Iran dan Ibukota Buku Dunia
Diingatan saya tiba-tiba jatuh cinta melihat keberanian bangsa Persia( Iran ) melawan Yahudi( Amerika Serikat dan Israel ). Apa kekuatan bangsa Iran?

Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma
Diingatan saya tiba-tiba jatuh cinta melihat keberanian bangsa Persia( Iran ) melawan Yahudi( Amerika Serikat dan Israel ). Apa kekuatan bangsa Iran?
SELAIN– bangsa Iran memiliki Tingkat Literasi yang Tinggi juga tingkat melek huruf orang dewasanya relatif tinggi, mencapai sekitar 94% pada tahun 2016, dan bahkan 97% di kalangan dewasa muda (15-24 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan program pendidikan dan komitmen terhadap literasi di Iran cukup berhasil.
Sementara Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Persia (Iran) memiliki literasi sejarah yang mengakar kuat, dengan warisan sastra dan keilmuan yang mendunia selama berabad-abad. Penghargaan terhadap buku dan tulisan adalah bagian integral dari budaya mereka.
Pemerintah Iran, melalui Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, secara aktif mempromosikan budaya membaca. Salah satu upaya utamanya adalah penyelenggaraan Pameran Buku Internasional Tehran, sebuah acara budaya besar yang menarik banyak pengunjung setiap tahunnya.
Hadirnya “Ibu Kota Buku” bahkan UNESCO telah menetapkan beberapa kota di Iran, seperti Shiraz pada tahun 2020 sebagai “Ibu Kota Buku Dunia” dalam upaya meningkatkan posisi buku dan minat.
Saya bersyukur karena pernah ikut terlibat berguru kepada Prof.Dr.KHJalaluddin Rakhmat, M.Sc. salah seorang Tokoh intelektual Muslim yang pernah lama belajar di Iran. Pengalaman panjang Kang Jalal menulis ratusan buku, di antaranya buku “Psikologi Komunikasi” membuat kekuatan membacanya sangat tinggi.
Inilah yang kemudian saya petik bahwa fenomena orang bisa sukses tanpa gemar membaca memang lazim dan tampak di Indonesia. Tetapi juga sebagian besar masyarakat malas membaca.
Tidak heran, jika orang yang tidak gemar membaca tak kalah bersaing dari orang-orang yang gemar membaca. Faktanya menunjukkan bahwa banyak orang tidak suka membaca tapi sukses bahkan tidak perlu membaca.
Namun, kita tak pernah menemukan bangsa yang kurang gemar membaca mampu menang bersaing menghadapi bangsa yang gemar membaca. Artinya jika orang-orang yang tidak gemar membaca mampu meraih kesuksesan, orang-orang yang gemar membaca akan mampu meraih kesuksesan jauh lebih besar.
Ini berarti meskipun orang-orang yang tidak gemar membaca bisa berhasil dalan studinya, keberhasilan mereka karena faktor kebetulan atau keberhasilsn semu.
Oleh karena itu, membaca yang dilakukan dengan baik dan benar akan meningkatkan kemampuan seseorang untuk berhasil. Ibarat atlet melakukan latihan rutin, karena hanya latihan teratur mereka bisa mengalahkan lawan-lawannya karena mereka kurang latihan. Dan bangsa yang besar karena membaca. ***Penulis Tokoh Literasi nasional dan Ketua Forum Perkumpulan Penerima Penghargaan NJDP Perpusnas RI





