Kolom Sosial Politik

Ironi Swarnadwipa

148views

 

Oleh: Ridhazia

BENCANA di Sumatera menyisakan duka dan luka mendalam. Sekaligus menjadi ironi yang menyakitkan.

Pasalnya kepulauan terluas keenam sedunia ini terkenal sebagai pulau emas atau Swarnadwipa.

Kata Swarnadwipa — yang ditemukan pada Prasasti Nalanda dari tahun 820 dan Prasasti Tanjore dari tahun 1030 yang merujuk pada Kedatuan Sriwijaya telah ada sejak 671 itu — untuk mendeskripsikan tanah Sumatera yang setiap lapisnya mengandung logam mulia.

Deposit Emas

Bayangkan saja, penelitian terbaru mengestimasi deposit emas di pulau Sumatera seluas 473.481 km² ini masih melimpah hingga sekarang.

Diperkirakan potensinya emas di Sumatera yang masih bisa dieksplorasi sekitaran 168 juta ton.

Fakta Historis

Pulau emas Sumatera sudah dikenal sebelum awal sejarah kalender Masehi dibuat. Dalam peta yang dibuat Willem Lodewijcksz kalau Sumatra sudah diidentifikasi sebagai Pulau Emas.

Klaudius Ptolemaeus, ahli geografi berkebangsaan Yunan yang membuat peta fenomenal dunia pada 150 SM menyebutnya Sumatera sebagai Chyrse Chersonesos (Semenanjung Emas).

Sebagai Pulau Emas diklarifikasi berdasarkan pengakuan Rahib Buddha Tiongkok I Tsing ketika menyambangi Kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh Masehi.

Ia menyebut pulau Sumatera sebagai “Chin-chou” artinya “negeri emas”. Nama ini merujuk pada kekayaan alam, terutama emas yang dimiliki Sriwijaya.

Sejarawan O.W. Wolters dalam buku Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII (2017) sudah mengungkap kalau kepulauan Sumatera sebagai sumber emas dunia.

Pun, William Marsden yang menulis dalam buku klasik The History of Sumatra (1811). Bahwa tambamg emas ditemukan di Padang Sumatera Barat.

Denys Lombard dalam buku Kerajaan Aceh (1986) mencatat Aceh memiliki 300 tambang emas 24 karat. Propinsi paling ujung Sumatera itu seolah-olah tanah bergumpalan emas.

Pendek kata, kesejatian Sumatera bukan sebagai ladang banjir akibat deforestasi, yakni penggundulan hutan.

Juga bisa jadi karena ekplorasi hutan untuk penemuan emas yang tak kalah masif sejak era kolonialisme Belanda hingga sekarang.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response