Pendidikan

Lubna GD Bertutur Tentang  Mundinglaya Dikusumah

246views

LUBNA Ghaida Salsabila Kelas V SD BPI Kota Bandung begitu bangga tampil bertutur di depan Ny. Hj. Dra. Yuminar Yana Mulyana Ketua Pokja Literasi yang juga istri Walikota Bandung, H. Yana Mulyana. Ketika itu Lubna membawakan cerita Mundinglaya Dikusumah. Berikut cerita yang dibawakan Lubna.

Pada jaman dahulu kala Raja Pajajaran, Prabu Silihwangi, memiliki dua orang istri, yaitu Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati yang menjadi permaisuri. Dari Nyimas Tejamantri, Prabu Silihwangi mendapat seorang anak yaitu Pangeran Guru Gantangan. Sedangkan dari permaisuri Nyimas Padmawati, raja memperoleh anak yang diberi nama Mundinglaya. Perbedaan umur antara pangeran Guru Gantangan dan Pangeran Mundinglaya lumayan jauh. Ketika pangeran Guru Gantangan ditunjuk menjadi Bupati di Kutabarang dan sudah menikah, Mundinglaya masih anak-anak.

Dikarenakan tidak mempunyai anak, Pangeran Guru Gantangan tertarik untuk merawat Mundinglaya sebagai anak. Ketika ia memintanya kepada permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri mengijinkan karena mengetahui kalau Pangeran Guru Gantangan sangat menyayangi Pangeran Mundinglaya. Selain itu Pangeran Guru Gantangan juga mengangkat seorang anak lain yang diberi nama Sunten Jaya.

Ketika Pangeran Mundinglaya beranjak dewasa, Pangeran Guru Gantangan lebih menyayangi Pangeran Mundinglaya daripada Pangeran Sunten Jaya. Hal ini disebabkan perbedaan karakter keduanya yang sangat jauh berbeda. Pangeran Mundinglaya selain rupawan juga baik budi pekertinya sedangkan Pangeran Sunten Jaya sifatnya angkuh dan manja. Hal ini sangat membuat iri Pangeran Sunten Jaya. Terlebih lagi, ibunya juga sangat menyayangi Pangeran Mundinglaya.

Dikarenakan perhatian istri Pangeran Guru Gantangan kepada Pangeran Mundinglaya sangat berlebihan, hal ini membuat Pangeran Sunten Jaya cemburu. Akhirnya Pangeran Mundinglaya dijebloskan ke dalam penjara karena hasutan saudara tirinya itu dengan alasan bahwa Pangeran Mundinglaya mengganggu kehormatan wanita. Keputusan ini menjadikan masyarakat dan bangsawan Pajajaran terpecah dua, ada yang menyetujui dan ada yang menentang keputusan karena khawatir akan  terjadi kekacauan pada ketentraman kerajaan karena danya permusuhan antar saudara.

Pada saat suasana yang mengkhawatirkan ini berlangsung, terjadi sesuatu yang aneh yang dialami oleh permaisuri Nyimas Padmawati. Dalam tidurnya, permaisuri bermimpi melihat tujuh Guriang, yaitu mahluk yang tinggal di puncak gunung. Di antara mereka ada yang membawa jimat yang disebut Layang Salaka Domas. Permaisuri mendengar perkataan Guriang yang membawa jimat tersebut: “Negeri Pajajaran hanya akan bisa tenteram jika ada seorang kesatria yang dapat mengambil Layang Salaka Domas dari Jabaning Langit.”

Ketika terbangun di pagi harinya, permaisuri menceritakan mimpi itu kepada raja. Prabu Silihwangi sangat tertarik oleh mimpi permaisuri dan segera meminta seluruh rakyat juga bangsawan, termasuk Pangeran Guru Gantangan dan Pangeran Sunten Jaya, berkumpul di depan halaman istana untuk membahas mimpi permaisuri. Setelah seluruhnya berkumpul dan menceritakan mimpi permaisuri, raja bertanya: “Apakah ada di antara kalian,  para kesatria, yang berani pergi ke Jabaning Langit untuk mengambil jimat Layang Salaka Domas?”

Singkat cerita, Prabu Silihwangi menobatkan pangeran Mundinglaya sebagai raja Pajajaran menggantikan dirinya dengan gelar Mundinglaya Dikusumah. Tidak lama setelah dinobatkan menjadi raja, Mundinglaya Dikusumah menikahi Dewi Kinawati dan menjadikannya sebagai permaisuri.  Pajajaran menjadi negara yang adil makmur dan aman sentausa. **(rm/bp)

Leave a Response