Opini

Sekolah Ayah Inklusif  yang Bikin Bangga

749views

Oleh Farhan Helmy 

MENGIKUTI Training for Trainers(TFT) Sekolah Ayah, yang diselenggarkan pada tanggal 18 Agustus 2020. Ini kali kedua  mengikuti inisiatif yang luar biasa  sebua event istimewa yang  diselenggarakan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Pemerintah Kota Bandung.  Keikutsertaan dan pandangan pada pelatihan pertama yang diselenggarakan November 2021, mencipta sebuah infuser yang membagakan.

Dalam setiap kerumunan apapun selalu digunakan sebagai arena untuk berbagi pandangan soal inklusi sosial, khususnya yang menyangkut penyandang disabilitas dan lansia. Pun dengan inisiatif yang luar biasa seperti Sekolah Ayah yang mungkin hanya sedikit ada bahkan di dunia sekalipun, apalagi di Indonesia. Keinginan tahu  selalu terusik setiap ada suatu inisitiatif yang menaruh perhatian pada berbagai isu yang secara langsung bersentuhan dengan publik.

Selain minat pada isu-isu kelompok yang terpinggirkan, masa petualangan intelektual  selama jadi bagian dari Departemen of Social Engineering, Tokyo Institute of Technology dan juga ketertarikan pada inisatif di Jepang dan berbagai negara berkembang lainnya, terutama India dan berbagai negara di Amerika Latin. Selalu ada ruang untuk inovasi sosial manakala ada persoalan yang menyangkut ruang dan kepentingan publik. Itulah kira-kira pengetahuan yang terserap lebih dari sewindu hidup dengan para intelektual dan aktivis di Jepang.

Walaupun mungkin masa itu sudah lewat menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anak sendiri, tetapi barangkali melalui apa yang ditekuni dan juga organisasi yang diikuti di Pergerakan Penyandang DIsabilitas dan Lansia (DILANS) Indonesia, dan juga komunitas BBC76Community yang menaruh perhatian pada dimensi sosial, budaya dan sains di akar rumput.

Berkepentingan pada Sekolah Ayah ini, terutama untuk penyandang disabilitas. Seringkali menjumpai ayah “sembunyi” ketika ada anaknya yang disabilitas..Peran dibebankan kepada ibu mungkin karena berbagai alasan (malu, karma; pen).

Dua narasumber yang luar biasa kali  Ny. Siti Muntamah,,SAP istri alm Muhammad Daie l (Mang Oded) yang  juga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ayah Irwan, aktivis sekaligus penggagas Sekolah Ayah. Dua-duanya orang hebat yang tidak pernah lelah berbagi ilmu dan pengaruh akan pentingnya peran ayah dalam keluarga. Sebagai tambahan pengetahuan yang tidak kalah pentingnya,  Iip Saripudin yang menjelaskan pola asuh ayah yang efektif.

Ny. Siti Muntamah, menggambarkan statistik yang menarik dari persoalan persoalan anak dan keluarga saat ini, khususnya di Kota Bandung seluas  167,31 km² yang dihuni lebih dari 2.527.824  orang , dengan jumlah keluarga 817.665, dengan jumlah anak 715.098, muncul banyak persoalan yang tergambarkan dalam statistik itu.

Banyak persoalan ini yang kemudian mendorong dibentuknya Pusat Pendidikan Keluarga (Puspaga) yang menaruh perhatian dengan berbagai program: Sekolah Keluarga, Dialog Interaktif Ayah Nyentrik, Layanan Konseling dan Konsultasi, Penjangkauan, Cengkrama Puspaga, Ngobras Puspaga, Layanan Rujukan serta berbagai kerjasamama antar berbagai perangkat daerah, dan juga lembaga verikal diatasnya baik propinsi, maupun nasional yang terkait.

