Kolom Sosial Politik

Ada Teror Politik Untuk Para Aktivis

142views

 

Oleh: Ridhazia

AKTIVIS KontraS, Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tidak dikenal. Kejadian ini diduga sebagai intimidasi dan provokasi.

Pasalnya, aktivis HAM ini kerap menyuarakan isu reformasi keamanan dan remiliterisasi di Indonesia pada era Presiden Prabowo.

Kejadian serupa pernah dialami penyidik KPK Novel Baswedan pada 2017. Saat itu korban getol membongkar kebusukan sejumlah pejabat dan politis korupsi.

Teror Politik

Dua kasus penyiraman air keras tersebut bukan aksi individu spontan. Tapi kejahatan yang bertransformasi menjadi teror politik.

Khususnya teror untuk melumpuhkan daya kritis aktivis secara psikologis tanpa harus melenyapkan seluruh populasi aktivis.

Para pelaku teror lazim memiliki relasi kuasa dengan aktor politik yang kuat dan tersembunyi sehingga tidak mudah teridentifikasi.

Sulit Terungkap

Untuk mengungkapnya teror jenis ini lebih rumit, bahkan menemui jalan buntu, karena melibatkan jaringan sel terputus, motif kekuasaan/politik, pendanaan terselubung serta konflik ideologi para aktor politik.

Teror Politik : Partisipasi Politik

Secara teoritis, teror politik sebagai bentuk partisipasi politik ekstrim ketika jalur partisipasi formal tidak tersedia atau tidak efektif sebagaimana pemikiran ahli ilmu politik Samuel P. Huntington dan Joan Nelson dalam buku “No Easy Choice : Political Participation in Developing Countries”

Dalam hal ini, teror politik bukan sekadar tindak kriminal biasa melainkan tindakan sadar untuk memaksa perubahan kebijakan, menunjukkan ketidakpuasan secara ekstrem hingga penggulingan rezim.

Jadi, tidak cukup hanya melibatkan polisi! *

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response