
Oleh : Ashar Tamanggong
Coba kita jujur sebentar.
Kalau tiba-tiba WiFi mati, apa yang terjadi? Rumah langsung seperti kena gempa kecil. Anak-anak teriak: “WiFi kenapa ini?”
Orang dewasa langsung pegang HP, cek router, restart modem, bahkan kadang sampai menelepon provider dengan suara setengah panik.
“Pak… internet saya mati!”
Seolah-olah dunia berhenti berputar. Padahal sebenarnya yang berhenti cuma video yang buffering.
Tapi coba bandingkan dengan satu kejadian lain.
Waktu sholat lewat. Adzan sudah berkumandang. Waktu sudah habis. Sholat belum dikerjakan.
Apa yang terjadi?
Tidak ada yang panik. Tidak ada yang lari-lari.
Tidak ada yang menelpon siapa-siapa. Di umah tetap tenang.
HP tetap di tangan. Scroll tetap jalan. Seolah-olah tidak ada yang hilang. Padahal yang lewat itu bukan sinyal. Yang lewat itu panggilan dari langit.
WiFi Hilang, Dunia Gelap Kenapa WiFi mati terasa darurat?
Karena kita merasa kehilangan akses. Tidak bisa buka WhatsApp.
Tidak bisa lihat YouTube. Bisa cek media sosial.
Singkatnya:
Kita merasa terputus dari dunia. Padahal sebenarnya kita masih bisa makan, minum, bernapas, bahkan tertawa. Artinya, WiFi itu bukan kebutuhan hidup, tapi sudah kita anggap kebutuhan hati.
Sholat Hilang, Hati Tidak Panik Sekarang kita lihat sholat.
Ketika sholat lewat, sebenarnya kita juga kehilangan sesuatu.
Bukan kehilangan sinyal. Tapi kehilangan sambungan dengan Allah.
Sholat itu sebenarnya seperti WiFi langit. Tanpa password.
Tanpa kuota. Tanpa gangguan jaringan.
Allah bahkan memanggil kita lima kali sehari. Tapi masalahnya bukan pada panggilannya. Masalahnya pada prioritas kita. Alarm Adzan vs Notifikasi HP Kalau HP berbunyi: “ting!” Kita langsung lihat. Padahal belum tentu penting. Bisa jadi cuma promo diskon.
Tapi ketika adzan berkumandang, sering kali respon kita cuma:
“Nanti dulu.” Kadang malah bilang:
“Tunggu sebentar.” Masalahnya, “sebentar” itu sering berubah jadi terlambat.Dan, “terlambat” itu sering berubah jadi terlewat.
Kita Takut Kehilangan yang Duniawi. Kenapa ini bisa terjadi?
Karena manusia cenderung takut kehilangan yang terlihat, tapi sering lupa dengan yang tidak terlihat.
WiFi manfaatnya langsung terasa. Internet lambat, kita kesal.
Tapi sholat manfaatnya sering tidak langsung terasa.
Sholat itu baterai jiwa. Kalau HP baterainya 5%, kita panik cari charger. Tapi kalau iman kita tinggal 5%, sering kita tidak sadar.
Ironi Zaman Digital Zaman sekarang luar biasa. Sinyal HP bisa sampai ke gunung. Internet bisa sampai ke desa. Tapi kadang sinyal hati ke langit justru melemah.
Kita bisa online 24 jam. Tapi kadang lupa online kepada Allah lima kali sehari. Padahal kalau dipikir-pikir, hidup kita ini sebenarnya lebih tergantung pada rahmat Allah daripada pada router internet.
Router mati masih bisa diperbaiki. Tapi kalau hati mati, apa yang bisa menghidupkannya?
WiFi Tidak Bisa Menolong di Akhirat. Bayangkan satu hari nanti.
Ketika kita sudah berada di alam kubur. Tidak ada lagi WiFi. Tidak ada lagi kuota. Tidak ada lagi sinyal 5G.
Yang ada hanya satu pertanyaan besar:“Bagaimana sholatmu?”
Bukan: “Berapa kecepatan internetmu?” Bukan: “Berapa followers-mu?” Yang ditanya adalah shalat. Karena sholat adalah amalan pertama yang dihisab.
Saatnya Mengubah Prioritas Bukan berarti WiFi itu haram.
Tidak. Internet juga nikmat dari Allah. Tapi masalahnya muncul ketika WiFi lebih kita prioritaskan daripada sholat. Router rusak langsung diperbaiki. Tapi sholat rusak kadang tidak pernah kita evaluasi.
Coba mulai hari ini kita balik logikanya. Kalau WiFi mati kita panik.
Harusnya kalau sholat hampir lewat, kita juga panik. Bukan panik karena takut dosa saja. Tapi panik karena takut kehilangan pertemuan dengan Allah.
Mari kita jujur pada diri kita. Jangan sampai kita termasuk orang yang: lebih cepat mengecek sinyal internet
daripada mengecek waktu sholat. Karena WiFi mungkin bisa menghubungkan kita dengan dunia. Tapi sholatlah yang menghubungkan kita dengan Allah.
Dan percayalah
Kalau hubungan kita dengan Allah kuat, biasanya urusan dunia juga ikut dipermudah. Termasuk WiFi. Wallahu A’lam.
Editor : Rianto Muradi