Ayah Irwan memaparkan banyaknya persoalan pada anak seperti gangguan mental, hubungan seks sebelum menikah, pemakaian narkoba, kriminal  diantara diantara sumber persoalan yang akarnya peran ayah dan ibu. Namun sediikit paradoks apa yang terjadi di Indonesia. Di negara maju, sumber persoalannya ada pada hubungan antara ayah/ibu dengan anak, di Indonesia bersumber dari hubungan antara suami isteri.

Namun apapun hubungannya menimbulkan adanya “fatherless”, ketidakadaan ayah yang akan berdampak pada kehidupannya kemudian. Usia antara 0-14 tahun adalah usia emas tentang pembagian peran ayah dan ibu. Tidak bisa saling mengabaikan. “Seorang Ayah tidak bisa hadir pada setiap saat, tetapi hadir pada saat yang tepat”, itu kira-kira pesan utama dari paparan yang disampaikan.

Ada empat pola asuh anak  seperti dituturkan  Iip dalam menghadapi tantangan saat ini, yakni otoriter, permisif (serba boleh), demokratis, diabaikan. Keempatnya memiliki dampak positif dan negatif. Pola asuh yang demokratis sekalipun walau memiliki dampak positif harga diri yang tinggi, tampil percaya diri, mandiri, dapat mengontrol diri, senng dan berani belajar dari lingkunganya, sisi negatifnya pun tidak dapat dikesampingkan. Orang tua dapat terjebak pada kompromi berlebihan dan dapat dimanipulasi oleh anak. Karenanya perlu dicari pola asuh yang efektif dalam mengatasinya.

Ada sepuluh pola asuh yang efektif untuk mengatasinya yang disarankan Iip yang intinya mengarah pada perlakuan orang tua dan anak untuk menciptakan keteladanan, pembiasaan, dan pemberian penghargaan dan konsekuensi. Pola asuh ini sejalan dengan 31 hak anak seperti yang tercantum dalam UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak, yang kemudian mengalami perubahan menjadi UU 35/2014.

Ayah Inklusif

Walaupun dalam TFT ini membatasi pada urusan ayah, ada dimensi lain yang terkait diluar kehidupan keluarga yang secara langsung, dan tidak langsung mempengaruhinya. Beberapa fakta otentik  di lapangan berhasil ditemui dan mengamini apa yang disampaikan Ayah Irwan. Statistik “Bandung Undercover” mungkin bisa jauh lebih dasyat.

Statistik resmi yang disusun dengan berbagai metodologi survei yang dijalankan saat ini tidak mampu menangkap berbagai persoalan di lapangan.   Metodologi kuantitatif dan kulitatif perlu dikombinasikan manakala berhadapan dengan berbagai isu yang kompleks dan mungkin juga sangat spesifik. Ini adalah pelajaran lebih tiga puluh tahun dari profesi penulis  bergelut dengan urusan data dan metodologi. Tidak sekedar mengkompilasi dan menganalisis data, lebih jauh kita harus mengungkap makna dibalik apa yang terjadi.

Ini empat catatan yang perlu dipahami publik,  pertama, soal pengaruh lingkungan. Ini isu lintas batas, tidak bisa dilokalisir sebagai isu yang streil soal persoalan keluarga. Keluarga tidak bisa jalan sendirian, energi diluar lebih besar dalam berpengaruh. Daya tahannyapun sangat tergantung pada kemampuan ekonomi, sosial dari keluarga yang bersangkutan.

Ini salah satu contoh di salah satu kawasan padat di Kelurahan Babakan Ciamis. Banyak anak terlepas dari kehidupan dan pengasuhan orang tuanya karena desakan ekonomi dan kemampuan yang terbatas sehingga anak berada di jalanan (luar rumah).Kedua, integrasi kebijakan dan intervensi program. Banyak program yang datang dengan berbagai label yang mungkin perlu diintegrasikan, bukan saja keluarga bahkan sekolahpun sudah menjadi obyek dari banyak program. Sebut saja beberapa diantaranya: Sekolah Ramah HAM (Komnas HAM),  Sekolah yang dibebani banyak program yang tidak teintegrasi dalam pandangan saya akan menjadi beban yang berlebihan.

