Pendidikan

Tanggung Jawab Komite Sekolah di Masa Pandemi

295views
SIGEULIS (Siswa & Guru Menulis)

Oleh: Dr.  Boy Tagajagawani, ST., MT.

Kondisi di Indonesia, saat ini sedang mengalami tantangan dalam dunia pendidikan. Merebaknya kasus Covid-19 hingga saat ini. Mengharuskan semua kegiatan belajar mengajar para peserta didik, dilakukan di rumah. Hal ini, guna meminimalisis kontak fisik, sehingga diharapkan dapat mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus. Untuk mengisi kegiatan belajar mengajar, pemerintah melalui Dinas Pendidikan masih mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh melalui media daring (dalam jaringan), dengan menggunakan gadget/laptop. Media ini sebagai langkah solutif, selain untuk mencegah penyebaran Covid-19, juga agar peserta didik dapat terus melanjutkan pendidikannya.

Implementasi pembelajaran daring sudah berjalan satu tahun lebih. Namun, seiring perjalanan waktu, muncul banyak permasalahan dalam pembelajaran daring. Beberapa kendala yang dihadapi oleh siswa, guru dan orang tua dalam kegiatan belajar mengajar on-line, diantaranya keterbatasan perangkat gadget/laptop, jaringan internet yang kurang stabil, penambahan biaya kuota internet, masih kurangnya penguasaan teknologi, adanya pekerjaan tambahan bagi orang tua dalam mendamping anak belajar, terbatasnya komunikasi dan sosialisasi antara guru, siswa dan orang tua, bertambahnya jam kerja yang tidak terbatas bagi guru dan adanya kesulitan siswa dalam menangkap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

Bahkan hal yang cukup mencengangkan, baru-baru ini. Salah satu surat kabar ternama di Jawa Barat, melansir bahwa siswa yang mengalami putus sekolah di masa pandemi ini, trend-nya semakin meningkat. Hal ini antara lain disebabkan selain keterpurukan perekonomian keluarga, sehingga banyak siswa yang ikut membantu ekonomi keluarga dengan ikut bekerja, juga ketidaksiapan siswa maupun orang tua dalam melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Banyak orang tua, sebelum masa pandemi, telah terkendala dengan beban biaya hidup sehari-hari dan belum memprioritaskan pendidikan menjadi hal utama bagi putra-putrinya. Berdasarkan data yang dilansir dari Kemendikbud, angka putus sekolah di Jawa Barat untuk Tahun Ajaran 2019/2020 mencapai 15.449 siswa dan kecenderungannya untuk tahun ini, akan mengalami peningkatan.  Ditambah lagi, informasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyatakan bahwa di masa pandemi, banyak siswa berpotensi menikah di usia dini. Hal ini menjadi tantangan bagi pihak sekolah maupun Komite Sekolah, dalam menjawab masalah tersebut. Pertanyaan yang muncul, bagaimana peran Komite Sekolah dalam mengantispasi siswa yang mengalami hal tersebut?

Sebagaimana kita sadari, pembelajaran dimasa pandemi ini. Tidak hanya melibatkan guru semata, namun semua unsur yang berkaitan dengan pembelajaran, harus berperan aktif dalam memajukan kualitas pendidikan. Salah satu kunci menjaga mutu pendidikan di sekolah adalah kehadiran Komite Sekolah. Ditengah pandemi Covid-19, masih saja ada Komite Sekolah yang merupakan mitra sekolah, belum menjalankan fungsi dan perannya dengan baik. Padahal salah satu peran Komite Sekolah di masa pandemi ini, yaitu ikut membantu pihak sekolah dan guru dalam membimbing, mengarahkan dan mengawasi anak-anak selama pembelajaran di rumah secara berkesinambungan. Keberadaan Komite Sekolah harus bertumpu pada landasan partisipatif orang tua dan masyarakat dalam meningkatkan  kualitas layanan dan hasil pendidikan.

Melihat fenomena tersebut, peran Komite Sekolah menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung keberlangsungan dan kesuksesan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Bahkan dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, menegaskan bahwa fungsi utama Komite Sekolah, yaitu meningkatkan mutu layanan pendidikan. Dalam Permendikbud tersebut, tugas Komite Sekolah, selain menggalang dana/sumberdaya pendidikan lainnya (supporting agency) dari masyarakat melalui upaya kreatif maupun inovatif, juga sebagai media yang menindak lanjuti keluhan, saran, kritik, apresiasi aspirasi dari siswa, orangtua (mediator). Disamping itu juga, fungsi Komite Sekolah mengawasi pelayanan pendidikan di sekolah (controlling agency) dan juga memberikan pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan program sekolah, terutama dalam mengevaluasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh pihak sekolah di masa pandemi ini.

Dari uraian tersebut, jelas terlihat bahwa Komite Sekolah mempunyai peran yang cukup besar bagi keberhasilan penyelenggaraan pendidikan berkualitas, terutama di masa pandemi. Hubungan antara pihak sekolah dengan Komite Sekolah  memiliki tujuan yang hendak dicapai, yakni tetap berupaya menjaga mutu pendidikan. Bentuk keterlibatan Komite Sekolah dalam proses pembelajaran peserta didik dimasa pandemi ini antara lain, 1). Berkolaborasi dengan pihak sekolah dalam menyusun program kerja dan membuat kegiatan Komite Sekolah yang lebih melibatkan peran serta orang tua dan masyarakat; 2). Melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran jarak jauh dengan kawalan protokol kesehatan yang ketat;  3). Memberikan alternatif solusi dalam menciptakan proses pembelajaran yang kreatif, adaptif dan inovatif dalam menghadapi tantangan perubahan pendidikan; 4). Turut memberikan dukungan finansial/non-finansial dan terlibat langsung untuk membantu peserta didik yang mengalami putus sekolah; 5). Mengkampanyekan pendidikan karakter siswa kepada orang tua melalui pendampingan selama pembelajaran di rumah; 6) Menyampaikan informasi nilai-nilai positif  kepada orang tua dan masyarakat untuk selalu berfokus pada pendidikan bagi masa depan putra-putrinya.

Apapun kondisi dan alasannya, pendidikan harus tetap hidup ditengah keprihatinan ini. Diharapkam kehadiran dan peran aktif Komite Sekolah, dapat menjadi garda terdepan untuk menjalankan roda pendidikan dalam proses pembelajaran dimasa pandemi ini.*

Penulis Ketua Forum Komunikasi Komite SMP se-Kota Bandung/ Komite SMPN 28 Kota Bandung

 

 

 

 

Leave a Response