Uncategorized

Selamat Jalan “Bapak Demokrasi Deliberatif”

92views

 

Oleh: Ridhazia

DUNIA telah kehilangan “Bapak Demokrasi Deliberatif” Jürgen Habermas (1929-2026). Filsuf asal Jerman wafat karena sudah sepuh. Usianya ketika tutup mata 96 tahun.

Saya mengenal mendiang dengan teori rasionalitas komunikasi karena akademisi yang berfokus pada sosiologi itu berargumen bahwa kebebasan dicapai melalui komunikasi rasional yang bukan paksaan atau tekanan. Tapi kesetaraan.

Diidealisasi, legitimasi kekuasaan politik di ruang publik pun sejatinya lahir dari diskursus ketika a sipil memiliki daya tawar yang rasional, bebas, dan argumentatif.

Berakar Dari Marxisme

Meskipun pemikiran Jurgen Habermas berakar dari Marxisme, ia tidak menganggap Marxisme sebagai penjelasan yang pasti benar.

Hal itu bisa ditelusuri dari pengalamanya 1960-an sebagai pendukung intelektual kuat dari gerakan mahasiswa sayap kiri di Jerman. Tapi kemudian memutus hubungan dengan gerakan mahasiswa dengan mengidentifikasi gerakan itu sebagai “fasisme kiri”.

Pengalaman itu oleh para pendukungnya memantik Jurgen Habermas memulai dengan pergumulan pemikiran yang berfokus pada teori rasionalitas komunikasi daripada revolusi kekerasan.

Madzhab Frankurt

Mazhab Frankfurt adalah kelompok pemikir neo-Marxis berbasis di Institute für Sozialforschung, Frankfurt, Jerman yang dikembangkan para akademisi pemikiran kritis terkait masyarakat modern, kapitalisme, dan budaya yang dikemas dalam Teori Kritis.

Teori Kritis intinya mengkritik dominasi, struktur kapitalisme, positivisme, dan industri budaya moderen. Teori ini juga menolak teori tradisional yang bebas-nilai.

Generasi Kedua

Jurgen Habermas dikaitkan dengan Mazhab Frankfurt karena memiliki kesamaaan paradigma pemikiran yang ditawarkan oleh para perintis mazhab yaitu Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcus.

Harmoni Sosial

Di antara kesamaan paradigmatik dengan pemikiran pendahulunya di madzhab Frankurt ia justru menolak dominasi rasionalitas instrumental yang mematikan ruang publik.

Ia menawarkan alternatif pembeda dengan apa yang disebut sebagai tindakan komunikatif yang rasional melalui seleksi bahasa komunikasi yang bebas dari paksaan (unforced force of the better argument).

Yaitu komunikasi yang memenuhi klaim validitas yang dapat dipahami, benar, tepat, dan jujur untuk mencapai harmoni sosial yanhg disebut Tindakan Komunikatif (Communicative Action).

Pendekatan ini mengarusutamakan pemahaman bersama (mutual understanding) dan konsensus rasional, bukan pemaksaan kehendak.*

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolunmnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response