Metro Bandung

Napak Tilas Cihapit Tempo Dulu

311views
farhan
Tour Cihapit Tempo Dulu. Foto: Humas Dilans Indonesia.

HARI Minggu 9 Oktober 2022 yang baru lalu , saya Presiden Dilans Indonesia  (Komunitas Disabilitas dan Lansia), dipercaya  memimpin  tour ke kawasan Cihapit  (Cihapit Tempo Dulu) yang dipandu  Komunitas Bandoeng Waktoe Itu (BWI).  Selain mendengar pencerahan tentang kawasan ini yang dimasa penjajahan Jepang (1942-1945) dijadikan kawasan tahanan sekitar empat belas ribu perempuan dan anak, saya memanfkan waktu sekalian melakukan audit aksesibilitas trotoar dan jalan di sekitar jalan Aceh bawah, Taman Pramuka, jalan RE Martadinata, dan kembali ke jalan Cihapit.

Kawasan ini belum banyak dituliskan walaupun jejak masa lalunya nampak dari  bangunan dan taman. Beberapa artifaks masih terpelihara dengan baik. Kawasan ini sekarang tumbuh menjadi kawasan kuliner baik kelas jalanan (street food) maupun Restaurant dan Cafe dengan segala jenis makanan, gedung pertemuan, hotel/penginapan rumahan yang masih dipelihara keasliannya.

Secara emosional saya terikat dengan kawasan, tempat main semasa SD. Banyak kawan-kawan  yang lahir dan besar di kawasan ini. Kawasan yang terkenal di tahun 70-an sebagai kawasan genk anak muda kolong (anak-anak keluarga tentara Siliwangi) namanya “Patorados” singkatan nama Jalan: Patrakomala, Tongkeng, Gandapura dan Manado). Jalan-jalan yang mengelilingi kawasan ini.

Semasa mahasiswa dan pasca mahasiswa kawasan ini juga menjadi tempat saya bergerilya dari pintu ke pintu semasa Orde Baru untuk memperbincangkan gagasan-gagasan progresif dari pengalaman dan pengetahuan banyak buku dan rujukan yang terpaksa dibaca sembunyi-sembunyi. Konon di masa lalu bila ketahuan, bisa panjang urusannya berhadapan dengan aparat keamanan,  dituduh subversif.

Selesai tour saya meluangkan waktu ngobrol santai tapi serius dengan Kang Ojel Sansan Yusandi, dan aktivis BWI. Yang terpikir mendorong siapapun untuk menuliskan sejarah otentik Bandung yang mungkin tidak terungkap di banyak buku sejarah yang kita baca dan koleksi selama ini.

Terlampau sedikit yang dituliskan. Bandung punya tradisi intelektual pergerakan yang luar biasa hingga kini. Di cafe-cafe , baik yang ada di kawasan elit maupun di lorong-lorong di tengah dan pinggiran kota sering di jumpai banyak komunitas, tidak hanya anak-anak milenial tapi juga lintas generasi. Cafe bukan lagi sekedar tempat melepas lelah atau co-working space untuk membuat proposal, tetapi memperbincangkan berbagai gagasan progresif memperbaiki keadaan sekeliling.

Barangkali ini yang membuat saya jatuh cinta dengan kota ini. Upaya-upaya untuk menyeragamkan pemikiran atau apapun, entah berbasis agama, ras, ataupun identitas lainnya dalam hematnya pasti akan mentok. Tradisi keragaman pemikiran sudah berakar lama. Kalaupun tidak terpantau di permukaan, energinya terlihat di akar rumput.

Diakui atau tidak, jejak sejarah kota ini penuh dinamika keberagaman yang terlihat dari banyak tokoh pergerakan kemerdekaan di masa lalu yang mempunyai cara pandang pemikiran yang beragam: kiri, tengah, kanan ada semua di kota ini. Sebut saja ada Dewi Sartika, Bung Karno, Tan Malaka, Kartosuwiryo, Ibu Inggit dan banyak lagi yang pernah menghiasi pergerakan di tanah air. Pun generasi setelahnya yang masih aktif hingga kini.

Di sore hari saya menyempatkan menelusuri kawasan sekitar jalan Merdeka dan jalan Aceh.” Alhamdulillah, trotoar yang berubah fungsi menjadi kawasan parkir, sekarang terlihat berfungsi kembali seperti seharusnya. Mudah-mudahan untuk seterusnya” .

Saya sangat menaruh perhatian agar aksesibilitas di galeri legendaris ini inklusif,  Karena Saya ingin mengajak kawan-kawan, warga penyandang disabilitas untuk menikmati berbagai aktivitas kesenian dan kebudayaan dan juga berbagai karya hebat para seniman Indonesia, khususnya Jawa Barat. Mustahil bisa diajak, karena akan merepotkan banyak orang seperti yang ia alami, digotong kala memasuki gedungnya.

Kehadiran Ridwan Kamil Gubebur Jabar di GPK Naripan menambah nutrisi baru, karena segera bangun akses jalan khusus disabilitas akan lebih mudah dan nyaman berada di gedung pusat kebudayaan itu.   Kalau  terwujud lengkaplah sudah aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia. Sebelumnya trotoar, “guiding block” dan “ramp”nya di perbaiki oleh Kang Didi Ruswandi  dan jajarannya di Dinas Sumberdaya Air dan Bina Marga, Pemkot Bandung. ** (Farhan Helmy)

Leave a Response