Perang Makassar telah lama usai. Meriamnya sunyi dan laut yang dahulu memerah karena perlawanan, kini tampak tenang.

Namun, sejarah tak pernah benar-benar berakhir. Selalu hidup dalam ingatan atau justru mati karena dilupakan.

Galesong adalah wajah perlawanan yang menolak penyerahan pada zaman. Di usianya yang terlalu muda untuk menyerah, ia memilih berlayar, melawan, dan gugur jauh dari tanah kelahirannya.

Kekalahan militernya bukan akhir. Karena keberanian dan prinsip yang ia wariskan melampaui kemenangan dan perjanjian.

Jika hari ini nama Karaeng Galesong jarang disebut, bukan karena perlawanannya kecil. Melainkan karena ingatan kita yang menyempit.

Mengingatnya kembali bukan sekedar mengenang masa lalu, sekali lagi kita tegaskan satu hal. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak menghapus jejak orang-orang yang pernah berdiri paling depan melawan ketidakadilan.

Perang yang Tak Sesingkat Sejarah Buku Teks

Perjanjian Bungaya yang ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 sering dicatat sebagai penanda berakhirnya Perang Makassar (1666–1669). Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati untuk melestarikannya.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Hasanuddin, Prof. Syamsuddin M. Noor, justru menyatakan bahwa Perang Makassar berlangsung jauh lebih panjang.

Menurutnya, konflik ini telah dimulai sejak masa Sultan Alauddin, ayah Sultan Hasanuddin dan berlangsung selama hampir satu dekade. Akar persoalannya terletak pada pemaksaan monopoli dagang VOC yang ditolak tegas oleh Kerajaan Gowa-Tallo.

Penolakan itu bukan sekadar perkara ekonomi, melainkan sikap politik dan prinsip kedaulatan. Laut adalah ruang bebas, bukan milik satu bangsa.

Karaeng Galesong: Anak Muda, Laut dan Perlawanan

Dari sekian banyak penggalan Perang Makassar, satu gambar terus memikat perhatian. Karaeng Galesong. Ia bukanlah seorang jenderal tua, bukan juga bangsawan mapan yang matang karena usia.

Saat perang berkecamuk, usianya baru 14 tahun, namun ia telah memimpin ribuan pasukan laut.

Karaeng Galesong dikenal sebagai kader terbaik Akademi Militer Galesong, pusat pendidikan militer Kesultanan Gowa-Tallo. Akademi ini bukan lembaga biasa.

Instrukturnya didatangkan langsung dari Turki Utsmani hingga Eropa ikut melatih para prajuritnya. Dari lahirnya pelaut-pelaut tangguh yang disegani bahkan oleh VOC.

Menolak Tunduk, Memilih Berlayar

Bersama Karaeng Bontomarannu dan sekitar 20 ribu prajurit, Karaeng Galesong memilih seluruh laut. Tak kurang dari 70 kapal perang mengiringi pelayaran mereka.

Keputusan ini lahir dari persetujuan terhadap Perjanjian Bungaya yang dianggap mencabik-cabik kehormatan dan warisan Gowa-Tallo dan bangsa Makassar.

Namun, sikap itu bukan pembangkangan terhadap Sultan Hasanuddin. Mereka memahami posisi sang Sultan yang terdesak oleh tekanan militer dan politik VOC. Oleh karena itu, perlawanan tidak dihentikan, melainkan dipindahkan ke medan lain.**Alfatihah untuk I Maninrori Kare Tojeng Karaeng Galesong Tu Menanga ri Tappakna .