Bandung Raya

Telkom University dan PT INKAE Inovasi Rangka Motor Listrik dengan Teknologi Tepat Guna

36views

METRO BANDUNG, bandungpos.id — Perjalanan Indonesia menuju era kendaraan listrik terus berkembang pesat. Kendaraan dengan desain futuristik kini semakin mudah dijumpai di jalan raya. Namun, di balik tampilan modern tersebut, proses merancang dan memproduksi kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam pengembangan struktur rangka.

Menjawab kebutuhan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) Telkom University menggandeng PT Inti Karya Engineering (INKAE), perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur nasional. Kolaborasi ini menghasilkan pengembangan prototipe rangka motor listrik berbasis teknologi tepat guna.

Program tersebut melibatkan keahlian dari berbagai disiplin ilmu di Telkom University, yakni Fakultas Industri Kreatif (FIK), Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS), serta Fakultas Ilmu Terapan (FIT).

Dalam prosesnya, tim tidak hanya menggunakan pendekatan teknis berbasis perhitungan mesin. Pengembangan prototipe menggabungkan metode Human-Centered Design (HCD) dengan teknologi Computer-Aided Design (CAD) parametrik dan 3D printing.

Pendekatan lintas disiplin tersebut dirancang agar proses pengembangan rangka dapat dilakukan secara lebih adaptif, mudah divisualisasikan, sekaligus mampu menjawab kebutuhan nyata industri.

Adapun dosen yang terlibat dalam kegiatan ini yakni Yanuar Herlambang, S.Sn., M.Ds. selaku Ketua dari FIK, Mindit Eriyadi, S.Pd., M.T. sebagai Anggota dari FIT, serta Dr. Dudi Rustandi, M.I.Kom. sebagai Anggota dari FKS.

Sementara dari unsur mahasiswa, kegiatan tersebut melibatkan Rheza Wildan Ghiffari, Muhammad Ghazanfar Muaz, Annida Nurul Husna, dan Muhammad Naufal Ardhana.

Mengapa Desain Rangka Motor Listrik Lebih Kompleks?

Perancangan rangka motor listrik memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan motor konvensional berbahan bakar minyak. Salah satu faktor utama yang harus diperhatikan adalah distribusi massa kendaraan karena dimensi dan posisi baterai memiliki pengaruh besar terhadap titik berat motor.

Ketua Tim Pengabdian, Yanuar Herlambang, menjelaskan persoalan tersebut kepada Redaksi pada 7 September 2026. Menurutnya, karakteristik kendaraan listrik membuat proses perancangan rangka harus mempertimbangkan lebih banyak aspek.

Kolaborasi Telkom University dan PT INKAE yang berlangsung sejak Februari hingga Juli 2026 tersebut bermula dari kebutuhan perusahaan untuk mengatasi kendala dalam proses early-stage design rangka motor yang selama ini masih dilakukan dengan cara konvensional.

Yanuar menjelaskan bahwa rangka tidak hanya berfungsi sebagai penyangga bodi kendaraan. Pada motor listrik, struktur rangka harus dirancang dengan mempertimbangkan distribusi massa baterai agar mampu menjaga kekuatan dan kestabilan kendaraan sekaligus memberikan kenyamanan bagi pengendara.

Selain itu, desain rangka juga harus mendukung kemudahan integrasi sistem battery swap atau mekanisme pertukaran baterai.

“Rangka bukan sekadar penopang bodi motor. Pada motor listrik, konfigurasinya sangat dipengaruhi oleh distribusi massa baterai sehingga rangka harus dirancang agar tetap kuat, stabil, nyaman dikendarai, sekaligus memudahkan integrasi sistem pertukaran baterai (battery swap),” papar Yanuar.

Penggunaan metode desain konvensional selama ini membuat proses mengeksplorasi berbagai alternatif rancangan menjadi relatif lambat. Persoalan lainnya adalah keterbatasan media visual yang dapat menyebabkan komunikasi teknis antarpihak, termasuk para engineer, tidak selalu menghasilkan persepsi yang sama.

CAD Parametrik dan 3D Printing Hadirkan Prototipe Skala 1:8

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim Telkom University merancang proses pengembangan yang lebih terintegrasi. Tahap awal dilakukan melalui observasi serta Focus Group Discussion (FGD) bersama manajemen PT INKAE dan Mitra Pindad.

