
Ditulis Oleh: H. Iding Mashudi
Tanggal: Rabu, 19 November 2025
BANDUNGPOS ID. -Kampung Adat Mahmud di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, merupakan salah satu lokasi bersejarah yang masih mempertahankan kekhasan tradisi dan nilai-nilai keagamaan. Kampung ini dikenal sebagai pusat penyebaran Islam pada masa awal perkembangan Islam di wilayah Bandung Raya. Hingga kini, atmosfer religius dan adat lama masih kuat dirasakan oleh setiap pengunjung yang datang.
Asal-usul Kampung Mahmud tidak dapat dipisahkan dari sosok ulama besar, Syeikh Abdul Manaf, yang hidup sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Beliau datang ke kawasan yang saat itu masih berupa rawa di tepian Sungai Citarum untuk berdakwah dan membangun pemukiman. Setelah wafat, Syeikh Abdul Manaf dimakamkan di kawasan tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Makom Mahmud, pusat kampung hingga hari ini.
Nama “Mahmud” sendiri diambil dari istilah al-Mahmudiyah yang berarti “yang terpuji”. Menurut cerita turun-temurun, Syeikh Abdul Manaf menamai daerah ini terinspirasi dari lokasi tempat beliau beribadah di Mekkah yang disebut “Gubah Mahmud”. Nama itu dipilih sebagai doa agar kampung tersebut menjadi tempat yang diberkahi dan dihormati.
Pada masa awal berdirinya, wilayah Mahmud merupakan rawa luas dengan tanah yang labil. Karena kondisi alam tersebut, para leluhur kampung menerapkan aturan adat yang masih dipatuhi sampai sekarang, seperti larangan membangun rumah tembok, larangan menggunakan jendela kaca, serta larangan menggali sumur. Semua rumah wajib berbentuk rumah panggung berbahan kayu atau bambu.
Selain faktor lingkungan, beberapa larangan adat juga terkait dengan masa kolonial. Kampung Mahmud pernah dijadikan tempat persembunyian dari penjajah Belanda. Untuk menjaga agar wilayah ini tidak mencolok, warga dilarang membuat bangunan permanen, memelihara angsa, hingga membunyikan gong. Aturan-aturan tersebut membuat kampung tetap terlihat sederhana dan tidak mudah ditemukan pada masa penjajahan.
Seiring perkembangan waktu, Kampung Mahmud tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi lokasi penting dalam penyebaran Islam. Ajaran Syeikh Abdul Manaf diteruskan oleh keturunannya, yang hingga kini masih menjadi pemimpin adat dan penjaga tradisi kampung. Masyarakatnya dikenal sangat memegang nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan kesalehan.
Kini, Kampung Mahmud berkembang menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi masyarakat. Makom Mahmud menjadi titik utama ziarah, sementara lingkungan kampung menyuguhkan suasana khas pemukiman adat. Jalan masuk kampung pun dihiasi gerbang dengan tulisan “Makom Karomah Mahmud”, menandai kawasan suci dan bersejarah tersebut.
Meski berada di tengah kemajuan wilayah Bandung Raya, Kampung Mahmud tetap mempertahankan identitas aslinya. Rumah-rumah tradisional masih berdiri, adat-adat lama tetap dijaga, dan pola permukiman kampung tetap mengikuti warisan leluhur yang berpusat pada masjid dan area pemakaman keramat. Keaslian inilah yang membuat kampung tetap istimewa.
Kampung Mahmud bukan hanya menjadi saksi sejarah penyebaran Islam, tetapi juga simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan budaya dan spiritual. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak selalu harus menghapus tradisi, melainkan dapat berjalan berdampingan dengan identitas lokal yang kuat.





