjang tersebut mengantarkan Sri Suwarsi meraih jabatan akademik tertinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisba setelah memperoleh Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 43378/M/KPT.KP/2025 pada Desember 2025. Capaian ini tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang sarat dengan konsistensi, refleksi, dan pengabdian di dunia akademik.
Sri Suwarsi memulai kariernya sebagai dosen pada tahun 1995, setahun setelah lulus dari Unisba pada 1994, di usia yang masih 24 tahun. Lingkungan kampus yang telah dikenalnya sejak menjadi mahasiswa menjadikan awal pengabdiannya terasa dekat sekaligus bermakna.
Selama perjalanan kariernya, ia aktif menjalankan berbagai peran akademik dan struktural. Jabatan akademik Lektor Kepala diraihnya pada tahun 2007, setelah 13 tahun mengabdi sebagai dosen. Namun perjalanan menuju Guru Besar tidak langsung ia tempuh. Ia sempat menunda pengajuan jabatan tersebut karena kesibukan menjalankan berbagai tugas struktural, mulai ketua laboratorium, sekretaris program studi, ketua program studi, Wakil Dekan I hingga saat ini menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal Unisba.
Dorongan untuk melangkah menuju jabatan Guru Besar kembali muncul ketika beberapa rekan seangkatannya lebih dahulu meraih gelar tersebut. Kehadiran program studi Doktor Manajemen di FEB Unisba yang membutuhkan lebih banyak Guru Besar juga menjadi motivasi kuat baginya untuk kembali fokus menempuh proses tersebut.
Dalam dua tahun terakhir, ia secara intens menyiapkan berbagai persyaratan akademik dan administratif. Proses itu tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kali pengajuan sempat ditolak, namun ia memilih untuk terus berusaha. Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah tiga dekade pengabdian sebagai dosen.
Bidang keilmuan yang ia tekuni adalah Human Resource Management atau Manajemen Sumber Daya Manusia. Baginya, bidang ini sangat menarik sekaligus menantang karena persoalan manusia dalam organisasi tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan manajemen semata. Dibutuhkan pendekatan multidisiplin, seperti psikologi industri, perilaku organisasi, ilmu sosial, hingga perspektif ekonomi dan politik.
Karena itu, seorang akademisi di bidang manajemen SDM perlu memiliki berbagai kompetensi tambahan, termasuk sertifikasi profesional baik di tingkat nasional maupun internasional. Kompetensi tersebut penting untuk mendukung berbagai fungsi manajemen SDM, mulai dari proses rekrutmen, seleksi, penilaian kinerja, motivasi kerja, hingga kepemimpinan dalam organisasi.
Selain pengajaran, Sri Suwarsi juga aktif melakukan riset di bidang manajemen sumber daya manusia. Beberapa topik yang pernah ia teliti antara lain locus of control, Competency Based Human Resource Management (CBHRM), knowledge management, employer branding generasi milenial, beban kerja karyawan, kesehatan mental, stress kerja dan Green Human Resource Management. Selain riset Sri telah menulis 8 buku, dan buku paling baru terbit tahun 2025, berjudul Pekerja Migran Indonesia Meraih Sukses di Korea Selatan.
Penelitian dan PKM Pekerja Migran Indonesia
Namun kontribusi ilmiah yang paling menonjol dalam perjalanan akademiknya adalah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pekerja migran Indonesia. Sejak 2016 ia mulai menekuni kajian tersebut karena melihat masih terbatasnya penelitian yang secara khusus menyoroti kondisi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Melalui riset tersebut, ia mengembangkan gagasan tentang pentingnya model pelatihan yang tepat bagi pekerja migran, baik sebelum berangkat, selama bekerja, maupun setelah kembali ke tanah air. Pada 2018, ia memperoleh hibah internasional dari organisasi PUM Netherlands untuk mendukung pengembangan program tersebut.
