
METRO BANDUNG, bandungpos.id – Kiprah mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) kembali mencuri perhatian di kancah internasional. Dua mahasiswa angkatan 2023, yakni Tamara Nabila Putri dari Prodi Farmasi FMIPA dan Daffa Sumarlan dari Fakultas Ilmu Komunikasi, sukses terpilih menjadi relawan dalam ajang bergengsi The 17th ISGF-AISG Asia Pacific Region Gathering 2025 yang berlangsung di Bandung pada 19–22 September 2025.
ISGF (International Scout and Guide Fellowship) bersama AISG (Amitié Internationale Scoute et Guide) merupakan organisasi pramuka dunia yang menaungi anggota senior atau dewasa. Tahun ini, Kota Bandung dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan akbar yang dihadiri lebih dari 200 delegasi dari 18 negara. Di Indonesia, acara ini terselenggara atas dukungan Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada), Kwartir Nasional (Kwarnas), serta Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Bandung.
Keterlibatan Tamara dan Daffa bermula dari informasi perekrutan volunteer yang dibagikan oleh Dr. Nety Kurniaty, S.Si., M.Sc., dosen Prodi Farmasi sekaligus pembina pramuka Unisba. Tidak hanya menyampaikan kabar, Bu Nety juga memberikan dukungan penuh, mulai dari perlengkapan hingga proses pendaftaran.
Perjalanan Tamara: Dari Pecinta Alam Hingga MC Internasional
Bagi Tamara, keterlibatannya dalam ajang ini menjadi momentum menghidupkan kembali kecintaannya pada dunia pramuka. “Terakhir aktif pramuka itu saat SMA. Minat saya kembali tumbuh ketika bergabung di English Learners Community (ELC) Unisba karena sering ada kegiatan alam bersama Bu Nety,” ungkapnya.
Meski sempat berhalangan hadir saat seleksi, Tamara tetap memberanikan diri dengan mengirim CV dan berkas. Keputusannya berbuah manis. “Panitia mensyaratkan minimal pernah bantara dan fasih berbahasa Inggris. Saya coba melamar, dan alhamdulillah terpilih,” jelasnya.
Keterampilan komunikasinya membuat Tamara sering dipercaya menjadi MC di berbagai acara besar, mulai dari kegiatan resmi di Pendopo Kota Bandung bersama Gubernur dan Wali Kota, hingga acara budaya di Saung Angklung Udjo dan Taman Pramuka. “Tantangannya sering ada perubahan rundown mendadak. Kadang baru diberi kepastian 10 menit sebelum acara dimulai, jadi saya harus cepat menyesuaikan teks,” kenangnya.
Selain itu, Tamara juga dipercaya mendampingi delegasi mancanegara dalam tur keliling Bandung. Ia bahkan sempat menemani perwakilan dari Libya, Taiwan, Australia, dan Inggris. “Awalnya sempat bentrok dengan jadwal kepanitiaan PPMB, tapi setelah diskusi dengan Bu Nety akhirnya saya bisa ikut. Rasanya luar biasa,” tuturnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika Tamara harus menjemput rombongan delegasi di bandara pada H-1 acara. “Saya menangani sekitar 30 orang dari dua bus. Karena sebagian besar panitia kurang lancar berbahasa Inggris, akhirnya saya yang mengoordinasi,” ujarnya. Meski sempat jatuh sakit di hari terakhir, Tamara tetap merasa pengalaman empat hari mendampingi para pramuka senior di Ciater, Subang, menjadi pelajaran berharga tentang kesabaran dan cara berinteraksi dengan orang tua yang penuh kehangatan.
Kiprah Daffa: Antara MC, Guide, dan Aktivis Kampus
Berbeda dengan Tamara, Daffa menuturkan bahwa keterlibatannya sebagai volunteer membuat rasa percaya dirinya semakin meningkat. “Alhamdulillah saya tidak lagi merasa minder saat berinteraksi dengan delegasi luar negeri,” katanya. Tantangan terbesarnya justru muncul ketika didapuk sebagai MC pada acara Welcome Dinner. Banyak perubahan teknis mendadak membuat susunan acara harus dirombak. “Saya dan Tamara sempat kesulitan, tapi syukurlah semua berjalan lancar,” tambahnya.
Selain menjadi MC, kontribusi utama Daffa adalah sebagai guide dan helper. Mengingat sebagian besar peserta berusia lanjut, ia bersama relawan muda lainnya dituntut sigap membantu kebutuhan para delegasi. “Peran MC itu tambahan. Fokus utama kami adalah mendampingi para tamu di setiap agenda,” jelasnya.
Meski jadwalnya padat, Daffa tetap aktif di berbagai organisasi. “Saya bergabung di UGIS, Pramuka, dan baru-baru ini lolos seleksi Google Student Ambassador (GSA) mewakili Unisba,” ungkapnya bangga. Cara ia mengatur waktu adalah dengan menyusun prioritas dan mengelompokkan kegiatan berdasarkan urgensi. “Dengan cara itu, semua aktivitas bisa tetap jalan,” katanya.
Hal serupa juga dilakukan Tamara, yang aktif di UGIS dan beragam kegiatan kampus lainnya.
Ajang Silaturahmi Pramuka Dunia
The 17th ISGF-AISG Asia Pacific Region Gathering 2025 bukan hanya pertemuan formal, melainkan juga ajang silaturahmi para pramuka senior lintas negara. Dengan dukungan penuh dari Hipprada, Kwarnas, dan Kwarcab Bandung, kegiatan ini sekaligus menjadi momentum mempromosikan budaya serta keramahan Bandung ke kancah internasional.
Kehadiran Tamara dan Daffa sebagai volunteer muda menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa Unisba dalam mendukung acara berskala global. Lebih dari itu, keterlibatan mereka memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjembatani persaudaraan dunia melalui gerakan pramuka.(sani/bnn)




