
PAGI –– itu langit biru di kawasan Kampus Ikopin Jatinangor seolah sedang berada di pihak rombongan Jurnalis Hukum Bandung (JHB). Cuaca cerah, lalu lintas yang masih lengang, dan udara yang bersahabat seakan memberi lampu hijau bagi perjalanan menuju Kampung Wisata Ciherang, Kabupaten Sumedang.
Titik kumpul dipilih sederhana, jauh dari kesan mewah dan seremonial di depan Kampus Ikopin, tepat di samping pedagang bubur ayam. Barangkali memang begitulah cara sebagian jurnalis memulai petualangan, bukan dengan pidato panjang atau fasilitas berlebihan, melainkan dengan semangkuk bubur hangat yang cukup guna mengganjal perut sebelum menghadapi jalanan.
Potongan ati ampela dan telur yang tersaji di mangkuk pagi itu menjadi saksi awal keberangkatan rombongan. Sebab perjalanan yang baik tak selalu dimulai dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan yang sederhana.
“Sebelum kita berangkat mari berdoa sesuai kepercayaan dan cara masing-masing. Di perjalanan harus tertib dan taati rambu-rambu lalu lintas. Usahakan kecepatan di bawah 50 kilometer per jam,” ujar Ketua JHB, Suyono, atau yang akrab disapa Bang Yono, Minggu (31/5/2026).
Tak lama kemudian suara mesin motor mulai meraung. Kepulan asap knalpot menyatu dengan hiruk pikuk kendaraan pagi yang perlahan bertambah ramai. Sebuah iring-iringan sederhana bergerak meninggalkan titik kumpul, menuju Ciherang yang berjarak sekitar 18 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 41 menit.
Sesampainya di lokasi, rombongan disambut suasana yang berbanding terbalik dengan kebisingan kota. Hamparan hutan pinus, udara segar, gemericik aliran sungai jernih, dan bebatuan alami menghadirkan suasana yang kini semakin sulit ditemukan di tengah derasnya pembangunan yang sering kali lebih akrab dengan beton ketimbang pepohonan.
Arifin, salah seorang pengelola Kampung Wisata Ciherang, menjelaskan bahwa dirinya bersama sejumlah rekan hanya bertugas mengelola kawasan wisata tersebut. Sementara kepemilikan lahannya berada di bawah Perhutani.
“Saya bersama beberapa orang di sini sebagai pengelola wisata,” katanya singkat.
Namun demikian, akunya, keamanan dan kenyamanan pengunjung selama ada di kawasan wisata menjadi tanggungjawabnya. Hal ini harus dipastikan dengan kehadiran timnya di lokasi selama pengunjung masih menikmati suasana hutan pinus dan kesejukannya.
Kesederhanaan jawaban itu justru menggambarkan satu hal penting. Bahwa sebuah destinasi wisata tak selalu membutuhkan narasi besar untuk memikat pengunjung. Kadang cukup dengan menjaga alam tetap lestari, maka alam akan bekerja mempromosikan dirinya sendiri.
Selain area wisata alam, Kampung Ciherang pun menyediakan fasilitas camping, aneka jajanan, hingga makanan berat yang dijajakan warga sekitar. Sebuah ekosistem kecil yang hidup dari keseimbangan antara alam dan manusia.
Bagi JHB, tujuan perjalanan ini bukan sekadar menikmati panorama. Menurut Penasehat JHB, Alif, bahwa kegiatan touring telah menjadi agenda rutin yang memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar perjalanan wisata. Momentum tersebut menjadi ruang memperkuat koordinasi liputan sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota beserta keluarga.
“Inilah yang menjadi tujuan penting dalam setiap kegiatan touring,” ujarnya singkat.
Menurut Alif, dalam setiap kebersamaan pasti ada canda dan tawa. Bahkan terkadang saling menggoda menjadi warna tersendiri. Namun berbeda dengan banyak kelompok yang sering retak karena persoalan sepele, JHB berusaha menjaga agar setiap candaan berhenti sebagai candaan, bukan berubah menjadi bibit perpecahan.
Sebab dalam kehidupan organisasi, sering kali bukan masalah besar yang menghancurkan kebersamaan. Justru ego-ego kecil yang dipelihara diam-diam kerap menjadi penyebab
runtuhnya kekompakan.
“Inilah yang kadang sering terjadi dan menjadi penyebab. Ya, kita hindari itu,”
kata Alif.
Karena itu, setiap kegiatan touring selalu diakhiri dengan membawa buah tangan untuk keluarga di rumah. Sebuah bentuk rasa syukur sekaligus ucapan terima kasih kepada mereka yang memberi izin dan dukungan, meski tidak ikut dalam perjalanan.
Pesan senada disampaikan Ketua JHB Bang Yono dan Sekretaris JHB Yedi Supriadi. Menurut mereka, kebersamaan adalah fondasi utama bagi sebuah tim yang ingin tetap solid menghadapi berbagai tantangan.
Mereka mengapresiasi atas dukungan sejumlah pihak, termasuk Bank bjb, yang turut membantu terselenggaranya kegiatan tersebut hingga sukses.
“Kegiatan ini sukses berkat kerja sama anggota dan pihak Bank bjb yang telah mendukungnya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih. Semoga kerja sama ini tetap terjalin dan berkesinambungan,” ujar Bang Yono yang diamini Yedi Supriadi.**(Adem/BNN)





