Uncategorized

Tim PkM Unisba Kenalkan Batik Khas Ujungberung pada Milangkala Wallagri ke-21, Sinergikan Pelestarian Budaya dan Perlindungan Hak Cipta

56views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Komitmen Universitas Islam Bandung (Unisba) dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memberdayakan masyarakat kembali diwujudkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kali ini, Tim PkM Unisba resmi memperkenalkan Batik Khas Ujungberung dalam rangkaian Milangkala Wallagri ke-21 yang berlangsung di Alun-Alun Ujungberung, Kota Bandung, Sabtu (8/8/2026).

Peluncuran batik tersebut merupakan hasil Program PkM Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan tema “Pendampingan Masyarakat dalam Pengembangan Batik Khas Ujungberung.” Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari ratusan warga serta dihadiri berbagai unsur pemerintah, tokoh budaya, dan pemangku kepentingan. Hadir dalam kesempatan tersebut Camat Ujungberung Abriwansyah Fitri, AP., S.Sos., M.AP., Kepala Seksi Olahraga Pendidikan Dispora Kota Bandung Acep Wahyu Ramadan, Ketua Wallagri Weishaguna, S.T., M.M., dan Pembina Wallagri Sutrisna.

Peluncuran Batik Khas Ujungberung menjadi puncak dari proses pendampingan yang telah dilakukan Tim PkM Unisba sejak Juni 2026 bersama masyarakat dan mitra lokal. Program ini dirancang bukan hanya untuk menghasilkan produk batik, tetapi juga mengangkat nilai-nilai budaya lokal, meningkatkan kompetensi masyarakat, serta memperkuat pemahaman mengenai pentingnya perlindungan kekayaan intelektual.

Menggali Filosofi Budaya sebagai Identitas Batik

Tahapan awal program diawali dengan kegiatan silaturahmi pada 10 Juni 2026 sebagai upaya membangun komunikasi dan kolaborasi antara Tim PkM Unisba dengan pemerintah wilayah, tokoh adat, pelaku seni budaya, serta masyarakat Ujungberung.

Selanjutnya, pada 18 Juni 2026 dilakukan penggalian nilai-nilai filosofis yang bersumber dari sejarah, tradisi, dan kearifan lokal Ujungberung. Proses tersebut melibatkan para sesepuh, tokoh masyarakat, budayawan, ulama, serta komunitas Ngamumule Budaya Kolot (Ngabako).

Hasil kajian tersebut melahirkan tiga motif utama Batik Khas Ujungberung, yakni Gunung Manglayang, Benjang sebagai seni bela diri tradisional khas Ujungberung, serta Bangkerok, makanan tradisional berbahan dasar ketan yang menjadi kuliner khas daerah tersebut.

Ketiga motif itu dipilih sebagai representasi sejarah, karakter, dan identitas budaya masyarakat Ujungberung yang kemudian diwujudkan dalam karya batik bernilai artistik sekaligus filosofis.

Tidak berhenti pada penciptaan motif batik, Tim PkM Unisba juga memberikan edukasi mengenai pentingnya perlindungan Kekayaan Intelektual (KI), khususnya hak cipta.

Pelatihan yang dilaksanakan pada 18 Juli 2026 tersebut diikuti oleh 13 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, pelaku usaha, hingga ibu rumah tangga.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang cukup signifikan. Nilai rata-rata pretest sebesar 30,91 meningkat menjadi 75,00 pada posttest, atau mengalami kenaikan sebesar 44,09 poin.

Materi yang disampaikan mencakup konsep hak cipta, hak moral dan hak ekonomi, jangka waktu perlindungan hukum, hingga prosedur pencatatan karya sebagai bentuk perlindungan terhadap hasil kreativitas masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, motif Batik Khas Ujungberung resmi memperoleh pencatatan hak cipta pada 31 Juli 2026 dengan nomor EC002026129652, sehingga memiliki perlindungan hukum yang sah.

Workshop Membatik Bekali Warga dengan Keahlian Produksi

Dalam rangka meningkatkan kapasitas masyarakat, Tim PkM Unisba juga menyelenggarakan workshop membatik yang memberikan pelatihan praktik secara langsung.

Kegiatan tersebut menghadirkan anggota Tim PkM Unisba bersama Dr. Indriya, pakar pemotifan batik ulama dari Universitas Ibnu Khaldun, serta mendapat pendampingan teknis dari Rumah Batik Palbatu.

Peserta diperkenalkan pada berbagai peralatan membatik, seperti malam, wajan tembaga, kompor, meja kerja, hingga cap bermotif khas Ujungberung. Mereka juga mempraktikkan seluruh tahapan produksi, mulai dari pencapan motif, pewarnaan, penguncian warna menggunakan waterglass, pelorodan malam, hingga proses penjemuran kain.

Perwakilan Tim PkM Unisba, Dr. Ahmad Faizal Adha, S.H.I., M.Ag., menegaskan bahwa Batik Khas Ujungberung memiliki nilai lebih dari sekadar produk kerajinan.

“Batik Khas Ujungberung bukan hanya kain bermotif, tetapi merupakan kristalisasi sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat Ujungberung. Melalui pendampingan sejak tahap awal, edukasi hak cipta hingga proses diseminasi, kami berharap warisan budaya ini tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Peluncuran Batik Khas Ujungberung menjadi awal pengembangan program yang berkelanjutan. Ke depan, produksi batik akan dilakukan secara berkala sehingga dapat dimanfaatkan sebagai seragam sekolah, pakaian resmi instansi, maupun busana dalam berbagai kegiatan budaya Sunda di wilayah Ujungberung.

Selain itu, kawasan Ujungberung juga diproyeksikan berkembang sebagai destinasi wisata edukasi batik melalui penyelenggaraan workshop yang dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pemerintah Kecamatan Ujungberung bersama berbagai pemangku kepentingan memberikan apresiasi terhadap inisiatif Tim PkM Unisba tersebut. Kehadiran Batik Khas Ujungberung diharapkan mampu memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap budaya lokal sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Melalui program ini, Unisba kembali menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pelestarian budaya, perlindungan kekayaan intelektual, peningkatan keterampilan, serta pengembangan potensi ekonomi lokal yang berkelanjutan. (ask)***

Leave a Response