Bandung RayaNasional

Ketika Kebencian Mengalahkan Kepentingan Bangsa

12views

Ditulis oleh:
H. Iding Mashudi
Humas Da’i Kamtibmas Polresta Bandung

Rabu, 17 Juni 2026

BANDUNGPOS. ID
Dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, perbedaan pandangan politik merupakan keniscayaan yang wajar. Setiap warga negara memiliki kebebasan untuk mendukung pemimpin, partai, atau kelompok yang diyakini sejalan dengan prinsip dan aspirasi bersama. Keberagaman tersebut seharusnya menjadi warna yang memperkaya demokrasi, bukan justru dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan dan menebarkan permusuhan.

Sayangnya, realitas di lapangan seringkali memperlihatkan sikap yang kurang bijak. Tidak sedikit pihak yang sulit menerima kenyataan ketika sosok atau pilihan yang didukungnya tidak memperoleh kepercayaan mayoritas. Akibatnya, timbul pola pikir oposisi buta di mana apa pun kebijakan yang diambil pemerintah senantiasa dianggap keliru. Mereka lebih sibuk mencari celah untuk mengkritik tanpa dasar, ketimbang memberikan masukan yang konstruktif demi kemaslahatan masyarakat luas.

Kritik sesungguhnya adalah ruh dan bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi yang sehat. Namun, kritik yang bertanggung jawab haruslah disertai data, fakta, serta tawaran solusi yang jelas. Ketika kritik bertransformasi menjadi fitnah, hoaks, atau upaya menggiring opini publik semata-mata demi kepentingan kelompok, maka yang lahir bukanlah kontrol sosial yang bijak, melainkan kegaduhan yang merugikan kepentingan bersama.

Sikap menolak segala sesuatu hanya karena berasal dari kubu yang berbeda menunjukkan bahwa ego sektoral telah ditempatkan jauh di atas kepentingan nasional. Padahal, keberhasilan sebuah pemerintahan dalam membangun daerah dan negara pada akhirnya akan dinikmati oleh seluruh rakyat, tanpa memandang latar belakang politik maupun pilihan yang diambil pada masa lalu.

Media sosial saat ini turut memperparah fenomena tersebut. Informasi menyebar dengan kecepatan luar biasa, seringkali tanpa melalui proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, masyarakat mudah terpecah belah oleh narasi yang lebih mengedepankan emosi dan sentimen semata, mengesampingkan akal sehat dan objektivitas. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, persatuan yang selama ini menjadi kekuatan utama bangsa perlahan akan terkikis dan rapuh.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita membiasakan diri untuk bersikap objektif dan dewasa dalam berpolitik. Ketika pemerintah melakukan hal yang benar dan berpihak pada rakyat, sudah sepatutnya diberikan apresiasi. Sebaliknya, jika terdapat kekeliruan, sampaikanlah kritik dengan santun, berlandaskan fakta, dan bertujuan untuk perbaikan. Bangsa ini akan maju apabila seluruh elemen mampu menempatkan cinta tanah air di atas segala perbedaan, menjadikan kepentingan bangsa sebagai titik temu yang mempersatukan langkah menuju masa depan yang gemilang.***

Leave a Response