Musik & Budaya

Ngopi Sewarung: Desakralisasi Puasa

Ngopi Sewarung Desakralisasi Puasa

167views

Ngopi Sewarung

Desakralisasi Puasa

BATASAN– tugas berpuasa itu momen paling sakral dalam perjalanan hidup manusia. Menghentikan kegiatan rutin makan dan minum selama satu bulan penuh yang diikuti oleh aneka ritual ibadah dalam keheningan dan hening untuk membuka kesadaran eksistensial individu manusia di hadapan Tuhan dan alam semesta. Dalam puasa semua kegiatan duniawi berhenti, hati dan pikiran bersih dari segala keinginan dan nafsu bendawi. Melepaskan segala kemelekatan status dan ambisi duniawi yang selama ini mendangkalkan kesadaran dan menjadi hijab (penghalang) hubungan masing-masing individu manusia dengan mahluk-Nya. Dengan demikian, manusia seperti ulat yang baru keluar dari kepompong, menjadi manusia baru, bersih dari segala himpitan dan penjara file-file pikiran dan goresan hati lama yang tidak perlu dan mengganggu hubungan dengan Tuhan dan energi alam semesta.

Namun, bulan Ramadhan dengan segala bentuk seremonial mengubah kesakralan puasa menjadi profam (duniawi, tidak sakral). Sesak dengan kumpulan orang bersuka-ria, hiruk pikuk dan gaduh dengan keramaian suara puja puji berlebihan dan perbuatan baik yang dipertontonkan, menghindari ritual puasa dari keheningan bahkan dari kesadaran eksistensial manusia itu sendiri. Puasa menjadi sekedar ritual dan seremonial dengan segala sajian macam makanan berlimpah. Lalu, kenapa kita harus terjebak dengan cara berpuasa seperti itu?! Pahami perasaannya, Uten Sutendy/rm

Leave a Response