Pendidikan

Rahasia Kepemimpinan Rumah Dunia

247views

Oleh Gol A Gong

 SEBELUM jadi Duta Baca Indonesia (DBI), saya sudah sering blusukan dari Sabang hingga Jayapura. Kota demi kota. Tanah Papua sudah saya kunjungi sejak 1987.

Kemudian jadi Ketua Umum Forum TBM(Taman Baca Masyarakat). Kini jadi Duta Baca Indonesia. Kota-kota di seluruh Indonesia yang saya datangi, kemudian saya datangi lagi. Seolah Dejavu. Hanya saja ada yang istimewa, saya mendatangi Merauke sebagai DBI. Di setiap kota yang saya singgahi selalu ada pertanyaan yang sama: bagaimana regenerasi kepemimpinan di Rumah Dunia?

Pertanyaan yang mudah saya jawab, yaitu diawali sebuah trust, percaya kepada warga belajar. Fasilitator, mempersilakan warga belajar untuk mengeksplorasi dirinya. Ide-ide harus lebih banyak datang dari warga belajar. Saya harus menjadi tauladan mereka dalam hal literasi (baca dan tulis terutama). Saya mendorong, menemani, dan mengikuti.Tidak birokratis karena ini organisasi dengan spirit ke relawanan.  Tidak merasa lebih pintar dari warga belajar, bahkan menyamakan posisi setara dengan mereka. Jika sudah merasa setara, maka program-program literasi lebih mudah dijalankan.

Lalu yang tidak kalah penting transparans terutama soal uang.  Tidak ada yang disembunyikan jika yang berhubungan dengan organisasi kecuali masalah pribadi.

Praktik baik literasi. Antara teori dan praktik diperbanyak praktik sehingga produk dan manfaatnya nyata. Isi sendiri. Apa yang saya sampaikan ini tidak ada teorinya kecuali nyadur-nyadur kayu  tanam di Padang, Ki Hajar Dewantoro di Taman Siswa, dan Rabindranath Tagore dengan Santi Niketan.

Sekarang ada Paolo Freire, Howard Gardner, Mang Sapit, Bik Junah, Enak, Bapak dengan model pendidikannya yang membebaskan. Silakan disempurnakan dan karena ini hanya berdasarkan pengalaman di lapangan. Di sini banyak doktor dan profesor. Saya butuh kritik dan saran untuk menyempurnakannya.

Sekarang sebagai Duta Baca Indonesia, saya merasa lebih bebas tidak terikat AD/ART yang kadang menjebak. Tapi juga dengan kebebasan yang tidak collective collegial ini, saya mencoba tidak otoriter. Rumah Dunia saja saya larang membuat AD/ART, tapi lebih saya dorong untuk berkarya.

Saya merasa di level kita ini, nasional, sudah tidak perlu lagi mengotak-atik organisasi, apalagi bikin FGD, kemudian paripurna. Itu sudah kita lewati saat sekolah dan kuliah. Apalagi jika saya merasa harus selalu dituruti dan tidak boleh dilangkahi.** Penulis Duta Baca Indonesia Perpusnas RI

 

 

 

Leave a Response