Observasi dan diskusi tersebut dilakukan untuk memahami kebutuhan sekaligus memetakan kondisi operasional yang menjadi dasar dalam proses pengembangan rangka motor.

Selanjutnya, berbagai kebutuhan tersebut diterjemahkan menjadi model menggunakan CAD Parametrik. Teknologi ini memungkinkan perubahan ukuran maupun konfigurasi rangka dilakukan dengan cepat tanpa harus membuat ulang keseluruhan gambar desain.

Dengan kemampuan tersebut, tim dapat mengeksplorasi sejumlah alternatif desain secara lebih efisien. Setiap rancangan kemudian dievaluasi berdasarkan kekuatan struktur, ergonomi posisi duduk pengendara, hingga tingkat kemudahan untuk diproduksi.

Tahap penting berikutnya adalah mengubah rancangan digital menjadi bentuk fisik. Tim memanfaatkan teknologi Additive Manufacturing atau 3D Printing dengan material PLA untuk menghasilkan prototipe rangka motor berskala 1:8.

Kehadiran prototipe tiga dimensi tersebut memberikan cara baru bagi tim engineering PT INKAE dalam melakukan evaluasi. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan gambar dua dimensi yang tampil di layar komputer.

Dengan adanya model fisik, para engineer dapat melihat, menyentuh, memutar, dan mendiskusikan secara langsung konfigurasi rangka serta posisi komponen seperti baterai dan suspensi.

Visualisasi dalam bentuk fisik membuat pembahasan desain menjadi lebih konkret. Potensi kesalahan pun dapat diidentifikasi dan diminimalkan lebih awal sebelum rancangan masuk ke tahap produksi massal.

Transfer Pengetahuan Jadi Bagian Penting Program TTG

Program Skema Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dijalankan Telkom University bersama PT INKAE tidak hanya berorientasi pada pembuatan prototipe.

Tim Abdimas Telkom University juga melaksanakan workshop dan pendampingan teknis bagi para insinyur PT INKAE. Para praktisi industri tersebut mendapatkan pemahaman mengenai penerapan desain berpusat pada manusia atau Human-Centered Design (HCD).

Selain itu, mereka juga mendapatkan materi mengenai optimasi geometri serta praktik mengevaluasi rancangan dengan menggunakan prototipe 3D.

Dengan demikian, manfaat kolaborasi tidak berhenti pada terciptanya produk fisik. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan industri.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan keilmuan untuk memberikan solusi terhadap kebutuhan nyata di dunia industri.

Sinergi yang dibangun juga selaras dengan peta jalan (roadmap) riset Kelompok Keahlian Human, Media and Technology (HUMAGY) Telkom University.

Pengembangan Rangka Motor Listrik Berpeluang Masuk Tahap Full-Scale

Kolaborasi Telkom University dan PT INKAE tidak menutup kemungkinan untuk dilanjutkan ke tahap pengembangan yang lebih besar.

Tahapan selanjutnya berpotensi mencakup pembuatan prototipe skala penuh (full-scale), analisis rekayasa lanjutan melalui Finite Element Analysis (FEA), hingga pengembangan kesiapan sistem battery swap untuk mendukung kebutuhan produksi massal.

Kerja sama ini memperlihatkan bahwa pengembangan kendaraan listrik membutuhkan sinergi antara dunia akademik dan industri. Inovasi tidak hanya lahir dari kemampuan teknis dalam merancang komponen, tetapi juga dari proses kolaborasi dan transfer pengetahuan yang berkelanjutan.

Melalui model Triple Helix, perguruan tinggi dan industri dapat membangun sinergi untuk mempercepat hilirisasi hasil riset agar dapat diterapkan secara nyata.

Pengembangan prototipe rangka motor listrik ini pun bukan sekadar menghasilkan sebuah struktur kendaraan. Lebih dari itu, program tersebut menjadi contoh bagaimana kolaborasi akademisi dan industri dapat mendorong inovasi, memperkuat kapasitas manufaktur, serta mendukung peningkatan daya saing industri kendaraan listrik nasional di tingkat global.

(ask/mnm)***

Leave a Response