Kolom Sosial Politik

Menjadi Working Mom Suatu Kesalahan?

315views

 

 Oleh: Alinda Destiana

WORKING mom adalah kata yang sudah akrab terdengar di telinga kita, istilah ini disematkan bagi seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki anak, tetapi masih memiliki pekerjaan lain diluar pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.

Tuntutan lingkungan yang akan dihadapi saat menjadi working mom berkaitan dengan kemampuan kita dalam memainkan peran ganda sebagai seorang ibu di rumah dan karyawan di tempat kerja. Tidak hanya itu, working mom juga ditantang untuk memiliki kemampuan dalam menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga dan karyawan, yang diistilahkan dengan work-family balance.

Saat ini banyak penelitian yang menyatakan bahwa work-family balance akan tercapai dengan adanya dukungan dari lingkungan terdekat. Oleh karenanya, dalam rangka memberikan dukungan bagi working mom, penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu bagaimana kondisi keseharian para working mom. Dalam kesehariannya, para working mom ini di setting untuk mampu menghadapi banyak tuntutan, tekanan serta ekspektasi dari lingkungan kerja dan keluarga.

Mulai dari mengurus domestik rumah tangga yang tidak ada habisnya, tuntutan untuk memiliki waktu dalam melayani suami dan mengasuh anak, belum lagi tuntutan dalam menyelesaikan target serta pencapaian kerja. Ironinya, dibalik perjuangan seorang working mom untuk membangun keseimbangan dalam menjalani peran ganda, justru masih banyak orang-orang yang memberikan stigma negatif pada mereka.

Working mom dianggap sebagai individu egois yang hanya mementingkan pencapaian pribadi dan tidak mementingkan keluarga. Stigma negatif yang diterima oleh working mom terwujud dalam sikap menghakimi atau mengkritik secara berlebihan yang diistilahkan dengan working-mom shaming.

Hal menarik dari fenomena working-mom shaming ini adalah para pelakunya yang justru didominasi oleh sesama wanita. Mereka berupaya untuk merendahkan para working mom dengan menghakimi keputusan yang diambil serta mengkritik perannya sebagai seorang ibu. Fenomena working-mom shaming ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetap ramai juga diperbincangkan di dunia maya.

Pada kenyataannya para working mom ini seringkali merasa overwhelmed dengan rutinitas harian yang harus mereka jalani, belum lagi harus menghadapi citra negatif yang diberikan oleh lingkungan. Perasaan kewalahan yang mereka alami tidak selalu bersumber dari tugas rumah dan kantor yang menumpuk, melainkan bersumber dari pola pikir yang keliru.

Semua citra negatif dan kritikan yang diterima oleh para working mom, akan memunculkan pola pikir bahwa mendapatkan validasi dari lingkungan menjadi prioritas utama dibandingkan menemukan work-family balance. Sehingga, jalan keluar terbaik yang mereka pikirkan adalah menyibukkan diri dengan menjaga image juga reputasi demi mendapatkan validasi dari lingkungan. Dengan begitu, mereka akan “memaksakan diri” untuk menampilkan “kesempurnaan” sebagai seorang ibu yang istimewa, seorang karyawan yang produktif, dan seorang istri yang ideal.

Memaksakan diri untuk tampak sempurna saat menjalani peran ganda dengan tanggung jawab yang besar merupakan awal dari masalah yang sebenarnya. Disadari atau tidak lambat laun para working mom ini akan merasa “rusak”, layaknya mesin yang dibiarkan menyala terus menerus tanpa diberikan jeda untuk istirahat.

Di saat inilah mereka akan mulai merasakan kewalahan dalam mengatur waktu, mulai merasa tidak memiliki jeda istirahat bahkan hanya untuk makan dan tidur dengan nyaman, mulai merasakan emosi yang tidak stabil, kemunculan konflik peran antara menjadi ibu atau karyawan, dan yang paling krusial adalah munculnya rasa bersalah pada anak serta merasa diri tidak kompeten baik sebagai seorang ibu maupun karyawan.

Dengan memahami dinamika konflik yang dihadapi oleh working mom, jadi apakah keputusan menjadi working mom itu suatu kesalahan? Sejatinya tidak ada jawaban mutlak akan pertanyaan tersebut, karena pada hakikatnya jawaban dari pertanyaan tersebut bersifat personal. Hal ini dikarenakan setiap ibu memiliki kisahnya tersendiri yang mendorong mereka memutuskan untuk menjadi seorang working mom. Artinya, keputusan yang diambil untuk menjadi seorang working mom itu sudah melalui proses pemikiran yang matang serta pertimbangan mendalam akan konsekuensi yang akan diterima.

Tidak semua working mom mampu dan kuat untuk menghadapi stigma negatif juga kritik yang dilontarkan kepada mereka. Oleh karenanya, dukungan dari lingkungan terdekat seperti pasangan, keluarga dan teman merupakan fondasi utama bagi para working mom dalam menemukan work-family balance sesuai dengan versinya masing-masing. Sehingga keseimbangan inilah yang nantinya akan membantu para working mom dalam meningkatkan kepuasan hidup, memunculkan rasa bahagia dan membentuk mental yang sehat.

Menghadirkan dukungan dalam bentuk kesempatan untuk jeda sejenak dari segala rutinitas rumah dan kantor merupakan hal berharga yang dapat diterima oleh para working mom. Dengan membantu para working mom mewujudkan work-family balance, kita akan memahami bahwa: “Bekerja tidak mengurangi perannya sebagai ibu, justru menunjukkan makna perjuangan dari seorang ibu”.

*Alinda Destiana, psikolog klinis anak dan remaja, calon lulusan Program Diploma Montessori, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response