Ngopi Sewarung “Aku jatuh cinta pada Baduy”
Ngopi Sewarung Baduy Gunung Jangan Dipugar dan Bergerak Demo
Ngopi Sewarung Baduy Gunung Jangan Dipugar dan Bergerak Demo
Kita harus membantu menjaga kelestarian alam di sini,” papar Suten serius sambil berjalan bergegas menuju Gajeboh. Tugasnya menulis dan mengirim artikel sudah selesai.

Sambil menyeruput kopi hangat dan menghisap kretek, Suten menulis sebuah artikel. Jemarinya lincah menyentuh keyboard laptop ukuran kecil. Ia menulis tentang kerusakan alam dan kegelisahan wanita Baduy yang tengah menghadapi pergeseran dan gesekan nilai-nilai kehidupan orang Baduy.
Artikel itu ia kirim ke alamat email milik Karim di Jakarta melalui jaringan internet yang hanya bisa diakses di wilayah Ciboleger. Di samping laptopnya terselip selembar poto Mirsa di atas lembaran buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found,” karya penulis asal negara Brazil, Prof, Arsyio Santos. Di dalam tasnya ada satu buku tebal lagi yang selalu ia bawa “Eden in The East (Benua yang tenggelam di Asia Tenggara),” karya Stephen Oppenheimer (Oxford University).
“Aku jatuh cinta pada Baduy,” kata Suten kepada Andrea.
“Hmmmm…cinta kepada Baduy apa cinta kepada Mirsa?!”celetuk Andrea setengah mengejek.
“Kita harus membantu menjaga kelestarian alam di sini,” papar Suten serius sambil berjalan bergegas menuju Gajeboh. Tugasnya menulis dan mengirim artikel sudah selesai.
Suten harus kembali ke Gajeboh untuk mencari informasi apa saja yang diperoleh Musung setelah mengikuti musyawarah dengan para kokolot dan tokoh adat.
Sebelum tiba di rumah Musung, Suten mencoba mencari keberadaan Mirsa di sekitar sungai Ciujung. Sementara Andrea langsung menuju ke rumah Musung.
Dari kejauhan Suten melihat Mirsa sedang berjalan di pinggiran sungai. Ia memberanikan diri mendekat. “Mirsa!,” sapa Suten. Gadis itu menoleh ke arah Suten. Mirsa bukan main kaget. Jantungnya berdebar debar saat melihat Suten yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Tapi Mirsa terus saja melangkah menuju bebatuan di tengah sungai seolah tak mengacuhkan sapaan lelaki yang dirindukannya. Suten berusaha makin mendekat dan hampir saja meraih tangan gadis itu. Namun niatnya ia batalkan setelah mengetahui ada beberapa pasang mata pemuda sedang mengawasi.
Suten menyodorkan sapu tangan warna biru. Itu bukan sapu tangan biasa melainkan sapu tangan penuh kenangan yang membuat mereka bisa saling bersentuhan tangan untuk pertama kali.. “Simpanlah ini pertanda aku selalu ada di hatimu,” kata Suten lirih. Mirsa mengulurkan tangan perlahan meraih sapu tangan dengan wajah tertunduk.
Dari kejauhan terdengar suara Andrea berteriak- teriak memanggil. “Suten, Suten, Suten ..;mereka mau pada demo. Pada kumpul di rumah Musung…!” ujar Andrea, nafasnya tersengal -sengal.
Suten pun berlari ke arah rumah Musung meninggalkan Mirsa seorang diri di pinggir sungai.
Rupanya para pemuda Baduy sedang bersiap hendak berangkat demo ke Kampung Ci Jahe.
“Kita harus cegah mereka jangan sampai merusak hutan Baduy. Kalau perlu kita hentikan proyek itu..!” teriak Musung bersemangat memberi arahan kepada kelompok pemuda, persis seperti pimpinan kelompok aksi masa dari sebuah ormas. Suten masuk ke dalam kerumunan.
“Ayo berangkat…!” Musung memberi komando kepada pemuda agar mulai bergerak.
“Saya ikut…!” kata Suten kepada Musung yang menatap wajah Suten tanpa ekspresi.
“Kaaang jangan ikut…!”teriak Mirsa dari jauh.
“Saya ikut…!” tegas Suten sekali lagi, dijawab Musung dengan anggukan kepala.
Gunung Jangan Dipugar :
Para tokoh masyarakat Baduy Luar juga sangat marah ketika mendengar adanya pengrusakan lingkungan hutan di wilayah Ci Jahe.
“Tanah urang (tanah kami) telah rusak. Mereka mau mengambil minyak. Kita harus bertindak,” kata Samani saat menghadap Jaro Daenah
“Jangan sampai kita diusir dari tanah leluhur, atau diminta pindah ke lokasi lain,” ujar Samani lagi, khawatir.
Jaro Daenah bisa memahami apa yang menjadi kekhawatiran Samani. Ia sebenarnya sudah lama mencium isu kalau tanah ulayat Baduy termasuk salah satu wilayah yang masuk ke dalam bagian Blok Rangkas.Tapi ia harus bertindak bijak, hati-hati.
Jaro memerintahkan Arji, Samani, dan Samin agar menyebarkan pesan Jaro yang mengundang seluruh tokoh adat dan kokolot kampung untuk berkumpul di kantor desa. “Kita berdiskusi bersama langkah-langkah apa saja yang diperlukan. Jangan sampai orang Baduy dianggap sebelah mata,” ujar Jaro. Nada suaranya terdengar agak emosional.
Keesokan harinya, ber-kumpullah wakil-wakil dari masing-masing Kasepuhan Baduy Dalam dan beberapa kokolot dari Baduy Luar.
“Kira tak bisa membiarkan orang luar berbuat seenaknya merusak alam. Itu melanggar adat . Gunung jangan dipugar, lembah jangan diurug. Yang panjang biarkan panjang. Yang pendek barkan pendek. Kita harus mencegah mereka jangan sampai alam kita rusak…!” Tegas Jaro Daenah di depan para tokoh adat dan para pemuda.
Musung sebagai ketua tokoh pemuda agak ngotot. Ia meminta agar ada tindakan yang lebih keras. “Kita harus melakukan aksi intensifikasi di lokasi proyek. Itu perlu agar mereka tahu kalau Tanah Ulayat Baduy harus dilindungi.!” katanya bersemangat..
“Saya setuju, tapi jangan pake cara kekerasan,” ujar Jaro Daenah memberi saran.
Akhirnya musyawarah adat menjelang Maghrib berakhir yang menghasilkan beberapa hal penting. Diantaranya mengijinkan para pemuda Baduy dibawah komando Musung untuk bertindak di lapangan.
Dapatkan perasaan
Tuan Sepuluh





