Uncategorized

Unisba Kembangkan Mesin Granulator Terpadu untuk Dongkrak Mutu Pupuk Organik

290views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Sampah organik masih menjadi momok bagi banyak daerah. Kapasitas pengelolaan yang terbatas tak mampu mengimbangi volume sampah yang terus meningkat, sementara limbah organik—mulai dari sisa makanan hingga sampah taman—menyumbang sekitar separuh dari total timbulan sampah. Jika dibiarkan, penumpukan sampah organik dapat mencemari lingkungan dan memicu emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat pelepasan metana.

Ketua Tim Riset Universitas Islam Bandung (Unisba), Dr. Ir. Mohammad Satori, S.T., M.T., IPU, menegaskan bahwa sampah organik sesungguhnya memiliki nilai strategis sebagai sumber daya.

“Selama ini masyarakat sudah memanfaatkan sampah organik menjadi kompos, tetapi kandungan gizinya belum mampu menyamai pupuk organik,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa dengan teknologi granulator, kompos yang telah diperkaya berbagai nutrisi bisa diproses lebih lanjut menjadi granul organik dengan kualitas setara pupuk organik komersial.

Riset ini merupakan bagian dari program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis (SINERGI) 2025 yang didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program tersebut bertujuan memperkuat pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi melalui kolaborasi berkelanjutan dengan para mitra.

Dalam penelitian ini, Satori menggandeng tim lintas disiplin yang terdiri atas dosen dan mahasiswa, termasuk Prof. Dr. Atih Rohaeti Dariah, S.E., M.Si.; Chaznini R. Muhammad, Ir., M.T.; Anis Septiani, S.T., M.T.; Intan Nurrachmi, S.H.I., M.E.Sy.; Dr. Rahma Dewi, S.T., MIL; Muhammad Rizki Maulana; Riyadh Athif Syauqi; serta Amelia Fadlunnisa. Riset ini juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat dan berlokasi di TPS 3R Saung Bersih, Kompleks Perkantoran Kabupaten Bandung Barat.

Satori memaparkan bahwa proyek ini fokus pada pengembangan sistem produksi granul organik berbasis teknologi granulator terintegrasi. Sistem tersebut menggabungkan screw conveyor, mixer, peletizer, dan granulator dalam satu rangkaian mesin terpadu.

“Mesin ini kami rancang lewat metode reverse engineering—mengkaji teknologi yang sudah ada, lalu meningkatkan produktivitas serta keseragamannya,” jelasnya.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa mesin tersebut mampu menghasilkan granul dengan ukuran lebih seragam dibandingkan teknologi sebelumnya. Setelah melalui pengujian laboratorium, produk granul organik ini telah memenuhi standar SNI No. 7763:2024.

Satori menekankan bahwa inovasi ini memiliki dampak strategis. “Dengan kualitas yang sudah sesuai standar, teknologi ini berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujarnya.

Penelitian ini diharapkan menjadi langkah penting dalam transformasi pengelolaan sampah organik serta penguatan pertanian berkelanjutan melalui penerapan teknologi tepat guna. (sani/bnn)

Leave a Response