Opini

Strategi Kreatif Aktivasi Organisasi Literasi Gerakan Pembudayaan Minat Baca di Daerah : Eksis GPMB-nya, Berkah Masyarakatnya

58views

Oleh : M Kh Rachman Ridhatullah, S.Sos, M.Si.

Dunia literasi hari ini sudah jauh berbeda dibandingkan dua dekade lalu. Cara masyarakat memperoleh informasi telah berubah total. Buku tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Smartphone telah menjadi perpustakaan baru. Media sosial, video pendek, podcast, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat dalam belajar, bekerja, dan mengambil keputusan.

 MEMASUKI — usia ke-25 tahun, Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) berada pada sebuah persimpangan penting. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan bagaimana menjadikan organisasi ini semakin relevan, hidup, dan berdampak di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

Dunia literasi hari ini sudah jauh berbeda dibandingkan dua dekade lalu. Cara masyarakat memperoleh informasi telah berubah total. Buku tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Smartphone telah menjadi perpustakaan baru. Media sosial, video pendek, podcast, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat dalam belajar, bekerja, dan mengambil keputusan.

Ironisnya, di tengah perubahan besar tersebut, sebagian organisasi literasi masih bekerja dengan pola yang hampir sama seperti bertahun-tahun lalu. Aktivitas organisasi sering kali masih didominasi seminar, lomba membaca, bedah buku, atau kegiatan seremonial yang berhenti ketika acara selesai. Padahal, masyarakat yang ingin dijangkau telah berubah gaya hidupnya.

Di sinilah tantangan terbesar GPMB di daerah. Organisasi literasi tidak cukup hanya aktif menyelenggarakan kegiatan. Organisasi harus mampu mengaktivasi masyarakat. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara keduanya. Kegiatan menghasilkan keramaian sesaat, sedangkan aktivasi melahirkan keterlibatan, kolaborasi, dan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan GPMB sudah saatnya bergeser. Bukan lagi seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, tetapi seberapa besar dampak yang dirasakan masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai strategi kreatif aktivasi organisasi literasi.

Aktivasi berarti menghadirkan GPMB sebagai penggerak kehidupan masyarakat, bukan sekadar penyelenggara kegiatan literasi. Organisasi harus hadir di ruang-ruang tempat masyarakat menjalani kehidupannya. Di desa, di sekolah, di kampus, di masjid, di komunitas UMKM, di taman baca, di ruang kreatif anak muda, bahkan di ruang digital tempat masyarakat menghabiskan sebagian besar waktunya.

Kalau masyarakat berpindah ke ruang digital, maka GPMB juga harus hadir di ruang digital. Kalau generasi muda belajar melalui video pendek, podcast, atau AI, maka organisasi literasi harus mampu memanfaatkan media tersebut sebagai sarana membangun budaya belajar. Literasi tidak boleh lagi hanya identik dengan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.

Strategi pertama yang perlu dibangun adalah problem mapping. Pikirkan dulu masalah yang sedang dhadapinya itu apa? Jangan pernah bicara ide kreatif apa yang harus dilakukan. Sebab, ide tanpa data itu sama saja dengan pekerjaan menggarami laut. Sia-sia saja. Saat organisasi literasi sedang vakum, maka cari tahu dulu penyebabnya. Ketia sudah dapat data yang menjadi penyebabnya, maka kita bisa memberikan ide kreatif tentang alternatif solusinya yang lebih relevan dengan konteks permasalahannya tersebut.

Strategi kedua adalah community first. Program jangan lagi menjadi titik awal. Komunitaslah yang harus menjadi titik berangkat. Setiap daerah memiliki potensi komunitas yang sangat beragam. Ada komunitas guru, pegiat UMKM, karang taruna, pesantren, organisasi perempuan, komunitas hobi, hingga kelompok lansia. Semua dapat menjadi mitra strategis GPMB. Ketika komunitas bergerak, organisasi akan tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan sendiri.

Strategi ketiga adalah menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup. Selama ini literasi sering dipersepsikan sebagai aktivitas akademik yang serius dan formal. Padahal, literasi dapat dikemas lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti literasi keuangan bagi pelaku usaha, literasi digital bagi keluarga, literasi kesehatan bagi ibu rumah tangga, literasi AI bagi pelajar, atau literasi lingkungan bagi komunitas desa. Ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung, literasi tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan.

Strategi keempat adalah mengubah orientasi dari event menjadi movement. Sebuah seminar mungkin hanya berlangsung dua jam, tetapi gerakan membaca harian, klub diskusi, kelas belajar mingguan, tantangan membaca, atau komunitas menulis dapat membangun budaya belajar yang berlangsung sepanjang tahun. Organisasi yang hidup bukanlah organisasi yang sibuk membuat acara, melainkan organisasi yang berhasil menciptakan implikasi dampak sebuah gerakan.

Strategi kelima adalah membangun GPMB sebagai organisasi yang digital first. Setiap aktivitas seharusnya melahirkan konten digital yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Dokumentasi tidak cukup hanya menjadi arsip organisasi, tetapi harus diolah menjadi video inspiratif, podcast, infografik, artikel, dan konten media sosial yang mampu menggerakkan publik. Di era algoritma, kehadiran organisasi juga ditentukan oleh kehadirannya di ruang digital.

Tidak kalah penting, strategi ke-enam, GPMB harus memberi ruang yang lebih besar kepada generasi muda. Anak muda jangan hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi harus menjadi kreator, relawan digital, fasilitator, penggerak komunitas, bahkan pemimpin gerakan literasi di daerahnya masing-masing. Masa depan organisasi tidak ditentukan oleh seberapa kuat para senior bekerja, tetapi oleh seberapa banyak pemimpin muda yang berhasil dipersiapkan.

Pada akhirnya, keberhasilan GPMB tidak lagi dapat diukur dari jumlah proposal, banyaknya seminar, atau tebalnya laporan kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah lahirnya komunitas-komunitas baru, bertambahnya relawan, meningkatnya kolaborasi, meluasnya jangkauan gerakan di ruang digital, serta semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat nyata dari literasi.

Memasuki usia seperempat abad, inilah momentum bagi GPMB untuk melakukan transformasi besar. Dari organisasi penyelenggara kegiatan menjadi organisasi penggerak ekosistem literasi. Dari sekadar mengajak masyarakat membaca menjadi menggerakkan masyarakat untuk terus belajar, berkolaborasi, berkarya, dan berdaya.

Sebab tujuan akhir gerakan literasi bukanlah banyaknya kegiatan yang berhasil dilaksanakan, melainkan lahirnya masyarakat yang semakin cerdas, semakin produktif, semakin adaptif terhadap perubahan, dan semakin mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

Ketika itu terjadi, GPMB bukan hanya akan tetap eksis sebagai organisasi. Lebih dari itu, kehadirannya akan benar-benar menjadi berkah bagi masyarakat. Dan di situlah makna sesungguhnya dari strategi kreatif aktivasi organisasi literasi di daerah : eksis GPMB-nya, berkah masyarakatnya.  (Penulis Ketua- 1 PP GPMB 2023-2027 Dewan Penasehat PP GLN Gareulis 2025-2030 Founder & CEO Padepokan Dakwah Kreatif Bandung)

Editor : Rianto Muradi

 

Leave a Response