Kolom Sosial PolitikUncategorized

Selamat Tinggal MADINAH

500views

Oleh Ridhazia

Madinah itu tujuan antara. Mekah tujuan utama. Miqat di Bir Ali yang berjarak 11 kilometer dari Masjid Nabawi menjadi keniscayaan melafalkan niat untuk melaksanakan ibadah haji.

Inilah Yastrib

Madinah yang megapolitan seperti sekarang disebut dalam sejarah pra-Islam sebagai Yatsrib. Potret sebuah kota tua yang pernah menjadi pusat perubahan peradaban dan geopolitik paling dinamis di Semenanjung Arab.

Yatsrib yang terletak di sebelah utara Makkah beriklim gurun. Suhu tertinggi rata-rata berkisar antara 10 °C sampai 25 °C. Kebalikannya dari sebagian besar padang pasir yang panas dan kering di Semenanjung Arab.

Yatsrib juga makmur. Dianugerahi alam dengan ribuan oase yaitu kantung-kantung air di tengah gurun pasir lengkap dengan tumbuhan vegetasi.

Anugerah inilah yang dalam perkembangannya menjadikan kawasan ini lahan pertanian dan perkebunan yang memproduksi sayuran dan, buah-buahan diantaranya kurma terbaik dari Tanah Arab.

Asal-Usul

Kata Yatsrib (konon) dinisbatkan dari nama tokoh bernama Yatsrib dari Bani ‘Umalaq yakni manusia prasejarah nomaden keturunan Nabi Nuh yang membentuk peradaban kuno.

Sedangkan pemukim Yahudi dan Nasrani berimigrasi bersamaan perluasan kekaisaran Romawi di Yatsrib. Pertumbuhan agama monoteisme ini tumbuh menjadi potensi konflik dengan penduduk asli Arab dengam kepercayaan paganisme. Yakni doktrin kuno yang menyembah berhala.

Piagam Madinah

Konflik agama dan politik yang berkepanjangan di Yatsrib mencapai puncak perdamaian hingga muncul Piagam Madinah pada era Islam.

Piagam Madinah (shahifatul madinah) atau Konstitusi Madinah merupakan suatu perjanjian formal perdamaian semua suku-suku dan aliran agama di Yatstrib yang diinisiasi Nabi Muhammad pada tahun 622 M.

Jalur Kemenyan

Yatsrib pada era Romawi dikenal dengan sebutan Lathrippa — sebagaimana kata Maccaroba untuk menyebut Mekah yang digunakan dalam Dictionary of Greek dan Roman (1854) — itu sebagai jalur yang strategis yang disebut sebagai jalur “Kemenyan” yakni jalur perdagangan yang berkembang sekitar abad ke-7 SM hingga abad ke-2 M .

Jalur ini membentang sepanjang Syam dan Mesir melewati Afrika Timur tembus ke Semenanjung Arabia sebagaimana dideskripsikan pada peta buatan geografer bernama Klaudius Ptolemaeus (99-168). Ia hidup pada era Kekaisaran Romawi abad ke-2 Masehi sebagai penulis risalah ilmiah Islam dan Eropa.

Kawasan Vulkanik

Secara geografis Yatsrib sesungguhnya medan lava dengan pegunungan vulkanis terluas. Letusan gunung berapi terakhir di daerah ini tercatat pada tahun 1256.

Perlu diketahui, kawasan Arab Saudi memiliki 2.000 gunung berapi. Sepanjang sejarah telah terjadi 13 letusan. Sebagian pegunungan vulkanik di Yatsrib.

Tsur dan Uhud

Diantara belasan pegunungan (jabal) di Yatsrib, dua gunung diantaranya paling populer dalam sejarah perkembangan Islam. Yaitu gunung Tsur dan gunung Uhud yang menyimpan situs-situs peninggalan jejak sejarah Islam.

Tsur (1.050 mdpl) yang lebih populer disebut Jabal Tsur bentuknya menyerupai setengah lingkaran. Di salah satu puncaknya terdapat Gua Tsur yakni tempat peristirahatan Nabi Muhamad dalam perjalanan hijrah.

Gunung ini sekarang menjadi pembatas kota Madinah dengan daerah lain. Letaknya sebelah utara yang berjarak 8 kilometer dari Masjid Nabawi.

Sedangkan gunung Uhud (1.077 mdpl) yang akrab dikenal sebagai Jabal Uhud menjadi pegunungan terpanjang di kawasan Madinah. Bentangannya sepanjang 6 kilometer.

Gunung ini menjadi situs sejarah konflik milisi Rasulullah melawan kafir Quraisy pada tahun kedua Hijriyah. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response