Selamat Jalan, Rachmat Gobel: Visioner Industri Untuk Indonesia Berkelanjutan
Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. H. Rachmat Gobel telah berpulang ke rahmatullah.


Oleh Farhan Helmy ( President Dilans Indonesia)
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. H. Rachmat Gobel telah berpulang ke rahmatullah. Dia dikenal luas sebagai pengusaha nasional, mantan CEO Panasonic Gobel, mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Ketua KADIN Bidang Industri, hingga Wakil Ketua DPR RI. Namun bagi saya, beliau adalah sosok yang meyakini bahwa dunia industri tidak hanya bertugas menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membangun manusia, mendorong inovasi, memperkuat kualitas sumber daya manusia, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi kemajuan bangsa.
Saya berkesempatan mengenal Pak Rachmat Gobel ketika menempuh studi di Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech), Jepang, pada periode 2004–2008. Melalui Pak Jusman Syafii Djamal, mantan CEO PT Dirgantara Indonesia, saya diperkenalkan kepada beliau setelah sebuah pertemuan dengan Prof. Sakano yang membahas perkembangan industri, inovasi teknologi, serta masa depan manufaktur Indonesia.
Pertemuan tersebut menjadi awal dari rangkaian diskusi yang kemudian berlanjut melalui Indonesia Policy Dialogue Forum (IPDF), sebuah forum yang saya dirikan bersama rekan-rekan diaspora Indonesia dari berbagai universitas di Jepang. IPDF menjadi ruang dialog bagi mahasiswa, akademisi, profesional, pelaku industri, dan pemerintah untuk bertukar gagasan mengenai masa depan industri Indonesia serta bagaimana diaspora Indonesia dapat berkontribusi dalam transformasi industri dan pembangunan nasional. Sebagai alumni perguruan tinggi di Jepang, Pak Rachmat Gobel tidak hanya memberikan perhatian, tetapi juga dukungan terhadap inisiatif tersebut.
Dari berbagai perbincangan itulah saya melihat sosok beliau sebagai seorang visioner. Jauh sebelum isu keberlanjutan menjadi perhatian utama dunia, beliau telah meyakini bahwa daya saing industri Indonesia harus dibangun melalui penguasaan teknologi, inovasi, efisiensi, serta investasi pada kualitas manusia. Cara pandang tersebut sangat membekas bagi saya dan menjadi inspirasi dalam perjalanan profesional saya.
Pandangan tersebut kembali saya lihat ketika bergabung dengan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) pada periode 2012–2014 di bawah kepemimpinan Prof. Rachmat Witoelar. Saat itu saya dipercaya mengoordinasikan Green Investment Forum, sebuah inisiatif yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan mitra pembangunan untuk mempercepat investasi hijau di Indonesia.
Pada masa itu, istilah green economy, green investment, maupun green industry belum sepopuler sekarang. Namun Pak Rachmat Gobel telah menunjukkan keyakinan bahwa transformasi industri menuju arah yang lebih ramah lingkungan bukanlah sekadar tuntutan global, melainkan peluang strategis untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Beliau memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan tidak perlu dipertentangkan, tetapi justru harus berjalan beriringan.
Saya merasa beruntung dapat belajar langsung dari dua sosok bernama Rachmat yang memiliki visi besar bagi Indonesia: Prof. Rachmat Witoelar dalam kepemimpinan perubahan iklim, dan Pak Rachmat Gobel dalam transformasi industri. Keduanya berasal dari ruang yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan pandangan bahwa pembangunan Indonesia harus berpijak pada inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan.
Pengalaman belajar bersama kedua tokoh tersebut menjadi salah satu fondasi yang membentuk cara pandang saya mengenai hubungan antara industri, pembangunan, perubahan iklim, dan keberlanjutan hingga hari ini.
Komitmen tersebut juga kami lanjutkan melalui berbagai program peningkatan kapasitas Green Industry bersama Pak Jusman Syafii Djamal dan Matsushita Gobel Foundation. Dengan menghadirkan pengalaman dan praktik baik dari Jepang, kami berupaya membawa pembelajaran tersebut sebagai inspirasi untuk memperkuat transformasi industri Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau, inovatif, dan berdaya saing. Sebagai bagian dari upaya tersebut, kami juga menerbitkan dua edisi majalah Green Investment, Innovation and Productivity yang merangkum berbagai gagasan, pengalaman, dan pembelajaran dari para pelaku industri, pemerintah, akademisi, serta mitra pembangunan dalam mendorong transformasi industri Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, komunikasi kami tetap terjalin melalui WhatsApp. Di tengah kesibukan beliau sebagai Wakil Ketua DPR RI, saya sesekali menyampaikan perkembangan berbagai inisiatif yang sedang kami kembangkan, mulai dari Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI), krisis iklim, pembangunan berkelanjutan, hingga berbagai gagasan mengenai transformasi kebijakan publik. Beliau selalu menunjukkan keterbukaan terhadap ide-ide baru dan memberikan perhatian terhadap berbagai upaya membangun Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Bagi saya, Pak Rachmat Gobel bukan hanya seorang pemimpin dunia usaha atau negarawan. Beliau adalah jembatan yang menghubungkan industri, teknologi, pendidikan, kebijakan publik, dan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak semata diukur dari besarnya investasi atau kapasitas produksi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kualitas hidup masyarakat dan masa depan bangsa.
Hari ini, ketika Indonesia dan dunia menghadapi tantangan perubahan iklim, disrupsi teknologi, serta transformasi ekonomi global, warisan pemikiran beliau terasa semakin relevan. Semangat untuk membangun industri yang inovatif, berdaya saing, sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat merupakan nilai yang patut diteruskan oleh generasi penerus.
Di tengah upaya Indonesia mempercepat transformasi industri, transisi energi, hilirisasi, dan pencapaian target Net Zero Emissions, nilai-nilai yang diperjuangkan Pak Rachmat Gobel menjadi semakin relevan. Beliau telah menunjukkan bahwa daya saing industri tidak hanya dibangun melalui investasi dan teknologi, tetapi juga melalui kepemimpinan, kolaborasi, serta keberanian untuk mempersiapkan masa depan.
Kepergian Pak Rachmat Gobel merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. Namun seorang pemimpin sejati tidak hanya meninggalkan jabatan atau prestasi. Ia meninggalkan cara berpikir, nilai-nilai, dan inspirasi yang terus hidup melalui orang-orang yang pernah belajar, bekerja, dan berjuang bersamanya. Saya percaya, warisan itulah yang akan terus menyertai perjalanan Indonesia ke depan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga Ibu Retno Damayanti beserta seluruh keluarga diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan menghadapi duka ini.
Selamat jalan, Pak Rachmat Gobel.
Terima kasih atas kepercayaan, persahabatan, dan inspirasi yang telah Bapak berikan selama lebih dari dua dekade perjalanan saya. Semoga semangat Bapak dalam membangun industri Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan terus hidup dalam setiap ikhtiar untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Bagi saya, kepergian Pak Rachmat Gobel bukan hanya kehilangan seorang sahabat dan mentor, tetapi juga kehilangan salah satu jembatan penting yang selama puluhan tahun menghubungkan dunia industri, kebijakan publik, dan cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju sekaligus berkelanjutan.
Editor : Rianto Muradi