Ketiga, literasi semua pemangku kepentingan. Harus dikeroyok dengan melibatkan pemangku kepentingan terutama yang bisa mengambil peran sebagai “community organizer” didalam komunitas atau warga yang akan dibina atau dibangkitkan literasinya. Perlu relawan-relawan yang terus menerus terlibat, tidak “on” dan “of”.  Kita menghadapi tantangan yang sudah sejak lama berakar dalam masyarakat. Bukan khas Indonesia, terjadi di banyak negara, bahkan di negara maju sekalipun. Sejak lama akarnya sudah dikenali dan didalami Piere Burdeau, intelektual dan filosof kritis yang mumpuni, Piere Burdeau sejak lama:

“Male domination is so rooted in our collective unconscious that we no longer even see it.” “Dominasi laki-laki begitu mengakar dalam ketidaksadaran kolektif kita sehingga kita bahkan tidak lagi melihatnya.

Sekolah Ayah pastinya berada dalam konteks ini. Mendorong literasi kesetaraan tokoh dan peran seperti yang dipaparkan oleh Ayah Irwan ada dalam situasi ini. Keempat, memperluas pada isu global. Fondasi normatif sudah cukup memadai bahkan berbagai peraturangan perundangan seperti yang disampaikan oleh para narasumber. Perhatian secara global terefleksikan baik yang khusus berkaitan dengan Konvensi Hak-hak Anak (KHA) atau lebih dikenal sebagai UN-CRC (United Nations Convention on the Rights of the Child), HAM, maupun yang dikaitkan dengan berbagai isu seperti HAM, perubahan iklim, mauoun konvensi tentang Hak Penyandang Disabilitas.

Tentunya banyak praktik baik dari berbagai pelosok dunia yang bisa jadi pembelajaran dan inspirasi untuk transformasi perubahan perilaku “parenting’ yang bisa lebih meluas. Upaya kolaboratif lintas sektor dan  geografis diantara uoaya yang harus dipercepat. Kesejahteraan anak adalah nilai universal bagi kita semua.

Tidak gampang menjalani kehidupan sebagai orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas, orang tua disabilitas yang memiliki anak yang bukan penyandang disabilitas ataupun situasi keduanya, orang tua dan anaknya penyandang disabilitas. Keluarga adalah unit terkecil sebagai pilar dalam membangun bangsa, itulah kira-kira semangat yang harus dibangun ditengah berbagai pengaruh kemajuan teknologi dan disrupsi dalam keseharian saat ini. Soal “parenting” ini harus menjadi bagian dalam pembelajaran yang terus menerus agar anak-anak menjadi mandiri, kreatif dan memiliki kepedulian pada sesama dan lingkungannya. Dalam dialog dengan dua aktivis “parenting” Kang Irwan Rinaldi, dan Ustadz Benri Jaisyurrahchman, saya sampaikan pandangan dan dukungan saya terhadap upaya yang lebih masih terhadap perubahan perilaku.

Kecepatan pengaruh eksternal terhadap kehidupan keluarga jauh melebihi dari kemampuan bahkan lembaga negara sekalipun. Dua sahabat saya, orang tua penyandang disabilitas, yang ikut berdialog mengamininya.

Karenanya rekayasa sosial yang berbasis komunitas haruslah menjadi fondasinya. Apa yang terjadi di akar rumput seringkali tidak tergambarkan statistik, dan karenanya sering “misleading” dalam intervensi untuk menyelesaikannya. Upaya untuk membangun “Sekolah Ayah Inklusif” salah satu upaya untuk membangun ketahanan terhadap perubahan yang terjadi pada lingkup orang terdekat. Kota Bandung adalah salah satu kota yang sudah menginsiasi upaya ini, walaupun masih terbatas pada keluarga non-disabiltas.

*Penulis Presiden Dilans Indonesia

 

Leave a Response