“Scholar Activist”, UNAS Bisa Jadi Pelopornya
"Scholar Activist", UNAS Bisa Jadi Pelopornya
PADA— Diskusi Publik dan Tribute “Mengenang Harry Wibowo: Ilmu Sosial Emansipatoris dan Etika Perlawanan”, Selasa, 18 Juni 2025 saya hadir dan berbagi pengalaman diantara para kolega yang berinteraksi selama masa hidupnya. Selain saya ada Vedi R. Hadiz (University of Melbourne), Sri Lestari Wahyuningroem (UPN Veteran Jakarta), Rahadi Teguh Wiratma (Prisma), Belly Stanio(LBH Jakarta) yang dimoderatori Andi Achdian (Fisip UNAS)
Almarhum yang wafat bulan 19 Mei lalu adalah sosok luar biasa yang dikenal luas sebagai intelektual dan pejuang HAM hingga akhir hayatnya.
Saya mengenalnya sejak aktif di kemahasiswaan di ITB terutama karena kami punya perhatian soal pertanahan dan agraria yang di era 1980an, terlebih saya juga aktif di Kelompok Studi Pertanahan (KSP). Dia kawan yang telaten dan kritis ketika mendiskusikan bacaan-bacaan geografi kritis seperti David Harvey dan lainnya. Seorang mentor yang baik bagi yunior yang keingintahuannya tinggi.
Saya membagikan lima kegundahan yang sering kami didiskusikan dalam tiga tahun terakhir, diantaranya memperluas jaringan “scholar activist” (SA) di negara berkembang. SA adalah jembatan agar interaksi pemikiran dialektis teori dan praxis terjadi.
Selama ini, ruang dialog sebagian besar hanya diberikan kepada aktor negara: pejabat, BUMN, dan swasta. Mungkin ini cara aman universitas menaikan “derajat” dengan tidak mengambil posisi kritis dalam urusan publik.
Barangkali UNAS bisa jadi pelopornya. Ada jejak almarhum dimasa lalu ketika tradisi kritis mulai digaungkan melalui Kelompok Studi dan juga pers kampus di era 1980an. Tema diskusi “Ilmu-Ilmu Sosial Emansipatoris, Masyarakat Digital dan Hak Asasi Manusia” bisa jadi refleksi untuk terus digali.
Karenanya tidak berlebihan kalau kita melembagakannya. Ada pojok Harwieb di perpustakaan fisik dan digital, beasiswa, serta dukungan berbagai penelitian dimana HAM sebagai konsentrasinya terutama untuk kelompok marginal.
Suara yang sayup-sayup terdengar mudah-mudahan menjadi dominan mengisi ruang perdebatan intelektual di berbagai kampus dan tentunya para aktivis pergerakan. **Farhan Helmi adalah Presisent Dilans Indonesia





