Agama

Sertakan Do’amu dengan Menyanjung-Nya

294views

Oleh KH. Yayan Ahmad Muzaky

Dari Anas _radhiyallahu anhu_ bahwa ia pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ,

*جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّي ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى*

Sementara ada seseorang yang sedang mengerjakan salat, kemudian ia berdoa; Allaahumma Innii As-Aluka Bi Anna Lakal Hamdu Laa Ilaaha Illaa Antal Mannaan, Badii’us Samaawaati Wal Ardl, Yaa Dzal Jalaali Wal Ikraam, Yaa Hayyu Yaa Qayyuum (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu bahwa bagi-Mu segala pujian, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat yang memiliki keagungan, serta kemuliaan. Wahai Dzat yang Mahahidup, lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)). Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung, yang apabila dipanjatkan doa kepada-Nya dengan nama tersebut, maka Dia akan mengabulkannya, dan apabila Dia diminta dengan nama tersebut, maka Dia akan memberinya. HR. Abu Daud no.1277

Nikmat Dari Allah Swt*

Sejatinya, pada waktu kita masih dihormati kemudian dipandang baik dan mulia oleh setiap orang yang ada didekat kita, semuanya karena *Sang Pencipta* berkenan untuk menutup aib & dosa2 kita. Seandainya mereka mengetahui keburukan, kejahatan juga dosa kita tentunya tidak ada yang sudi untuk memuliakan seorang yang lemah dan hina seperti diri kita.

Adakalanya dosa dan kesalahan, dapat membuat seorang hamba insyaf dan bertaubat. Kemudian berusaha memperbaiki segenap kekhilafannya.

Tetapi… bagi insan yang merasa dirinya pasti benar dan tidak pernah bersalah, maka hal itu bisa mendatangkan sifat sombong dan juga takabur yang hadir tanpa disadari pelakunya.  Meski seburuk apapun tampilan diri kita, maka tetaplah berusaha untuk membersihkan qalbu dari sifat-sifat mazmumah _( takabur, hasad, riya,  dengki, ujub, angkuh ).

Bila hati kita telah dipenuhi oleh benih-benih kebaikan yakni sifat _”mahmudah & taqwa”_ kelak kita akan mendapatkan keselamatan didalam rahmat serta maghfirah *Allah Yang Maha Suci dan Mulia.*

“Janganlah tertipu oleh pinjaman nikmat yang sering dianggap hak milik oleh manusia. Apabila telah sampai waktunya, tentunya  Allah SWT akan mengambilnya kembali dari tangan kita. Maka pergunakanlah nikmat tersebut untuk beribadah sebagai pengabdian pada-Nya.”_

Ujian Kehidupan.  Kadang realita dalam kehidupan dapat berjalan terbalik dari yang semestinya. Ketika dikaji secara ilmu atau teori tidak seharusnya berlaku seperti hal itu. Misalnya ada seorang pakar ilmu ekonomi dalam prakteknya tidak memiliki suatu usaha atau perdagangan, walaupun hanya kedai makanan kecil2an. Seorang ahli pertanian justru ladang bisnisnya menjadi pengusaha bidang kuliner foods and beverages sangat sukses.

Kemudian ada juga yang lulusan sekolah “designer graphic” justru dia bekerja diperkebunan sawit. Ada juga orang yang tidak tinggi sekolahnya, tetapi justru mampu mendirikan industri besar yang pekerjanya para sarjana lulusan dari universitas terkemuka. Ada juga seorang ulama yang banyak ilmu dan doanya justru hidupnya sederhana. Sedangkan ada pula seorang hamba yang awam dan ilmunya sederhana justru kaya.

Maka ini menjadi sebuah materi pembelajaran bagi orang-orang yang berfikir bahwa hakikatnya Dzat yang mampu menentukan serta mengendalikan rejeki atas seluruh makhluk yang dilangit & dibumi adalah  Allah Yang Maha Kaya. Jadi perputaran dari rejeki bukan berjalan disebabkan ilmu ataupun kepandaian kita semua dalam berikhtiar dan berusaha.**

*Penulis Pengasuh Ponpes Tarbiyatul Aulad, Tambak Baya, Garut)

 

Leave a Response