Merawat Ingatan di “Meja Satu” Tempoa Art Jambi
Merawat Ingatan di “Meja Satu” Tempoa Art Jambi

“Lain waktu datang lagi,” katanya. Saya mengangguk. Memang benar, saya bermaksud datang lagi ke sana. Sebab, hari itu waktunya sangat terbatas sekali.
SEKITAR– tahun 2018 pertama kali saya berkunjung. Saya mengundang Ramayani Riance, penyair perempuan Indonesia, yang kemarin itu meluncurkan buku puisi keempat karyanya. Buku tersebut berjudul “Tasbih Batanghari”.
Selain diluncurkan, buku itu juga diterbitkan. Saya diminta menjadi pembicara, juga Sulaiman Juned, dan penyair Jambi, Jumardi Putra. Saya dan Sulaiman Juned sedang melakukan Tur Literasi Sumatera di Provinsi Jambi.
“Saya belum menjamumu.Kopi, teh, atau jus?” tawarnya lagi. Dia tersenyum dan tampak santai.
Sulaiman Juned menolak halus. “Seharian sudah beberapa gelas kopi,” ujarnya. Benar, pagi sebelumnya kami sudah ngopi di kedai kopitiam di Pasar Hongkong.
“Kalau begitu adil. Ya, adil, ya?” desaknya lagi. Sulaiman Juned mengangguk karena segan. Saya juga.
“Ada jus jeruk. Dingin atau panas?” katanya. “Dingin,” jawab saya, sementara Sulaiman Juned meminta panas.
Menjelang senja itu, sehabis membincangkan buku Ramayani, kami tiba-tiba tiba di sebuah meja di ruangan itu. Dia menyebutnya dengan sebutan asing. Sebuah akronim. Tapi saya lupa mencatat nama meja itu.
“Sudah banyak yang duduk di sini. Meja khusus untuk orang-orang tertentu. Sering kali pejabat dan seniman,” katanya. “Kalau ada orang yang tidak jelas kepentingannya, karyawan saya langsung bertanya dan mempersilakan menduduki kursi yang lain.”
Saya mengangguk. Kursi dan meja di situ pasti sangat istimewa. Lalu saya usulkan tambahan namanya: “Meja Satu”.
Iya, satu-satunya meja yang ditempati oleh orang-orang nomor satu sesuai bidangnya. Tentu, saya senang berkesempatan duduk di situ.
“Ya, boleh juga,” jawabnya sambil tertawa. Setelah itu, kami tiba-tiba lepas. Jus jamuan tiba.
Itu pertemuan pertama saya dengan sosok seniman Jambi ini. Namanya Rachmadi A. Dia pemilik Hotel Tempoa dan pemilik Museum Bioskop Jambi. Di sini satu di antara puluhan bioskop di Jambi yang pernah jaya di zamannya.
Sayang karena waktunya terbatas, saya tidak dapat masuk melihat isi museum. Hanya bisa menggali cerita dari Bang Rachmadi—demikian saya akrab menyapanya.
Di luar gedung, memang saya melihat banyak sekali poster film layar lebar bioskop di era jadul periode 1970–1990. Bintang-bintang filmnya mulai dari Suzanna, Dono Warkop, hingga bintang laga seperti Barry Prima. Di sana juga tersimpan proyektor, kursi bioskop, kendaraan, hingga pita kaset film. Asyik sekali.
Museum itu terbuka untuk umum dan boleh dikunjungi siapa saja yang tertarik pada sejarah. Buka setiap hari mulai pukul 10.00–16.00 WIB dan dikenakan biaya masuk. Yang menarik, bioskop itu mempertahankan bentuk aslinya. Di lantai tiga terdapat ruang pameran dan sering juga dijadikan ruang pelatihan UMKM, diskusi budaya, maupun membaca puisi.
“Kok tidak pakai kaus buku puisi ‘Tasbih Batanghari’?” tanya saya di tengah percakapan itu. Dia tertawa.
“Pakaian saya ini program khas The BeBiBeBa Show. BeBiBeBa akronim dari ‘Bebas Bicara Bebas Bahasan’. Ini program rutin Tempoa hampir setiap pekan dengan berbagai topik. Yang antre mau mengisi program BeBiBeBa Show sudah sampai Agustus mendatang,” jawabnya.
“Luar biasa,” gumam saya. Kegiatan itu sangat keren.
