
Oleh: Ridhazia
DISEBUT-SEBUT kalau Peter Berkowitz menjadi “pemantik” kisruh internal Nahdlatul Ulama (NU). Sekaligus menjadi akademisi yang menghebohkan Indonesia.
Lalu siapakah Peter Berkowitz?
Pada tahun 2025, Berkowitz pernah menjadi pembicara di Universitas Indonesia (UI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tapi kehadiran sang akademisi itu menuai kritik. Lebih jauh lagi menimbulkan kontroversi yang tak berkesudahan karena pandangan akademiknya bertentangan dengan dukungan Indonesia terhadap Palestina.
Lelaki kelahiran tahun 1959 memang keturunan Yahudi yang dibesarkan di Amerika Serikat. Kedekatannya dengan Presiden AS George W. Bush dan Trump sekaligus menjadi penasihat luar negeri AS membuat namanya dikenal publik dunia.
Seebagai Direktur Perencanaan Kebijakan pemerintahan Donald Trump ia ditasbihkan sebagai pemikir sekaligus tokoh zionis karena secara terbuka pro-Israel.
Ia pernah menyatakan bahwa tindakan perang Israel atas bangsa Palestina dalam kerangka hukum internasional.
Selain pernah pula menyatakan bahwa apa yang dilakukan Israel di Gaza semata-mata sebagai respons atas ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok seperti Hamas yang didukung Iran.
Kolomnis
Nama Berkowitz dikenal luas publik dunia karena ia kolumnis. Selain mengajar Hukum Tata Negara dan Yurisprudensi di Sekolah Hukum Antonin Scalia dan mata kuliah Filsafat Politik di Universitas Harvard.
Latar pendidikan tingginya dari Universitas Yale, Universitas Ibrani Yerusalem, dan Swarthmore College.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