Kegiatan yang dilakukan tidak hanya berupa penelitian tetapi juga berbagai pelatihan bagi purna pekerja migran untuk meningkatkan kemandirian ekonomi mereka. Program ini melibatkan asosiasi purnamigran Indonesia serta kerja sama dengan dunia usaha.
Kolaborasi juga terjalin dengan Kementerian Ketenagakerjaan, khususnya dalam penyelenggaraan berbagai workshop terkait penempatan tenaga kerja luar negeri. Ia juga terlibat dalam penulisan buku yang diterbitkan untuk memperingati 50 tahun kerja sama Indonesia dan Korea Selatan.
Selain itu, bersama para purnapekerja migran di sektor kelautan dan perikanan, ia turut menginisiasi pendirian pusat pelatihan bagi calon tenaga kerja yang akan bekerja di Korea Selatan. Hingga kini, program tersebut telah berhasil mengirim ratusan tenaga kerja ke negara tersebut.
Bagi Sri Suwarsi, jabatan Guru Besar memiliki makna yang mendalam, baik secara personal maupun akademik. Secara pribadi, ia memandang gelar tersebut sebagai anugerah yang harus disyukuri dengan cara memberikan teladan, tetap rendah hati, serta meningkatkan kontribusi bagi institusi dan masyarakat luas.
Sementara secara akademik, ia menegaskan bahwa Guru Besar bukan sekadar gelar, melainkan figur yang diharapkan mampu memberi pengaruh besar dalam pengembangan riset, pengajaran, serta arah kebijakan pendidikan di perguruan tinggi. Seorang Guru Besar harus menjadi barometer dalam pengembangan ilmu di tingkat program studi, fakultas, hingga universitas.
Dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat yang terus berkembang, ia menilai Guru Besar memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan perspektif baru melalui karya ilmiah, riset, maupun pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, kehadiran akademisi tidak hanya berhenti di ruang kelas tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Dalam mendidik mahasiswa, Prof. Sri Suwarsi memegang prinsip mengajar dengan ketulusan hati. Ia meyakini setiap mahasiswa memiliki potensi dan keunggulan masing-masing yang perlu diasah melalui proses pembelajaran yang tepat. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki kepercayaan diri terhadap ilmu yang mereka pelajari serta mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Sebagai Guru Besar di Unisba, ia memaknai perannya sebagai panutan dalam sikap, tindakan, dan kinerja. Jabatan tersebut menjadi pengingat baginya untuk terus melakukan evaluasi diri serta menghasilkan karya ilmiah yang lebih berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Kepada dosen muda, ia berpesan agar memiliki peta jalan karier yang jelas dan fokus. Profesi dosen, menurutnya, merupakan panggilan hati. Ketika seseorang menjalaninya dengan ketulusan, berbagai tantangan dapat dilalui lebih ringan. Ia juga menekankan pentingnya budaya berbagi pengetahuan, pengalaman, serta kolaborasi antarakademisi.
Sementara kepada mahasiswa, ia mengingatkan bahwa keberhasilan ditentukan oleh proses. Dengan menjalani proses belajar secara total dan penuh antusiasme, hasil terbaik akan datang pada waktunya.
Perjalanan panjang Sri Suwarsi menunjukkan bahwa ketekunan, kesabaran, dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dapat mengantarkan seseorang pada puncak pencapaian akademik. Lebih dari sekadar gelar, jabatan Guru Besar baginya adalah amanah untuk terus memberi manfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas.
Pengukuhan pada 30 April 2026 menjadi penegasan atas perjalanan panjang Sri Suwarsi, S.E., M.Si., dalam dunia akademik. Jabatan Guru Besar dimaknainya sebagai amanah untuk terus memberi kontribusi melalui pengembangan ilmu, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan pengalaman dan kiprahnya, ia diharapkan terus berperan dalam memperkuat pengembangan manajemen sumber daya manusia yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.***