Maka, hari itu, sebagai moderator diskusi buku “Tasbih Batanghari” karya Ramayani, Bang Rachmadi hanya mengenakan kemeja khusus program BeBiBeBa. Dia juga mengenakan topi khas seniman. Sebelum pulang, ia mengajak berfoto sambil memeluk bahu saya dan Sulaiman Juned.
Acara buku “Tasbih Batanghari” memang disisipkan dalam program BeBiBeBa. Bang Rachmadi menggali banyak pandangan kepada pemantik ketiga diskusi terkait buku itu. Saya sendiri menyiapkan sebuah makalah. Ah, lebih tepatnya sebuah esai.
Dari sana, saya menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar meluncurkan buku. Ada semangat merawat ruang temu. Ada kesadaran bahwa karya tidak cukup hanya ditulis, tetapi juga harus dirayakan. Seperti merayakan bayi yang baru dilahirkan.
Museum Bioskop Jambi, bagi saya, bukan hanya tempat menyimpan benda-benda kuno. Tempat itu telah menjadi kenangan. Di tengah arus digital yang deras, di mana gawai di genggaman menggantikan layar lebar di gedung-gedung tua, museum seperti ini menjadi jangkar. Ya, setidaknya menahan kita agar tidak sepenuhnya oleh kenangan di masa lalu.
Di Museum Bioskop Jambi, sejarah tidak hanya dipajang, tetapi dihidupkan kembali. Kursi-kursi bioskop yang mungkin pernah dipenuhi penonton, kini menjadi saksi bisu perjalanan budaya populer. Proyektor yang dahulu memutar film, mulai dari gambar bergerak tanpa suara hingga gambar bergerak dengan suara dan warna, kini mengajarkan bahwa setiap zaman punya cara sendiri dalam bercerita.
Di sisi lain, ruang diskusi dan pelatihan yang dihadirkan Tempoa di dalamnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Museum tidak berhenti sebagai ruang nostalgia, namun bergerak menjadi ruang produksi gagasan.
Di situlah pentingnya. Bahwa seni dan budaya tidak boleh berhenti pada kenangan, harus terus bergerak, bertransformasi, dan menemukan bentuk-bentuk baru.
Begitu juga dengan buku. Buku-buku baru harus terus lahir. Ditulis dengan kegelisahan zaman. Dibaca dengan kesungguhan. Dan yang tak kalah penting, didiskusikan dalam ruang-ruang seperti Tempoa.
Peluncuran buku bukan sekedar seremoni, melainkan sebuah perayaan pikiran. Diskusi bukan sekedar formalitas, sebaliknya adalah cara menguji gagasan.
Saya percaya, sebuah buku akan menemukan hidupnya setelah ia dibaca dan dibicarakan. Di situlah ia tumbuh, berkembang, bahkan kadang diperdebatkan.
Dan pertemuan-pertemuan seperti itu, di sela-sela minum jus atau kopi, sering kali melahirkan ide-ide yang tidak terduga. Saya menulis esai ini juga dari sesuatu yang tak terduga.
Ya, saya merasakannya. Banyak tulisan saya lahir dari pertemuan-pertemuan seperti ini. Dari pembicaraan ringan yang tiba-tiba menjadi dalam, dari candaan yang berbelok menjadi renungan.
Memungut ide, bagi saya, bukan pekerjaan yang harus selalu direncanakan. Ide bisa datang dari mana saja. Dari meja diskusi, dari perjalanan, dari percakapan yang mungkin terlupakan jika tidak segera dicatat.
Soal ide ini, juga kami kupas tuntas saat saya dan Sulaiman Juned memenuhi undangan Rumah Baca Marenda di Kabupaten Dharmasraya, sepulang dari Jambi.
Di pentingnya silaturahmi antarseniman. Bukan sekadar menjaga hubungan, tetapi juga membuka kemungkinan. Setiap pertemuan adalah ladang gagasan. Setiap dialog pintu masuk bagi tulisan baru.
Tempoa, dengan segala aktivitasnya, telah menjadi salah satu ruang itu. Ruang di mana orang-orang datang tidak hanya untuk bertemu, tetapi juga untuk bertumbuh.
Dan saya, yang waktu itu hanya berhenti sebentar, merasa belum selesai. Maka, saya sampaikan kepada Bang Rachmadi bahwa saya akan datang lagi. Namun, entah kapan waktu akan terulang. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis
Editor: Rianto Muradi





