Musik & Budaya

Ngopi Sewarung Celaan fisik

Ngopi Sewarung Celaan fisik

152views

Ngopi Sewarung

Celaan fisik

Mengkritik itu bagian terpenting dalam kehidupan berdemokrasi. Bagaimana mungkin demokrasi bisa berjalan tanpa adanya semangat dan kekuatan kritis dari kelompok atau individu masyarakat. Bukankah demokrasi tidak akan pernah ada jika kelompok masyarakat belum memiliki kemampuan mengkritisi, bisa menerima perbedaan pendapat dan pandangan termasuk perbedaan pendapat dengan penguasa?!

Namun demikian, dalam pergaulan etika yang diajarkan oleh para pendiri dan guru filsafat, yang namanya kritik itu ada standar etikanya. Tanpa standar itu bisa berakibat fatal. Konsekwensinya terjerat pasal hukum.

Ajaran paling dasar atau paling kuno dari konsep etika demokrasi adalah, jangan mengatakan apapun apalagi melontarkan kritik jika belum benar-benar mengetahui dan paham betul apa sesungguhnya yang menjadi obyek kritik. Jangan pula menyampaikan sesuatu jika tak pernah melihat, mengalami atau merasakan sendiri objek materi yang ingin disampaikan. Artinya dalam berdemokrasi kemampuan memiliki dan menguasai data-informasi serta keluhuran ilmu pengetahuan mutlak adanya. Kemampuan logika -diaketika bisa saja dipakai, namun sifatnya hanya alat pengekspresian kerja berfikir (metode berfikir) dan strategi komunikasi. Sama sekali bukan keahlian yang bisa menjadi andalan apalagi jadi argumen dasar etik dan hukum. Logika dan kemampuan dialektika bersifat alat pendukung semata.

Kritik harus fokus diarahkan langsung pada obyek substansi masalah, bukan ke subyek masalah. Jika fokus ke obyek masalah akan lahirnya perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Sebaliknya, jika terlalu sering fokus pada subyek akan menimbulkan kebencian dan konflik.

Ketika seseorang atau kelompok atau juga institusi melakukan kesalahan dalam kebijakan, pemikiran dan keputusan, harusnya yang menjadi objek kritik bukan subyek orang, kelompok atau institusinya yang disalahkan, melainkan pemikiran, kebijakan, dan keputusannya. Karena ketika kritik ditujukan kepada subyek, orang atau institusi, maka itulah yang disebut body-shaming (celaan fisik), kritik yang diarahkan pada kondisi fisik seseorang atau institusi. Yang dimaksud dengan memukul institusi bisa mengarah pada delegitimasi satuan-satuan kekuasaan dan berdampak buruk pada rusaknya ekosistem ekosistem kehidupan sosial.

Pahami perasaannya,
Tuan Sepuluh.

Leave a Response