
BANDUNG, BandungPos.id – Global Citizenship Education Cooperation Centre Indonesia (GCC Indonesia) mendukung penyelenggaraan Korea–Indonesia Cultural Exchange Showcase 2026 yang digelar di Auditorium Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (23/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah penguatan hubungan akademik sekaligus pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.
Acara mempertemukan delegasi Honam University, Korea Selatan, dengan sivitas akademika Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI. Delegasi Honam University yang dipimpin Prof. Kim Young Kyun terdiri atas sekitar 30 mahasiswa dan staf. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FPIPS UPI sebagai bentuk dukungan universitas terhadap pengembangan kerja sama internasional dan pembelajaran lintas budaya.
Dalam sambutannya, Dekan FPIPS UPI menegaskan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama akademik, tetapi juga melalui interaksi langsung antarmahasiswa dari berbagai negara. “Kampus harus menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa. Ketika mahasiswa saling belajar mengenai budaya, nilai, dan cara pandang yang berbeda, mereka sedang membangun fondasi perdamaian, toleransi, dan kerja sama internasional sejak dini,” ujarnya.
Pertunjukan budaya tersebut, mahasiswa dari kedua negara menampilkan beragam kesenian tradisional maupun modern. Delegasi Honam University membawakan K-Pop cover dance, demonstrasi taekwondo, serta samulnori, pertunjukan musik perkusi tradisional Korea. Sementara itu, mahasiswa UPI menampilkan permainan angklung dan tari tradisional Indonesia yang mendapat apresiasi dari para peserta. Berbagai penampilan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang dialog budaya. Melalui seni, musik, dan tradisi, mahasiswa dari kedua negara memperoleh kesempatan untuk saling mengenal nilai-nilai sosial, sejarah, serta identitas budaya masing-masing dalam suasana yang akrab dan setara.
Sementara itu, pimpinan delegasi Honam University, Prof. Kim Young Kyun, mengaku terkesan dengan sambutan yang diberikan sivitas akademika UPI. Menurut dia, pertukaran budaya menjadi sarana penting untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara. “Kami merasa terhormat dapat berkunjung ke UPI dan bertemu langsung dengan mahasiswa Indonesia. Melalui kegiatan ini kami tidak hanya memperkenalkan budaya Korea, tetapi juga belajar memahami kekayaan budaya Indonesia. Pertukaran seperti ini menjadi jembatan persahabatan yang akan memperkuat hubungan kedua negara pada masa depan,” kata Kim.
Ia berharap hubungan antara Honam University dan UPI terus berkembang melalui berbagai program akademik. “Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam bentuk pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, maupun program pendidikan lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua institusi,” ujarnya.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pertukaran cendera mata sebagai simbol persahabatan dan komitmen untuk memperkuat hubungan antarlembaga. Universitas Pendidikan Indonesia dan Honam University saling bertukar cendera mata sebagai penanda keberlanjutan kerja sama akademik.
Director GCC Indonesia, Prof. Dasim Budimansyah, menyerahkan cendera mata kepada Prof. Kim Young Kyun selaku pimpinan delegasi Honam University. Penghargaan juga diberikan kepada Mr. Chong, Kepala Canaan Farmer Institute, atas kontribusinya dalam membangun hubungan persahabatan dan kerja sama antara masyarakat Korea Selatan dan Indonesia. Dukungan GCC Indonesia terhadap kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat implementasi Global Citizenship Education (GCED) melalui pengalaman belajar yang bersifat langsung.
“Pendidikan kewargaan global tidak cukup diajarkan melalui teori di ruang kuliah. Mahasiswa perlu mengalami secara langsung bagaimana berdialog, bekerja sama, dan saling menghargai dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Pengalaman seperti inilah yang membentuk karakter warga dunia yang tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan,” ujar Dasim.
Menurut Dasim, kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dan Korea Selatan memiliki nilai strategis dalam memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus membangun saling pengertian antargenerasi muda. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kepemimpinan generasi muda yang memiliki perspektif global,” katanya.
Ia menambahkan, budaya merupakan media yang efektif untuk membangun saling pengertian di tengah perbedaan. “Melalui musik, seni, dan tradisi, mahasiswa belajar bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bekerja sama. Justru dari keberagaman itulah tumbuh rasa saling menghormati dan kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab bersama sebagai warga dunia,” tutur Dasim.(A.Parman)





