Agama

Pentingnya Instrospeksi

292views

. Oleh Ir. Desy Marliana,.SPd.

MANUSIA ditakdirkan oleh Allah Azza Wa Jalla sebagai makhluk yang tidak lepas dari kekhilafan dan kesalahan. Sudah semestinya setiap manusia senantiasa bisa instrospeksi ( muhasabah ), kemudian dijadikan pelajaran agar bisa berbenah diri. Introspeksi diri bisa menjadi bahan perenungan sebelum menilai orang lain. Kita sering kali mengurusi hidup orang lain seperti mengomentari, mengoreksi bahkan hingga menghakimi orang lain dengan ukuran diri sendiri.

Kondisi tersebut membuat kita terlihat sombong dan memandang orang lain lebih rendah, padahal diri sendiri masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Yang semestinya saling Introspeksi bukan saling mengoreksi. Maka dari itu kita perlu bercermin atau introspeksi sebelum menilai orang lain.

Introspeksi atau refleksi diri merupakan proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran mendalam yang didasari keinginan selalu ada pelajaran baik dari setiap kejadian yang menyakitkan, selama kita mau introspeksi diri, kesulitan senantiasa menghadirkan peluang untuk introspeksi diri.

Tetaplah bersabar dalam setiap kekalahan kita, tetaplah introspeksi dalam setiap kesalahan kita,tetaplah rendah hati dalam setiap kemenangan kita. Kita sering mendengar istilah bercermin dulu sebelum menilai orang lain, bercermin dalam hal ini bermakna kiasan, sebagai tindakan untuk menilai diri sendiri dari segala hal. Yang perlu diperhatikan dalam bercermin adalah kualitas cermin itu sendiri. Kalau cerminnya bening, bersih dan tidak rusak, Insya Alloh tentu bayangan yang ditampak kan juga akan terlihat jelas.

Dalam mengevaluasi diri, cerminnya adalah ilmu, yaitu ilmu tentang *Akhlak* dan tatakrama. Semakin baik ilmu yang kita miliki, maka semakin objektif penilaian yang kita lakukan. Jadi jelas, kunci dalam menilai diri sendiri adalah ilmu sebagai cermin kehidupan. Jangan pernah bosan untuk selalu menambah dan memperbaharui ilmu, agar penilaian yang kita lakukan terhadap diri kita selalu tepat. Ilmu yang bermanfaat akan selalu menjadi cermin yang baik, dan menjadikan pemiliknya selalu berhati-hati dalam bertindak.

Namun demikian tidak semua orang dianugerahi kelebihan dalam ilmu. Maka yang terjadi, tidak semua orang bisa menilai dirinya sendiri dengan baik dan tepat. Perlu diingat, cermin itu memiliki tipuan yang sangat halus, yaitu merubah semua sisi yang kanan menjadi sisi kiri dan sebaliknya. Sebaik apapun bayangan yang ditampilkan, tetap saja sisi yang kanan telah berubah menjadi sisi kiri. Jika kita menyadari hal ini, maka tidak akan menjadi masalah. Begitupun dalam menilai diri sendiri, kita harus sadar bahwa kita bisa saja tertipu dengan penilaian yang kita berikan. Bisa jadi efek selalu merasa benar, menjadikan penilaian yang kita berikan selalu subjektif. Akhirnya yang tidak baik dianggap baik, seperti cermin yang merubah sisi kiri menjadi sisi kanan.( disarikan dari berbagai sumber Islami)

 

Leave a Response